Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Di Batas Lelah, Cerita Pendek Karya Ahmad Amroe

Redaksi KP • Senin, 15 September 2025 | 09:10 WIB

 

 

Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Penampilannya bersahaja. Rambut bersisir rapi, lebih suka bercelana pendek, ramah pada siapa saja. Selalu tersenyum, mungkin itu bagian dari kebiasaannya yang tak pernah hilang. Senyum yang di mata Tuhan adalah bernilai sedekah.

Dani, itu namanya dan begitulah sebagian besar orang mengenalinya. Dia adalah sepupuku. Ibunya adalah kakak kandung ibuku. Saat aku tinggal bersama kakek dan nanang (bahasa Banjar, berarti paman) di Makassar, aku sering melihatnya. Saat itu aku berusia 11 tahun dan masih kelas 5 SD (Sekolah Dasar).

Dani termasuk cucu yang rajin bersilaturahmi ke rumah kakek dan keluarga. Entah senggang ataupun lagi berkepentingan dengan orderan jahitan bersama nanang. Ya, dia dan nanang adalah sesama penjahit. Di keluarga kami, hal yang lumrah, saat ada yang berkelebihan orderan jahitan lalu berbagi.

Dari dia pula, aku mengenal istilah 'iwak karing'. Dalam bahasa Banjar, berarti ikan kering. Itu denotasinya. Tetapi dalam makna konotasi, dia mengartikan, orderan celana panjang yang cuma potong kaki karena ukuran yang kepanjangan. Aku tak tahu persis definisinya. Tetapi, bisa jadi itu karena ongkosnya cuma cukup untuk beli ikan kering. Meski begitu, toh di sebagian kalangan, ikan kering adalah salah satu menu lezat bila berpasangan dengan ketan atau dicampur dalam sayur asam.

Maka, meski kala itu terkadang orderan 'iwak karing' yang lebih banyak didapat, aku tetap melihat keceriaan di wajahnya. Begitupula dengan nanang. Ya, bila orderan banyak, bukankah iwak karing tadi bisa menjelma menjadi ikan bandeng, ikan kakap, ayam atau bahkan daging sapi di meja makan? Di luar 'iwak karing', orderan dengan ongkos yang memuaskan pun sering menangguk keceriaan sepanjang hari. Menambah kebahagiaan angan-angan akan bersantap makanan apa nanti di meja makan.

Dan hasilnya, nasi kuning, sate, sop ayam, atau coto Makassar hadir sebagai hidangan, pelengkap kepuasan tadi. Itulah mungkin dinamikanya. Hari-hari tetap dilalui dengan optimisme; hari ini Insya Allah lebih baik dari kemarin. Sebuah ungkapan yang abadi sebagai pemompa semangat hidup setiap manusia.

Terakhir aku bertemu dengannya saat aku sendiri mengantarkan undangan Aqiqah anak pertamaku. Kebetulan acaranya diadakan di Makassar karena istriku orang Makassar. Ya, sejak tamat sekolah 1996 silam, aku meninggalkan kota kelahiranku itu dan hijrah ke Samarinda untuk mencari rezeki. Hingga kemudian ditakdirkan berkeluarga.

Bertahun tak bersua, membuat aku bertekad menemukannya meski berbekal alamat yang kurang akurat. Bertanya sana-sini. Menoleh kesana-kemari. Akhirnya, bertemu juga di rumah sewaannya yang baru. Cukup jauh dari jalan raya dan keramaian. Cukup wajar pula bila akhirnya berimbas pada angka-angka validasi kehidupan perekonomiannya.

Mencium tangannya karena usianya lebih tua dan memeluknya membuat aku merasakan kelegaan tersendiri karena menemukannya siang itu. Guratan garis wajah yang mulai menua serta deretan uban di rambutnya makin menyiratkan usianya. Meski keceriaan di wajahnya itu tidaklah seterang di masa lalu, mungkin ini hal yang lumrah saat bertahun lamanya berbenturan garis kehidupan yang makin keras dan menekan siapa saja.

Hingga di usianya yang menginjak 50 tahun lebih, Dani masih saja betah membujang. Entah apa yang menjadikannya seperti ini. Aku masih ingat kala aku sudah lulus SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), terdengar kabar Dani akan menikah. Aku sudah pindah ke Samarinda kala itu. Hanya bisa menyimak kabar bahagia itu saja dari kejauhan.

Tentu saja saat itu keluarga begitu gembira karena akhirnya Dani akan memiliki pendamping hidup. Namun sayangnya acara pernikahan yang begitu lancarnya berproses dari ijab kabul hingga resepsi, tidak disertai kemulusan momen selanjutnya. Usai resepsi, sang mempelai wanita bergegas pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas ataupun konflik pemicunya.

“Sampai sekarang dia belum juga kembali, Yud. Ya sudahlah. Mungkin sudah takdir,” ucap Dani dengan pandangan yang menerawang saat kusempatkan bertanya perihal kebenaran kabar itu. Dia sejenak tertunduk dan menghela nafas panjangnya. Aku pun segera mengganti tema pembicaraan agar bias duka dan kecewa masa lalunya itu pun berlalu.

Orderan jahitan tidaklah sebanyak dulu. Begitu keluhnya saat kutanya perkembangan usaha jahitannya. Namun itu tidaklah membuatnya melupakan rasa syukur. “Masih bisa makan hari ini dan masih ada tersisa untuk dimakan besok, itu sudah cukup melegakan, Yud. Patut disyukuri. Itu berarti cuma segitu rezeki kita saat ini. Entah besok. Entah lusa. Kita tak tahu. Benar ‘kan, Yuda?,” ujarnya bijak. Aku mengangguk memahami. Aku hanya bisa mengiyakan sembari memandangi wajah lelahnya. 

Dia bercerita baru saja sembuh setelah melalui pergulatan panjang melawan penyakit hipertensinya yang tak bisa diprediksi. Bermacam obat resep dokter sudah ditenggaknya. Berbagai obat herbal maupun tradisional sudah dicobanya. Bahkan terapi sekali pun dijalaninya. Hasilnya juga beragam. Meski tak benar-benar menyembuhkannya, dia tetap berusaha untuk terus berobat.

Dia bertutur panjang lebar soal penyakitnya ini, bahkan di suatu malam di puncak deritanya itu dia menggambarkan bakal kalah dan pergi untuk selamanya. Tetapi, Tuhan memberinya jawaban lain; kemampuan untuk melewati dan bertahan hidup.

Di momen perjumpaan terakhir kami itu, dia masih menyiratkan semangatnya. Aku tersenyum. Banyak rasa yang bergelayut di hati untuk menerjemahkannya tetapi aku yakin, dia orang yang istimewa. "Mungkin aku tak bisa hadir di acara anakmu, Yud .. tapi yang terpenting doanya kan," bisiknya.

Aku mengangguk, tersenyum. Aku mengerti dan mesti memahami kondisi dan kehidupannya saat ini. "Kalau begitu, aku berharap doanya, Kak .. Semoga berkah," jawabku. Kami sama-sama tersenyum.

Aku kemudian menggali kembali kisah-kisah kehidupan keluarga sebagai bahan obrolan dengannya. Membawanya berselancar dalam nostalgia untuk melupakan sejenak deritanya saat ini. Tawa kami mulai memenuhi ruangan saat terselip momen jenaka yang kami alami bersama. Bahkan kisah duka pun serasa ikut hadir sebagai pewarna kerinduan kami akan kehidupan masa lampau, yang tak juga ringan untuk dijalani.

Menertawakan kepolosan dan keluguan kami menghadapi hidup, yang nyaris menggilas sendi-sendi ekonomi keluarga. Hanya bertahan tanpa lelah adalah pilihan terakhir kami dalam menjalaninya. Dan terus yakin bahwa masih ada hari esok yang mungkin masih bisa memberikan harapan.

Tujuh bulan berlalu dari momen itu, kabar duka pun aku dapat dari sepupu lainnya di Makassar. Dani meninggal dunia. Kesedihan dan kenangan masa lalu berpendar di ingatan dan hati. Saat melihatnya datang dengan bersepeda ontel ke rumah kakek dengan bawaannya. Kalau tidak beberapa potongan jahitan, ya makanan untuk dibagi pada kami. Dan, saat melihatnya memunggungi kami untuk bergegas pulang ke rumahnya. Masih dengan mengayuh sepeda ontelnya menyusuri jalan hingga tak terlihat lagi di mata.

Dinginnya hembusan angin malam menyentuh kulitku, seakan meraba kedalaman kesedihanku yang tengah terbalut sekumpulan kenangan masa lampau. Membelit rangkaian lembaran ingatanku tentang perjuangan hidup di masa lalu. Bergetar bibir ini bergerak saat hanya gumam yang mampu terucap. Selamat jalan saudaraku. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT dan diampunkan segala kekhilafan semasa hidup.  Aamiin. (*)

Editor : Duito Susanto