HARI itu, langit menunjukkan warna biru yang tenang seolah baru saja dicuci dari sisa-sisa mimpi semalam. Mentari belum sepenuhnya naik, tapi sinarnya sudah cukup untuk membuat daun-daun pada pepohonan di pinggir jalan berkilauan.
Di sebuah bangunan sederhana yang dikenal sebagai bengkel aroma sedang mengadakan workshop pembuatan parfum dengan campuran dari beberapa bunga, buah, dan sedikit citrus, menciptakan suasana menenangkan.
Widya sedang berdiri dekat meja kayu tempat berbagai botol kecil berjajar bening, mungil, dan masing-masing menyimpan rahasia wewangian. Ia baru saja memulai sesi pelatihan pembuatan parfum sebagai bagian dari hobinya terhadap wewangian. Baginya, aroma adalah cara halus untuk menyampaikan tentang kenangan, tentang seseorang, atau tentang rasa yang belum sempat terucap.
Baca Juga: Dua Arah Pulang, Cerita Pendek Karya Bella Sapitri
Saat ia berkonsentrasi pada adonan wewangian di depannya, seseorang masuk tergesa-gesa namun tetap tampak santun. Seorang pria dengan rambut sedikit berantakan, mengenakan kemeja putih sederhana dan membawa buku catatan kecil. Ia memperkenalkan dirinya dengan sebuah senyum yang begitu ramah.
“Perkenalkan namaku Vanzi,” ujarnya.
Widya menatapnya sejenak cukup untuk melihat kehangatan pada matanya.
“Nama saya Widya,” sahutnya singkat dengan senyum tipis.
Pelatihan dimulai dengan pengenalan materi dasar pembuatan parfum. Mereka berdiri berdekatan, masing-masing memegang sebatang bloter kertas kecil penyerap aroma. Mentor meminta mereka saling bertukar blotter paper yang mereka pegang. Ketika Widya menyerahkan blotter paper beraroma vanilla ke tangan Vanzi, tangan mereka tak sengaja bersentuhan. Singkat, ringan, namun cukup membuat jantung Widya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aromanya manis,” ujar Vanzi.
Widya hanya mengangguk, menyimpan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Workshop itu berlangsung hanya satu hari. Namun, waktu satu hari rupanya lebih dari cukup untuk membuat Widya merasa mengenal orang asing yang hadir seperti kejutan yang indah.
Ketika semua peserta hendak pulang, mereka bertemu kembali di persimpangan dan baru menyadari, ternyata mereka tinggal di jalan yang sama.
“Kamu ke kiri, ya?” tanya Vanzi, melihat Widya berhenti di persimpangan.
“Iya. Rumah saya sekitar tiga rumah dari belokan ini,” jawab Widya.
“Kalau aku lurus, lalu ke kanan. Yaaah, kita tetangga yang terpisah takdir oleh persimpangan,” candanya.
Mereka tertawa pelan sungguh pertemuan yang manis.
Sejak hari itu, persimpangan kecil itu menjadi tempat di mana takdir sering bercanda. Setiap pagi, mereka bertemu ketika berangkat kerja. Kadang Vanzi muncul lebih dulu atau Widya yang datang lebih cepat. Kalau beruntung, keduanya datang bersamaan, mereka akan melangkah bersama sambil mengobrol ringan.
Baca Juga: Hari-Hari Ungu Kembang Perawan
“Bagaimana proyekmu di kantor?” tanya Vanzi suatu pagi, sembari memegang cup berisi kopi.
“Masih sama. Banyak tugas, banyak deadline. Untung aroma terapi dari pelatihan kemarin bisa menenangkan,” jawab Widya.
“Mungkin kamu butuh aroma cinta agar harimu lebih ringan?” kata Vanzi sambil mengangkat alis.
Widya tertawa kecil, berusaha tampak santai meski dalam hatinya ia ingin memastikan arti dari kalimat itu.
Sore hari pun begitu. Di persimpangan itu, keduanya kadang berhenti sebentar hanya untuk bertukar kabar singkat. Ada kesederhanaan yang manis, semanis aroma vanila yang dulu mereka bagi. Dan semakin sering mereka berjumpa, semakin sulit bagi Widya untuk menolak rasa yang tumbuh pelan sehalus aroma yang melekat tanpa disadari.
Widya menyadari, ia mulai menunggu pertemuan itu. Ia memperhatikan langkahnya setiap pagi, menghitung kemungkinan untuk bisa sampai bersamaan dengan Vanzi. Ia mulai memerhatikan cuaca hanya untuk memastikan ia tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat. Jarak menuju persimpangan terasa seperti perjalanan menuju sebuah harapan, katanya dalam hati. Kadang Vanzi membawa bunga dari halaman rumahnya.
“Hanya bunga liar, tapi mereka tetap berusaha mekar,” katanya saat menyelipkan satu di tangan Widya.
Kadang ia bercerita tentang impian masa kecilnya yang ingin pembuka toko parfum sendiri dan menjadi penjual parfum terkenal.
Baca Juga: Sore Bersama Pacer
“Tapi sekarang, aku sudah melenceng jauh,” ucapnya sambil menatap ke arah langit.
Widya selalu menjadi pendengar dalam setiap percakapan itu, dan tanpa sadar tenggelam dalam perhatian kecil, senyum hangat, dan langkah yang seirama menuju persimpangan. Musim demi musim berganti. Perasaan Widya tumbuh seperti wangi yang awalnya samar, lalu menjadi nyata dan kuat. Perasaan itu mulai menuntut keberanian. Katakan sesuatu. Sebelum semuanya terlambat.
Suatu sore, langit tampak mendung seperti hati yang menahan rahasia. Widya berdiri lebih awal di persimpangan, menggenggam botol parfum kecil yang ia buat khusus dengan aroma campuran mawar dan sedikit cedarwood. Ia bermaksud memberikannya pada Vanzi sebagai tanda bahwa perasaan ini bukan sekadar ilusi.
Hari itu, ia sudah bulat. Ia ingin berkata “Saya menyukaimu, Vanzi. Saya menyimpan harapan di setiap langkah menuju persimpangan ini. Saya menunggu bukan karena semuanya adalah kebetulan, tapi karena saya tahu, kamu adalah sebuah tujuan.”
Ketika Vanzi muncul seperti biasa, Widya menarik napas panjang. Rambutnya tertiup angin. Jantungnya menderu seperti genderang perang. Dalam genggaman Vanzi terdapat sesuatu bukan bunga liar seperti biasa. Namun sebuah kartu undangan yang didekap hati-hati.
“Widya,” panggilnya lembut, seperti biasanya. “Aku baru saya ingin menuju rumahmu. Aku ingin memberikan ini.”
Vanzi menyerahkan undangan itu dengan senyum cerah yang Widya kenal dan kini terasa seperti cahaya yang menyilaukan sekaligus menyakitkan. Sebuah undangan pernikahan, tertulis nama Vanzi dan seorang wanita yang Widya tak kenali. Nama itu menari di depan mata Widya, menusuk setiap impian yang pernah ia simpan diam-diam.
“Dia sahabatku sejak kuliah,” jelas Vanzi tanpa menyadari badai yang bergulung di dada Widya. “Aku harap kamu bisa datang. Kamu salah satu teman yang membuat hari-hariku menyenangkan beberapa bulan ini,” tambahnya tanpa menyadari sekali lagi.
Widya berusaha tersenyum. Senyum yang rapuh seperti kaca tipis.
“Tentu. Saya akan datang, selamat ya,” katanya dengan kalimat yang keluar seperti aroma yang memudar nyaris hilang, tapi tetap memiliki jejak.
Dan tanpa sadar, ia menyembunyikan botol parfum di balik tubuhnya. Ia tak sanggup menyampaikan hadiah yang kini terasa seperti pengakuan yang tak lagi memiliki tempat. Mereka berpisah sore itu tanpa banyak kata. Vanzi ke kanan menuju masa depannya. Widya ke kiri menuju kesunyian yang memanggilnya.
Baca Juga: Riuh yang Tertinggal, Cerpen Karya Sahari Nor Wakhid
Sejak hari itu, persimpangan itu berubah. Ia masih ada, tetapi kehilangan cahaya pertemuan. Widya mulai mengatur jadwal berbeda, memajukan atau memundurkan waktu berangkat hanya agar tak bertemu Vanzi. Sementara Vanzi, mungkin tak menyadari perubahan itu atau pura-pura tak menyadari karena kehidupan sudah membawanya semakin jauh.
Setelah pesta pernikahan Vanzi yang penuh tawa malam itu, Widya kembali berdiri di tempat yang sama. Ia menatap lampu jalan yang menyala lembut, seperti mengusap luka hati yang masih baru. Ia mengeluarkan botol parfum aroma mawar dan sedikit cedarwood yang dulu ingin ia berikan. Ia membuka tutup botol itu perlahan, dan aroma itu melayang ke udara hingga menyentuh langit malam.
“Aroma ini,” bisiknya, “adalah cerita yang hanya bisa kusimpan.”
Widya meneteskan sedikit ke pergelangan tangan, lalu menutup botol itu kembali. Ia membiarkannya tetap dalam saku sebagai kenangan yang tak perlu dibuang, hanya disimpan tanpa harapan. Persimpangan sepi itu tiba-tiba terasa penuh. Penuh jejak langkah yang pernah berpadu sejalan. Dalam kesunyian itu, Widya menyadari bahwa tidak semua cinta harus memiliki ujung, tidak semua harapan harus menemukan tempat berlabuh, dan beberapa kisah memang ditakdirkan berhenti di persimpangan.
Ia menatap dua arah jalan yang bercabang, dan memilih pulang. Kembali ke arah kiri, seperti biasa. Namun kali ini, langkahnya lebih mantap. Karena ia paham meski hatinya sempat tinggal di tempat ini hidupnya harus tetap berlanjut. Widya melangkah pergi sambil membawa satu lagi kekuatan untuk melanjutkan kehidupan, meski harum kenangan masih menempel di udara. (*)
*)Wahdi Anwar, seorang pecinta bunga matahari yang lahir di Tenggarong pada 16 Juni 1996, adalah seorang pengajar matematika yang percaya bahwa angka dan logika bukanlah batas bagi imajinasi. Di sela kesibukannya mengajar, ia merawat setiap kata menyulap pengalaman, rasa, dan renungan menjadi puisi atau cerpen. Baginya, sastra adalah jembatan yang mempertemukan nalar dan juga rasa.
*)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak menoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.
Editor : Duito Susanto