Dokter Frank, Cerita Pendek Karya Ridwan Kamaludin

Redaksi KP • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 05:32 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

TIDAK ada lagi sendal-sendal di beranda. Orang-orang telah pergi meninggalkan rumah Teguh. “Begitu cepat nuansa berubah!” tegunnya sambil jemari membuka baju koko sebab badan basah oleh keringat. Kipas angin belum sempat diperbaiki.

Dua jam lalu, doa-doa tahlil hari ketujuh untuk mendiang ibunda, meriuh di kediaman sederhana pinggiran kota. Kini ia sendiri, membersihkan aroma tamu pada dinding kusam rumah, yang baginya kian bikin merasa sendiri —datang untuk pergi, melayat untuk meninggalkan selamanya. Prihatin pada yang tak bernyawa, abai pada yang bernyawa.

Tapi apa boleh dikata? Yang teringat dalam lamunan hanya: “Sabar, ya. Guh. Jangan sungkan minta tolong. Aku bukan hanya tetangga, kan? Kita sudah berteman sejak kecil. Hingga sekarang berusia tiga puluh. Ah, waktu...” tutur Ragil sambil mencium bocahnya yang tertidur di pangkuan. “Sekarang kamu yatim piatu. Anak tunggal pula. Ah, waktu…” tutupnya dengan perlahan dan hati-hati menaikan sang anak pada gendongan. Pamit.

Baca Juga: Duka dari Langit Berbeda, Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid

Telah selesai ia mengerjakan semua. Piring dan gelas telah dicuci bersih. Lantai telah dilap bersih. Namun beberapa bercak duka pada tiap sudut rumah, tak ubah —baginya— macam noda abadi.

Teguh berjalan lunglai, mengarah pada kamar sang ibunda. Ditelungkupkannya tubuh yang kurus pada kasur kapuk milik mendiang. Ia ciumi bantal beberapa kali, air matanya menetes. Kini ia rebah. Matanya menatap cahaya bohlam kuning. Bibirnya menyungging pahit. Serta merta tiba rasa terima kasih bergelora dalam dada, dipanjatkan kepada pejabat yang telah membiayai seluruh pengobatan sang marhum. “Entah jika tidak, mungkin aku bakal ikut mati karena mencari uang,” pikirnya.

Peristiwa satu minggu lalu, bukanlah sesuatu yang perlu diambil sedih dengan terlalu, apalagi sampai melarutkan diri pada kepapaan terus menerus. Apa dapat dikata, Teguh memang tahu sang ibunda bakal meninggal pada minggu pertama dari bulan kedua. Ia tahu pula penyebabnya; oleh suatu penyakit yang belum dapat diberi nama, yang memiliki tingkat mematikan melebihi kanker, yang hanya satu cara untuk menghilangkannya: operasi di luar negeri. Penyakit yang dapat diprediksi waktu renggutnya ini, telah juga menjalar di seluruh tubuhnya, warisan yang tak dapat dijual dari sang ibunda.

Baca Juga: Persimpangan, Sebuah Cerita Pendek Karya Wahdi Anwar

Walau biaya dari pejabat telah tersedia, tetap, bagi Teguh tak lebih hanya untuk menukar obat belaka. Butir tablet yang hanya dapat menahan panas tubuh dan susah tidur. Gundah hari turut mendorong telunjuk tangan kiri untuk menekan saklar, mematikan lampu. Pori-pori masih mengeluarkan butir keringat gerah.

Dalam gelap ruangan. Layar ponsel menyala, ia tengah menulis pesan digital, “Dok, baiklah. Saya akan mengambil keputusan. Apa dapat dikata lagi. Saya bakal ke tempat dokter lusa saat libur kerja. Dokter bisa jumpa?”

Tak lama pesan baru tiba, “Datang saja ke tempat saya, jangan lebih dari jam tiga sore, jangan kurang dari jam dua belas siang. Oke?! Saya tunggu.”

Teguh pun memejamkan mata dengan pikiran yang gaduh oleh dugaan-dugaan. Namun mantap hati telah ditegakkan. Pilihan mesti diambil. Sepanjang malam, dalam gelap mata tertutup, ia meyakinkan diri terus menerus untuk tetap tegap dengan sikap teks pesan yang telah kadung dikirim.

***

Teguh usreg, pantatnya tak nyaman oleh keras kursi tunggu berbahan besi di rumah sakit.  Ia mengenakan pakaian seadanya, mendekati lusuh. Walau bisa lebih necis, ia memilih uang hasil kerja tak disentuh sama sekali untuk keperluan yang tak mendesak. Ditabung demi keinginan menikahi sang kekasih, yang diketahuinya perlu biaya lumayan. Ia terbayang kipas angin, apakah akan digolongkan pada mendesak atau tidak? Tak berani menyimpulkan, ia menghitung dengan jari jemari, benerin-tidak-benerin-tidak-benerin-tidak…

Belum selesai pada kelingking, masih jempol lengan kedua, seorang perawat laki-laki mendatangi, wajahnya yang tanpa kerutan memberikan senyum ramah, “Atas nama Pak Teguh?”.

Baca Juga: Dua Arah Pulang, Cerita Pendek Karya Bella Sapitri

“Betul,” Teguh berdiri, membungkuk-bungkuk.

“Silakan masuk, Pak. Sudah ditunggu.”

Keduanya berjalan menuju ruangan yang di atas pintunya tertera nama: Dokter Frank.

Perawat membukakan pintu, mengangguk pada Frank, kemudian berlalu. Teguh masuk pada ruang yang telah disiapkan: lampu digelapkan, hanya satu cahaya proyektor yang mengarah tepat pada layar.

Frank yang berkepala pelontos dan sedikit bungkuk sebab usia, menjabat tangan Teguh, kemudian memberikan isyarat tangan untuk lekas duduk pada kursi yang disiapkan. Frank menekan tombol remot, tergambar di layar sebuah jaringan sel pada tubuh manusia. Teguh celingak-celinguk, “Apa ini? Pertemuan tempo hari tidak begini?!” tanya pada diri sendiri, tak berani disampaikan.

“Saya mengosongkan seluruh jadwal untuk pertemuan ini. Perkara ini memang khusus buat saya. Spesial. Apa kamu sudah yakin?” Frank mengelus kepala dan tersenyum. Sedang Teguh membatu, bau obat-obatan mengingatkannya pada mendiang yang hilang nyawa di tempat ini.

“Ibumu sudah diberi tawaran ini, tapi tidak mau. Ia tidak menganggap hidupnya harus diperjuangkan. Padalah punya anak. Aneh…”

“Bukan itu pokok perkaranya...”

Frank membuang napas panjang. Melihat jam pada dinding. Berdehem beberapa kali. “Lalu?”

“Mereka menganggap penyakit sebagai suratan takdir. Mereka mencintai takdir. Kalau saya…” tak yakin untuk meneruskan, tapi dipaksakan walau sedikit terbata-bata: “…eue…harus tetap hidup...eue…ada perempuan yang menunggu untuk dipinang…Seperti yang dokter sampaikan tempo hari, untuk terbebas dari penyakit ini hanya ada satu cara, operasi di luar negeri...”

Baca Juga: Hari-Hari Ungu Kembang Perawan

Kembali melihat jam pada dinding. Berdehem beberapa kali, lebih keras: “Dan ingat! Ada satu lagi. Operasi spekulasi karya saya! Eksperimental. Walau belum dapat legalitas…” raut wajahnya seketika muram, dilanjutkan: “…tapi lihat ini…” ia menampilkan ragam orang atas hasil operasinya.

Yakin. “Mereka semua sembuh!”

Teguh tampak kebingungan. “Ya, beginilah. Operasi ini dicap illegal karena kurangnya peralatan yang memadai. Dan eksperimen ini merupakan uji coba untuk mematangkan rumusan saya, biar nanti ku patenkan dalam proposal agar bisa membeli kecanggihan yang pasien butuhkan.” Dengan mengernyitkan bibir: “Biar legal!”

“Apakah tidak ada risiko selain yang dokter sampaikan tempo hari?”

“Tidak ada. Penyakit itu bakal sembuh tapi ada konsekuensi. Ada yang terenggut dan hilang. Sebab kurangnya kecanggihan alat-alat…”

Frank memperlihatkan video proses operasi. “Perhatikan. Pertama kehilangan indra fisik, kedua indra non fisik. Tinggal pilih…”

“Indra non fisik itu apa? Kalau membuat makan hambar, kuping tak mendengar, mata gelap, kulit kebas, saya tidak mau…”

“Semacam intuisi. Atau perasaan atau hati atau apalah kamu menyebutnya.”

“Bagaimana mungkin hidup tanpa perasaan?”

“Sungguh mungkin…”

Frank memutar video. “Ini semua pasien saya. Mereka hidup seperti biasa, mereka baik-baik saja. Lihat, ada yang menjadi bupati, manajer restoran, pengusaha. Semua aman-aman saja…”

Ia memberikan satu buku sambil mengganti tontonan. “Perhatikan ini kemudian hafal isi buku itu. Lihat, mereka yang telah melakukan operasi tampak wajar kan?”

Teguh membuka buku, membaca sekilas. “Saat melihat orang jaga kontak mata, beri senyum ringan dan jangan terlalu lebar. Jika berpapasan, beri angguk kecil (±15°), jika disapa, waktu jawab ≤ 1 detik, jangan terlalu lama. Tambahkan kata ‘siap, kamu keren’, bukan hanya ‘iya’, agar memberikan kesan ramah.”

“Aku sudah paham sekarang tentang indra non fisik yang kemarin bikin bingung. Sekarang aku yakin. Aku siap.”

***

Dua minggu sudah Teguh tak keluar rumah pasca operasi. Walau tak cukup masuk akal untuknya, dengan alasan berduka, ia diberi libur kerja oleh perusahaan melalui dalih “masih berkabung”. Sekarang adalah hari terakhir dan mulai boleh keluar rumah menurut instruksi Frank.

Siang terik dengan kipas angin yang masih rusak, tubuh yang berkeringat banyak itu tak lagi terganggu, ia seka dengan lap tanpa sedikitpun menggerutu. Bukan lagi suatu persoalan. Tangan kanannya memegang buku terakhir dan lembar terakhir yang bertuliskan aturan saat mengobrol.

“Jangan potong. Angguk tiap 3–5 detik. Saat dia selesai: Diam 1–2 detik.”

Setelah selesai menghafal semua buku: seni berbicara, seni bodo amat, seni berpikir, seni disenangi orang lain —yang diperintahkan Frank. Teguh kini berkaca, bersiap untuk pergi ke pemakaman anak Ragil. Bibirnya memantul lebar pada cermin, tangan mengelus perut sampai dada.

“Aku kini seorang yang tak lagi menyandang penyakit.” Pendek darinya, disambung dengan tertawa alakadar.

Di pekuburan, kebun bambu kecil yang hanya tersisa beberapa petak lagi untuk para calon mayat, tergambar nuansa kelabu dari tiap mimik wajah. Teguh memperhatikan seluruh keluarga menangis haru biru. Sebagian dengan geram dan muak. Sebagian pasrah dan berserah. Para tetangga geleng-geleng kepala, berbisik-bisik, “Ini tidak bisa dibiarkan!” kata satu orang.

“Ya. Betul!” sahut yang lain.

“Apa yang akan terjadi setelah ini?” tanya satu di antara kerumunan.

“Kita sudah menyusun rencana! Nanti sore berkumpul di balai desa,” tanggap yang lain.

Teguh pun tahu kini, kematian sang bocah disebabkan oleh peluru nyasar aparat. Yang bukan kali pertama menelan korban warga sekitar. Teguh mendekati Ragil yang telah selesai menginjak-injak tanah dan menancapkan padung. Melakukan sikap dari buku, Teguh mendekat, menepuk bahu Ragil tiga kali, mengelus-elusnya, seraya berkata, “Sabar, Gil. Yang dari tanah kembali ke tanah. Jangan gundah, jangan gusar, kita terima saja. Semua kita akan seperti ini, bukan?”

Ragil tak dapat menghentikan air mata keluar dari kelopaknya. ”Tidak, ini harus dibalas. Biar mereka tahu. Nyawa itu berharga. Mentang-mentang berpangkat, berlaku seenaknya. Kebal hukum. Mang Bargo yang empat tahun lalu kepalanya tertempel peluru, ingat? Tak ada pertanggungjawaban sama sekali.”

“Balas dendam hanya akan menjadi awal petaka. Membuat sambungan baru pada kemurkaan-kemurkaan lainnya. Terimalah suratan semesta.”

“Kami akan perkarakan ini. Ikut saja kamu berkumpul di balai desa nanti.”

Teguh berdiri, laksana public speaker yang terus-menerus ditontonnya dua minggu belakangan. Tubuhnya direka sedemikian rupa. Bicaranya lantang.

“Sudahlah. Maafkan. Apa susahnya? Hanya itu yang bisa kita kontrol. Diri sendiri. Lagi pula mati lebih bermanfaat. Mayat menjadi makanan belatung-belatung…Positif thinking…”

Setelah selesai semua yang dibicarakan, Teguh mendapat banyak bantahan, bahkan menjadi bahan olok-olok karena dianggap berpihak pada kesewenang-wenangan, sebagian mengira ia mata-mata yang menyusup untuk memecah belah suara massa yang bakal melaksanakan demonstrasi pada hari yang akan datang.

Di hari yang sama, saat malam tiba, Teguh menepati janji untuk bertemu dengan Iren, sang kekasih —yang baru saja kena marah atasan karena tidak bisa mencapai target penjualan. Di tempat makan sederhana, Iren mengeluhkan segala yang tak dapat disampaikan di tempat kerja.

“Bagaimana mungkin mudah menjual tanah di zaman sekarang? Jelas sulit kalau targetnya perorangan dan anak muda pula! Satu-satunya cara hanya mengandalkan para pembesar. Tapi masalah lain muncul, mereka pebisnis selalu mempertimbangkan lokasi…”

Tubuh Teguh serta merta secara otomatis melakukan apa yang dihafal, yang kini telah menjadi prosedur hidup. Ia memeluk. Bibirnya mencium kening Iren. Tangannya mengelus-elus punggung.

“Apa ini?” Iren mendorong Teguh. Mundur beberapa langkah. Mengambil jarak.

“Memangnya kenapa? Kita kan pacaran?”

“Tapi aku tidak pernah membiarkan seorang laki-laki yang bukan mahram memelukku. Oleh sebab itu aku memilihmu…”

Teguh kebingungan, tak tahu harus berlaku apa. Tidak ada lagi spontanitas. Yang keluar dari mulut hanya: “Maaf, aku akan mengoreksi diri dan tumbuh lebih baik lagi.”

Iren tak menjawab. Raut wajahnya menyimpan waswas, tubuhnya semakin bersiaga. Matanya mengawas tajam.

“Aku sudah sembuh dari penyakit. Aku juga sudah mempunyai tabungan seperti yang kamu tahu. Dan seperti yang tempo hari kita bicarakan…”

Iren memotong dengan kesal yang tampak telah mereda. “Tapi jangan lakukan hal itu lagi sebelum menikah! Kalau sudah menikahpun. Bilang-bilang dulu. Aku tak terlalu suka disentuh.”

“Maaf, aku akan mengoreksi diri dan tumbuh lebih baik lagi.”

“Dan satu lagi. Kamu tentu ingat apa yang aku tidak suka?! Aku ingin semua itu dilakukan. Jangan sampai terjadi. Salah satunya seperti tadi!”

Taguh tercenung. Menimbang-nimbang. Apa yang tidak disukai sang kekasih seluruhnya berkaitan dengan perasaan dan keluesan. Ia berencana untuk mengirim pesan malam ini pada Dokter Frank. Entah soal apa. (*)

 

*)Ridwan Kamaludin tinggal di Bandung. Mulai aktif menulis saat terlibat di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Daunjati ISBI Bandung. Belakangan waktu, fokus menulis fiksi, khususnya Cerpen. Beberapa cerpen telah dimuat di media digital lokal, serta sempat terpilih untuk menjadi tamu dalam pameran sastra di salah satu universitas negeri di Indonesia. Selain cerita pendek, pada tahun 2022, lakonnya dengan judul “limPung temPurung” menjadi naskah yang dipertimbangkan (13 terpilih dari 46 pengirim) untuk diterbitkan oleh Kalabuku dalam bentuk antologi.

*)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.

Editor : Duito Susanto
karya sastra Ridwan Kamaludin Dokter Frank sastra kaltim post cerpen