Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Resep Sukses Era Digital di Digital Youth Summit 2025, Habiskan Kuota Gagal hingga Bangun Personal Branding

Maria Irham • Rabu, 9 Juli 2025 | 23:45 WIB

PENCERAHAN: Panel diskusi yang dimoderatori oleh Talitha Aufa, Putri Indonesia Intelegensia Kaltim 2023 dan Aris dari BEM Universitas Mulia ini menjadi puncak pencerahan bagi para mahasiswa.
PENCERAHAN: Panel diskusi yang dimoderatori oleh Talitha Aufa, Putri Indonesia Intelegensia Kaltim 2023 dan Aris dari BEM Universitas Mulia ini menjadi puncak pencerahan bagi para mahasiswa.
 

BALIKPAPAN — Rasa takut gagal masih menjadi momok utama bagi mahasiswa yang ingin terjun ke dunia bisnis digital. Hal itu terungkap dalam Digital Youth Summit 2025, yang digelar 19 Mei lalu di Balikpapan. Lewat forum diskusi interaktif, para narasumber membagikan kiat nyata agar generasi muda berani memulai langkah pertamanya.

Acara ini dipandu Talitha Aufa, Putri Indonesia Intelegensia Kaltim 2023, bersama Aris perwakilan BEM Universitas Mulia. Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Rifandi Tama (profesional public speaking), Kevin Laoh (content creator), dan Wirangga (praktisi digital marketing).

Tama menekankan bahwa kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar. “Kebanyakan dari kita sudah kalah sebelum bertanding karena takut salah, takut di-judge, takut diketawain,” kata Tama di hadapan ratusan mahasiswa.

Ia bahkan menantang peserta untuk melihat kegagalan sebagai “kuota” yang harus dihabiskan. “Bagaimana kita tahu kalau itu salah, kalau kita enggak pernah coba? Habiskan kuota gagalmu, nanti yang tersisa hanya keberhasilan,” ujarnya, menjawab pertanyaan Vanessa, seorang mahasiswi yang mengaku sering minder.

Tama juga menambahkan, kepercayaan diri tidak bisa ditunggu muncul begitu saja. “Bangun percaya diri dengan latihan, kuasai materi, perbanyak jam terbang. Jangan tunggu bola datang, kadang kita yang harus jemput bolanya,” tegasnya.

Sementara itu, Kevin Laoh memaparkan pentingnya membangun personal branding. Menurutnya, citra diri di media sosial kini setara dengan curriculum vitae (CV) yang dilihat calon mitra atau perusahaan.

“Personal branding bukan cuma buat selebgram. Gimana kamu mau dapat kerja kalau di sosmed kamu aja mati?” tantang Kevin. Ia juga menyarankan mahasiswa memanfaatkan fitur iklan digital berbiaya rendah untuk memperluas jangkauan audiens. “Mulai dari Rp15 ribu sudah bisa, yang penting kontennya otentik,” jelasnya.

Jangan Gegabah, Pahami Strategi Pemasaran

Pertanyaan soal bagaimana mengubah hobi jadi cuan juga muncul dari Mutia, salah satu peserta. Menanggapi hal ini, Wirangga menjelaskan perlunya strategi pemasaran yang terencana. Ia mengenalkan konsep marketing funnel, mulai dari tahap membangun awareness hingga mengubahnya menjadi penjualan.

“Mulai aja dulu, tapi jangan gegabah. Kita harus punya peta. Promosi bukan cuma sebar info, tapi membangun kepercayaan calon pelanggan,” katanya.

Diskusi selama hampir dua jam ini ditutup dengan semangat bahwa kunci sukses di era digital bukan hanya keberanian mencoba, tetapi juga strategi yang cerdas dan identitas digital yang kuat. “Digital Youth Summit ini semoga jadi pencerahan, semoga kita enggak cuma pulang bawa catatan, tapi juga berani ambil langkah pertama hari ini,” pungkas Talitha. (adv/UM/mra/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#Universitas Mulia #Digital Youth Summit #bem