BALIKPAPAN — Proyek pengembangan kilang RDMP Balikpapan dinilai menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyerapan tenaga kerja dalam skala besar selama fase konstruksi berlangsung. Di titik puncak pekerjaan (peak construction), jumlah pekerja yang terlibat cukup besar.
Kepala Disnaker Balikpapan, Adamin Siregar, mengatakan besarnya kebutuhan tenaga kerja pada masa pembangunan proyek memberikan dampak positif angka pekerja di Balikpapan.
Menurutnya, proyek strategis nasional tersebut telah menciptakan efek ekonomi berantai, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat hingga terbukanya peluang kerja bagi tenaga kerja lokal di berbagai bidang teknis industri.
“Pada fase konstruksi, kebutuhan tenaga kerja memang sangat besar, hingga 24 ribu pekerja, karena pekerjaan fisik dilakukan secara masif. Ini memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja lokal,” ujarnya.
Meski demikian, Disnaker menilai masyarakat juga perlu memahami bahwa karakter proyek konstruksi bersifat dinamis dan mengikuti tahapan pekerjaan. Ketika sejumlah paket pekerjaan selesai, maka kebutuhan tenaga kerja pun secara bertahap akan menurun.
Sebagian besar pengelolaan tenaga kerja di proyek tersebut berada di bawah kewenangan kontraktor pelaksana, sehingga fluktuasi jumlah pekerja menjadi hal yang wajar dalam siklus proyek industri berskala besar.
Namun di balik berkurangnya kebutuhan tenaga kerja konstruksi, Disnaker melihat RDMP meninggalkan warisan penting berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.
Ribuan pekerja disebut telah memperoleh pengalaman industri migas berskala besar sekaligus peningkatan kompetensi di berbagai bidang teknis seperti welding, piping, scaffolding, electrical, mechanical, commissioning, hingga penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal strategis bagi tenaga kerja lokal untuk bersaing pada proyek-proyek industri lain, termasuk sektor energi dan manufaktur yang terus berkembang di Kalimantan Timur.
Saat ini, proyek RDMP mulai memasuki fase operasi. Pada tahap ini, kebutuhan tenaga kerja dinilai lebih ramping dibanding fase konstruksi, namun menuntut kompetensi yang lebih spesifik dan berbasis teknologi operasi kilang modern.
Kebutuhan tenaga kerja operasional ke depan diperkirakan lebih banyak difokuskan pada sektor operasi kilang, maintenance, instrumentasi, serta jasa penunjang industri lainnya.
Karena itu, Disnaker Balikpapan mendorong adanya komitmen prioritas bagi tenaga kerja lokal yang telah memiliki pengalaman di proyek RDMP agar dapat terserap pada fase operasional.
Selain itu, pemerintah juga menekankan pentingnya program reskilling dan upskilling guna menyiapkan tenaga kerja menghadapi kebutuhan industri yang semakin kompetitif.
Program peningkatan kompetensi tersebut direncanakan dilakukan melalui pelatihan Disnaker, kerja sama dengan balai pelatihan, hingga program pemagangan bersama perusahaan-perusahaan di Balikpapan sesuai bidang yang relevan.
Disnaker menilai langkah tersebut penting agar momentum ekonomi dan peningkatan kualitas SDM yang tercipta dari proyek RDMP dapat terus berlanjut, sekaligus memperkuat daya saing tenaga kerja lokal di tengah transformasi industri energi nasional.
“PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) menyambut baik dukungan Pemerintah Kota Balikpapan melalui Disnaker dalam mendorong penguatan kompetensi tenaga kerja lokal, khususnya dalam menghadapi transisi dari fase konstruksi menuju fase operasi RDMP Balikpapan. Selama masa konstruksi, proyek ini tidak hanya menjadi penggerak ekonomi daerah melalui penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan transfer kompetensi bagi ribuan pekerja lokal di berbagai bidang teknis industri,” ujar Vice President Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman.
Ia menambahkan, pengalaman yang diperoleh para pekerja selama proyek berlangsung menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing SDM lokal di sektor industri energi dan manufaktur.
Memasuki fase operasi, kebutuhan tenaga kerja memang akan lebih spesifik dan berbasis kompetensi operasional kilang modern. Karena itu, KPB terus mendukung pengembangan program pelatihan, reskilling, dan upskilling agar tenaga kerja lokal memiliki kesiapan sesuai kebutuhan industri ke depan. (*)
Editor : Ismet Rifani