Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

PII Perluas Diplomasi Keinsinyuran di Tiongkok, Dorong Kolaborasi Energi dan Pengakuan Profesi

Akbar Sopianto • Senin, 13 Juli 2026 | 14:43 WIB
PERERAT: Dari kiri, Ms Zhang Yiyan, Dr Ir Agus Wiramsya Oscar, Zhao Yong dan Arief Koeswanto pose bersama pererat hubungan antar komunitas insinyur global.
PERERAT: Dari kiri, Ms Zhang Yiyan, Dr Ir Agus Wiramsya Oscar, Zhao Yong dan Arief Koeswanto pose bersama pererat hubungan antar komunitas insinyur global.

KALTIMPOST.ID, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) memperkuat jejaring kerja sama internasional melalui keikutsertaannya dalam 2026 Engineering Capacity Building Program (Energy and Power) yang digelar Chinese Society of Engineers (CSE) di Kota Beihai, Provinsi Guangxi, Tiongkok, pada 5–9 Juli 2026.

Forum tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus memperluas kolaborasi di bidang energi, teknologi, dan pengembangan profesi insinyur.

Delegasi PII yang hadir terdiri atas Dr Ir Agus Wiramsya Oscar dan Ir Arief Koeswanto.

Selama empat hari, keduanya mengikuti kuliah, diskusi teknis, hingga sesi berbagi pengalaman mengenai pengembangan energi, sistem ketenagalistrikan, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan peningkatan kompetensi insinyur profesional.

Peserta komunitas insinyur yang hadir dalam program energy and power.
Peserta komunitas insinyur yang hadir dalam program energy and power.

Program Officer Sekretariat Chinese Society of Engineers (CSE), Zhang Yiyan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasinya untuk memperkuat kerja sama internasional melalui pengembangan kapasitas insinyur secara berkelanjutan.

“Program ini memiliki tiga misi utama, yakni memperkuat kerja sama internasional di bidang keinsinyuran, membangun platform pembelajaran bersama bagi para insinyur dunia untuk berbagi teknologi dan praktik terbaik, serta mempererat hubungan antarkomunitas insinyur global,” ujarnya.

Menurut Zhang, pendekatan Continuing Professional Development (CPD) diharapkan mampu membekali para insinyur dengan pengetahuan, keterampilan, dan perspektif internasional sehingga siap menghadapi tantangan perkembangan teknologi sekaligus mendorong kemajuan sektor keinsinyuran dunia.

Selain agenda akademik, peserta juga mengikuti kegiatan pertukaran budaya melalui sesi ice breaking yang menampilkan pertunjukan barongsai. Kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat komunikasi lintas budaya sekaligus membangun hubungan profesional antarpeserta dari berbagai negara.

Salah satu agenda utama program adalah kunjungan teknis ke Shenhua Power Plant atau Guoneng Guangtou Beihai Power Generation Co., Ltd.

Pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara bersih itu merupakan salah satu yang terbesar di Provinsi Guangxi dengan kapasitas terpasang mencapai 4 gigawatt (GW).

Dalam kunjungan tersebut, peserta mempelajari penerapan teknologi supercritical coal-fired generating units yang mampu meningkatkan efisiensi termal sekaligus menekan konsumsi bahan bakar dan emisi.

Delegasi juga diperkenalkan pada sistem operasi terintegrasi yang menghubungkan pembangkit dengan pelabuhan, fasilitas penyimpanan batu bara, hingga jaringan logistik.

Pengelola pembangkit turut memaparkan penerapan teknologi seawater flue gas desulfurization (FGD), sistem ultra-low emission, serta implementasi konsep 5G dan Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pemantauan peralatan secara real time, predictive maintenance, inspeksi digital, hingga peningkatan keandalan operasional.

Delegasi PII, Dr Ir Agus Wiramsya Oscar, menilai forum tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan antara komunitas insinyur Indonesia dan Tiongkok.

Menurutnya, kerja sama kedua organisasi masih memiliki ruang yang sangat luas untuk dikembangkan.

“Program ini tidak hanya memperkaya pengetahuan teknis insinyur Indonesia, tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Kami berharap PII dan CSE dapat terus saling berpartisipasi dalam berbagai program, termasuk short summer class, pertukaran tenaga ahli, hingga inisiatif yang mendukung pengakuan bersama terhadap kualifikasi insinyur kedua negara,” katanya.

Sementara itu, Ir Arief Koeswanto menilai pengalaman melihat langsung penerapan teknologi modern di sektor ketenagalistrikan menjadi referensi penting bagi Indonesia.

“Kunjungan ini menunjukkan bagaimana efisiensi operasional, pengendalian emisi, dan kecerdasan buatan dapat diintegrasikan dalam pengelolaan pembangkit listrik. Pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk memperkaya kompetensi insinyur Indonesia sekaligus mendukung transformasi sektor energi nasional,” tuturnya.

Sebagai informasi, Partisipasi PII dalam program tersebut sekaligus menegaskan komitmen organisasi memperkuat kapasitas insinyur Indonesia melalui kolaborasi global, termasuk implementasi Mutual Recognition Agreement (MRA) antara PII dan CSE guna mendorong pengakuan kualifikasi profesi, inovasi teknologi, dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

Editor : Hernawati
pii tiongkok persatuan insinyur indonesia