Dari dulu, halua adalah salah satu sajian wajib saat Lebaran di rumah Etri. Ternyata, banyak dari tamu yang datang menyebut jika kudapan itu enak. Mereka pun minta untuk dibikinkan.
“Jadi mereka tanya, berapa kalau dibeli. Awalnya dari situ, sekitar 2018 rasanya. Jadi coba mulai ditawarin kemana-mana. Sampai nawarin waktu antar sekolah anak ke ibu-ibu di sana. Pelan-pelan perkenalan, membangun minat konsumen,” bebernya.
Layaknya usaha rumahan sederhana, polanya juga masih dijual secara sederhana. Hingga pada 2022, dia bertemu salah satu pendamping halal. Dari situ, kelengkapan izin usaha dipenuhi. Agar pasarnya lebih luas. Sehingga bisa mejeng di toko.
Dikenal sebagai hidangan Lebaran, maka pada momen itu yang memang orderan melonjak. Per orang pesanannya bahkan bisa sampai 10 kilogram. “Ada juga yang pesan 5 kilogram. Permintaan tinggi pas Lebaran, pernah masuk orderan sampai total 120 kilogram,” jelasnya.
Bicara bahan baku, dia sudah memiliki langganan petani tetap. Sedikitnya ada tiga petani yang suplai kolang-kaling di sekitar Sambutan, Samarinda. Selain itu, juga memiliki kebun sendiri.
“Jadi kalau kebun sendiri enggak cukup, baru minta ke petani di sekitar rumah sini. Bisa dibilang kolang-kaling ini kan buah langka. Jadi memang dipanennya harus pas. Pernah kehabisan dan cari di pasar, ternyata beda jauh kualitasnya. Nah petani-petani langgana saya ini sudah tahu kualitas yang saya mau,” paparnya.
Keterbatasan bahan baku juga pernah membuat Etri stop produksi hingga dua bulan. Apalagi cuaca juga memegang peranan penting terkait kualitas panen. Coba cari ke daerah lain, cocok dari segi kualitas namun harganya malah lebih mahal.
“Makanya ini juga coba bangun kolaborasi sama teman-teman petani aren. Untuk bisa bantu suplai kolang-kaling. Jadi kan sama-sama saling membantu ya,” sambung perempuan kelahiran 1989 itu.
Dalam sebulan, produksi terbatas hanya mampu dua kali. Kapasitasnya pun 30 kilogram sekali produksi. Sebab, proses yang membuatnya menjadi lebih lama. Butuh setidaknya 8-10 hari perendaman. Itu juga bergantung dari kualitas daging kolang-kalingnya.
Selain yang memang sudah tahu dengan produknya, pasar Etri juga sudah menjangkau beberapa swalayan. “Itu juga baru tiga bulan ini kerjasamanya. Coba-coba, ya alhamdulillah lumayan, baru nitip langsung habis. Saya juga ada sekitar tiga reseller yang bantu jualkan,” lanjut dia.
Melihat potensi tersebut, Etri juga tak mau tinggal diam. Dia juga mulai mencari petani lain yang kualitas kolang-kalingnya sesuai dengan yang dia mau. Dengan catatan, dari segi harga juga cocok. Sebab salah satu kuliner unik dan memiliki cita rasa khas. Di sisi lain, juga belum banyak pesaingnya.
Editor : Uways Alqadrie