SEBAGAI seorang ibu muda anak dua, Hervita Agnes Aprillia Rambe memiliki visi yang jauh melampaui perannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Lewat Pihar Design, merek busana yang ia rintis sejak 2019, Agnes berusaha merangkul anak muda Indonesia untuk kembali mencintai budaya lokal, khususnya batik.
KALTIMPOST.ID, Bagi banyak orang, batik sering dianggap sebagai busana kuno yang hanya cocok dipakai oleh generasi yang lebih tua. Namun Agnes memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, batik bisa dipakai oleh siapa saja, dalam berbagai kesempatan, tanpa harus kehilangan sentuhan modern yang membuatnya tetap relevan dengan tren masa kini.
Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang desain busana, Agnes sudah mengenal dunia desain sejak kecil. Ia mengaku telah mulai mendesain baju sejak usia 10 tahun, dengan inspirasinya banyak datang dari film Disney, terutama tokoh putri-putri yang tampil anggun dengan gaun-gaun megah.
Kecintaannya pada desain berkembang seiring waktu, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk memulai bisnis busana dengan fokus pada pengembangan batik. “Saya memang bukan desainer yang sekolah di akademi mode, tapi sejak kecil saya sudah tertarik dengan desain, terutama dalam hal menciptakan busana. Setelah menikah, saya merasa ini saat yang tepat untuk mewujudkan mimpi tersebut,” ungkapnya.
Agnes mengenalkan konsep busana batik yang tidak hanya cocok untuk acara formal, tetapi juga bisa dipakai saat hangout atau bahkan pesta. “Saya ingin anak muda Indonesia tahu bahwa batik itu keren, batik itu bisa jadi pilihan busana dan yang lebih penting lagi, batik adalah bagian dari identitas budaya kita,” ujar Agnes.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Agnes adalah bagaimana mengubah persepsi anak muda yang cenderung enggan memakai busana adat, termasuk batik. Menurutnya, banyak anak muda merasa bahwa batik itu kuno dan identik dengan orang tua.
“Batik itu biasanya dianggap sesuatu yang 'tua', tapi saya ingin menunjukkan bahwa batik bisa stylish, bisa dipakai untuk berbagai kegiatan dan bisa jadi pilihan fashion yang menarik bagi semua kalangan,” tambahnya.
Untuk mencapainya, Agnes mulai mengubah desain batik tradisional agar lebih mengikuti tren fashion modern. Melalui Pihar Design, ia menghadirkan koleksi busana yang memadukan elemen tradisional dengan potongan dan gaya yang lebih kekinian.
Dengan sentuhan yang lebih minimalis, elegan, dan tetap mencerminkan kekayaan budaya Kalimantan, batik buatan Agnes kini dapat dikenakan oleh anak muda dalam berbagai acara, mulai dari santai, casual, hingga pesta.
Selain itu, Agnes mengangkat batik khas Kaltim dalam desain-desainnya dengan tema Bornesia yang punya ciri khas memodifikasi batik Borneo dengan Batik Indonesia. “Orang yang memakainya punya identitas aku orang Indonesia dan orang Kalimantan,” sebutnya
Meski terbilang baru dalam dunia desain busana, perjalanan Agnes cukup menonjol. Sejak 2019, ia sudah ikut serta dalam sejumlah pameran dan even busana bergengsi.
“Kalau pameran sudah empat kali. Sekarang ini saya sudah dua kali ikut panelis yang namanya Indonesia Fashion Parade di Jakarta membawa adat batak, karena saya orang batak. Saya juga berhasil masuk sebagai finalis dalam ajang Indonesia Next Designer Indonesia di Malang, membawakan batik Indonesia juga,” imbuhnya.
Keikutsertaan Agnes dalam event-event besar ini bukan hanya memperkenalkan karyanya kepada publik yang lebih luas, tetapi juga membuka pintu bagi anak muda untuk melihat bahwa busana tradisional, seperti batik, bisa diterima dalam ranah fashion yang lebih luas.
“Melalui ajang-ajang seperti ini, saya berharap anak muda bisa lebih mengenal budaya mereka sendiri dan merasa bangga untuk mengenakannya. Batik bukan hanya untuk pesta adat, tetapi bisa jadi pilihan sehari-hari yang fashionable,” tuturnya.
Pihar Design sendiri bukan hanya sekadar merek busana, tetapi lebih merupakan perwujudan dari semangat Agnes untuk mengenalkan kembali batik kepada generasi muda Indonesia.
Ia ingin menunjukkan bahwa batik bisa digunakan dalam berbagai kesempatan, tidak hanya untuk acara formal atau tradisional. Koleksi busana Pihar Design mencakup berbagai macam model, dress atau terusan yang elegan dan modis yang cocok dipakai perempuan.
Agnes menilai bahwa banyak anak muda yang tidak tahu cara memadukan busana tradisional seperti batik dengan gaya sehari-hari mereka. Untuk itu, ia berusaha membuat desain yang lebih fleksibel dan cantik.
“Batik itu punya banyak potensi untuk jadi busana yang keren dan kekinian. Saya ingin anak-anak muda tahu bahwa mereka bisa bergaya tanpa harus melupakan identitas budaya mereka,” jelasnya.
Agnes berharap agar Pihar Design dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk kembali mencintai dan menghargai budaya Indonesia, terutama batik, sebagai bagian dari identitas mereka. Ia pun berharap, ke depannya, semakin banyak anak muda yang merasa bangga mengenakan batik dan menjadikannya bagian dari gaya hidup mereka.
“Batik itu bukan cuma soal busana. Ini adalah simbol kebanggaan kita sebagai orang Indonesia. Jadi, saya ingin anak muda lebih cinta, lebih bangga memakai batik,” pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie