Ekonomi, pendapatan daerah, kebudayaan dan lingkungan menjadi tema yang diangkat dalam debat terakhir ini. Ketua KPU Kaltim, Fahmi Idris menerangkan dengan adanya debat ini, para penyelenggara berharap bisa memberi masukan dan meyakinkan masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya di hari pemungutan nanti, pada 27 November 2024.
KPU menarget partisipasi pemilih (parmas) sebesar 77,5 persen, selaras dengan target nasional. “Semoga dengan debat ini bisa memberikan masukan bagi pemilih untuk menentukan pilihannya nanti,” ucapnya membuka debat kandidat ketiga yang disiarkan langsung Metro TV itu.
Di segmen pertama, kedua paslon menarasikan misi mereka ketika terpilih. Paslon nomor urut 01, Isran-Hadi menonjolkan hasil kerja mereka selama memimpin Kaltim pada 2018-2023. Dari peningkatan signifikan APBD, program Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT), hingga pembenahan akses jalan provinsi telah mencapai 84 persen.
“BKT akan kami tingkatkan. Sepanjang 2018-2023 sudah digelontorkan Rp 1,7 triliun dan akan ditingkatanya menjadi Rp 2,5 triliun,” ungkap Hadi setelah diberi kesempatan oleh Isran. Bicara masa depan, duet berjargon Kaltim Berdaulat ini menjanjikan hilirisasi sektor pertambangan dan sawit, pengembangan ekonomi biru, serta penurunan emisi gas rumah kaca.
Sementara kandidat Rudy-Seno membuka pemaparan misi dengan pendekatan personal, terkait perjuangan mereka menyambung hidup. Seno menjadi supir angkot, lalu Rudy berkeliling menjajakan kue.
Visi mereka bersandar pada tiga poin, pemanfaatan potensi sumber daya alam, membangun sektor manufaktur berkelanjutan, serta pemulihan lingkungan. “Kami hanya perantara untuk mewujudkan Kaltim menuju generasi emas,” kata Rudy.
Di segmen kedua, persoalan strategis terkait lingkungan dan pendapatan daerah jadi materi yang dibahas. Rudy-Seno mendapat pertanyaan panelis seputar pengelolaan sampah. Dari pertanyaan itu disebutkan, masih ada 9,7 persen sampah yang tak bisa dikelola dan berpeluang menjadi persoalan seiring pertumbuhan penduduk.
Rudy menawarkan adanya kolaborasi dengan pihak swasta serta memanfaatkan dana tanggung jawab sosial untuk menyediakan fasilitas pengolahan. Hal itu ditanggapi Hadi Mulyadi, calon wakil gubernur nomor urut 01, perlu pendekatan berbasis budaya masyarakat dalam memanajemen pengelolaan sampah.
Subtema pendapatan daerah jadi perdebatan sengit. Manajemen anggaran yang masih lebih besar ke belanja pegawai dikritik Rudy-Seno dan disebut belum bermanfaat maksimal ke masyarakat.
Namun, Isran membantah dan menyebut data itu keliru dan menegaskan kinerja mereka lima tahun memimpin sudah memenuhi ekspektasi masyarakat. “Agak aneh dengan data tadi. pendapatan kaltim luar biasa hasil kerja kami,” sebutnya.
Di segmen ketiga, giliran pariwisata dan transformasi ekonomi yang muncul dari balik amplop pertanyaan panelis. Hadi memaparkan strategi yang menyasar pengembangan infrastruktur ke destinasi wisata.
Sementara Seno mengkritisi masih rendahnya pendapatan di sektor itu dan menyebut hanya 1,74 persen kontribusinya ke Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim. “Ke mahulu saja jalannya hancur,” sebut Seno sebagai penanda alokasi anggaran belum maksimal ke sektor pariwisata.
Sementara tranformasi ekonomi, Seno menyebut produktivitas pertanian Kaltim masih terbilang rendah. Namun data yang disampaikannya dianulir Hadi maupun Isran. “Lagi-lagi datanya salah itu. Luas sawit bukan 1,3 juta hektare, tapi 1,6 juta hektare. Perlu perbaiki datanya. Jangan salah-salah mulu,” katanya menanggapi.
Segmen empat menjadi panggung untuk para calon gubernur saling bertanya dan segmen selanjutnya, segmen lima giliran para calon wakil gubernur unjuk gigi. Rudy mempertanyakan konteks kedaulatan yang diusung Isran. Sementara melihat realita yang ada di lapangan masih jauh dari makna yang diinginkan. “Jadi berdaulat seperti apa dan bagaimana pemahaman hal itu,” tanyanya.
Sementara Isran menjawab dengan perbedaan antara ketahanan pangan dengan kemandirian pangan. “Ketahanan itu soal manajemen. Tak melulu harus diproduksi di daerah, selama kebutuhan terpenuh dan bisa mengontrol inflasi itu sudah cukup,” katanya menjawab dan Rudy menggarisbawahi bukan itu pertanyaannya. “Disimak dulu pertanyaannya. Terkait berdaulat itu apa,” sebutnya.
Ketika gilirannya, Isran melemparkan pertanyaan nyeleneh terkait cara tanaman mengubah karbon dioksida menjadi oksigen. Rudy berbicara soal reklamasi, reboisasi lahan, hingga perdagangan karbon.
Tak luput, paslon berjargon Kaltim Generasi Emas ini menekankan pentingnya peran pemerintah provinsi sebagai jembatan antara pusat dan daerah. Mendengar jawaban Rudy, Isran menanggapi.
“Lain yang ditanya, lain pula jawabannya,” katanya.Segmen lima, saat giliran para calon wakil gubernur. Persoalan hilirisasi jadi pertanyaan yang dilempar Hadi Mulyadi ke Seno Aji. Seno menjawab meski Kaltim sudah memiliki dua pabrik pengolahan hasil sawit menjadi minyak goreng. Hal itu masih belum cukup karena belum mencakup pengolahan menjadi biodiesel. “Kaltim Belum berdaulat di sektor energi,” kata Seno.
Mendengar hal itu, Isran menambahkan jumlah produksi dari olahan sawit di Kaltim berada di posisi 4 se-Indonesia. “Hati-hati jangan keliru terus. Nda paham-paham gitu loh. Pahamlah ikam,” katanya mengingatkan.
Seno melempar pertanyaan terkait ketahanan pangan di Kaltim yang mengabaikan kesejahteraan petani lokal. Menjawab hal itu, Hadi menegaskan dirinya bersama Isran sudah berupaya dalam mengawal hal itu selama lima tahun memimpin Kaltim.
Namun, kata dia, perlu memerhatikan kebijakan makro, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan Kaltim. “Kita perlu memastikan seluruh masyarakat bisa makan. Jangan memaksakan apa yang tak bisa dimiliki. Jika tak mungkin tentu perlu membeli dari daerah lain agar kebutuhan pangan terjamin,” jelasnya.
Di segmen terakhir, keduanya mengakhiri dengan sejumlah janji dan pantun serta mengucapkan terima kasih ke seluruh masyarakat yang memberikan dukungan sepanjang masa kampanye. (*)
Editor : Almasrifah