KALTIMPOST.ID, Sebuah tragedi udara kembali menggemparkan dunia penerbangan. Pesawat Azerbaijan Airlines dengan nomor penerbangan J2-8243 (registrasi 4K-AZ65) jatuh di dekat kota Aktau, Kazakhstan, pada Rabu (25/12/2024).
Insiden ini menewaskan 38 orang, sementara 29 penumpang lainnya berhasil selamat dengan berbagai luka serius. Namun, misteri mulai mencuat setelah bukti visual memicu spekulasi baru.
Dalam sebuah video yang diunggah di Telegram oleh blogger Rusia, Fighterbomber, terlihat lubang-lubang mencurigakan di bagian ekor pesawat.
Lubang-lubang ini menyerupai pecahan peluru (shrapnel) yang biasanya muncul akibat ledakan rudal antipesawat.
"Di sisi kiri ekor pesawat, lubang-lubang ini terlihat sangat mirip dengan kerusakan akibat pecahan rudal darat ke udara," ujar Gerry Soedjatman, pengamat penerbangan, melalui platform X (dulu Twitter).
"Distribusi lubang ini tidak sesuai dengan pola tembakan dari kanon udara. Situasinya benar-benar buruk!"
Spekulasi Serangan Rudal
Dugaan ini semakin menguat setelah Kepala Pusat Penanggulangan Disinformasi Ukraina, Andrii Kovalenko, menuding Rusia sebagai dalang di balik jatuhnya pesawat ini.
"Pesawat Azerbaijan Airlines ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Rusia," klaim Kovalenko, seperti dikutip dari RBC Ukraine.
Kovalenko menjelaskan, Rusia gagal menutup wilayah udara di atas Grozny setelah laporan adanya serangan drone Ukraina. Hal ini membuat pesawat Azerbaijan Airlines terpaksa mengubah jalur penerbangannya, yang berakhir tragis.
"Bukti visual dari kerusakan badan pesawat memperkuat dugaan ini," tambah Kovalenko.
Cuaca Buruk dan Birdstrike Masih Jadi Fokus Penyelidikan
Meski dugaan serangan rudal mencuat, penyelidikan awal tetap berfokus pada faktor cuaca buruk dan kemungkinan tabrakan dengan burung (birdstrike).
Pesawat jenis Embraer 190 ini diketahui sempat menghadapi kondisi cuaca ekstrem saat mendekati Bandara Grozny dan Makhachala Uytash.
Menurut data Flightradar24, pesawat bahkan harus melakukan manuver angka delapan beberapa saat sebelum jatuh, menunjukkan adanya kesulitan pengendalian.
Rekaman video menunjukkan pesawat tidak stabil, naik-turun, sebelum akhirnya menabrak tanah dengan hidung pesawat mengarah ke bawah.
Baca Juga: Menanti Pesta Kembang Api di Pantai BSB, Janjikan Terlama, Termegah dan Terbesar
Gerry Soedjatman juga memberikan penjelasan teknis terkait potensi birdstrike yang bisa menyebabkan gangguan pada sistem kendali pesawat.
"Jika birdstrike mengenai hidung pesawat, ini bisa mengganggu pitot-static tubes atau TAT probe, yang merupakan bagian penting dari sistem kendali pesawat Embraer 190," jelas Gerry.
Namun, ia menambahkan bahwa dalam kondisi normal, sistem kendali fly-by-wire pada pesawat ini seharusnya bisa beradaptasi dengan beralih dari mode "Normal Law" ke "Direct Law," yang memungkinkan pilot tetap bisa mengendalikan pesawat secara manual.
Pernyataan Resmi Presiden Azerbaijan
Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, meminta masyarakat untuk tidak mengambil kesimpulan terburu-buru.
"Informasi awal menunjukkan bahwa perubahan rute dilakukan karena cuaca buruk. Namun, investigasi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebabnya," ujar Aliyev dalam pernyataan resminya.
Pesawat ini diketahui membawa 67 orang, termasuk warga Azerbaijan, Rusia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan.
Meskipun berbagai dugaan muncul, termasuk kemungkinan pesawat keliru dianggap sebagai drone Ukraina oleh sistem pertahanan udara Rusia, penyelidikan resmi masih berlangsung. (*)
Editor : Dwi Puspitarini