KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, 56,9 persen penduduk berusia 3 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut, namun hanya 11,2 persen yang mencari pengobatan.
Karies atau gigi berlubang serta penyakit periodontal (jaringan penyangga gigi) termasuk radang gusi dan jaringan pendukung gigi, masuk dalam 10 besar penyakit terbanyak di Indonesia. Masa peralihan gigi susu ke gigi permanen pada anak usia 6 hingga 12 tahun menjadi periode krusial, karena kerusakan gigi permanen bersifat permanen. “Tidak ada lagi gigi alami yang bisa tumbuh menggantikan,” ujar drg. Imran Irsal, dokter spesialis prostodonsia dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.
Menurut Imran, karies atau gigi berlubang serta penyakit periodontal termasuk dalam 10 besar penyakit terbesar di Indonesia. Data yang diperoleh di puskesmas sebagian besar berasal dari anak-anak sekolah dasar. “Banyak orang tua masih menganggap gigi anak yang tanggal bisa tumbuh lagi. Padahal gigi permanen yang hilang tidak tergantikan,” katanya.
Sayangnya, kesadaran menjaga kesehatan gigi masih rendah. Imran menuturkan, banyak orangtua mengabaikan kerusakan pada gigi molar pertama karena dianggap gigi susu. “Padahal justru itu gigi permanen. Akibatnya, saat gigi berlubang atau bengkak tidak tertangani, akhirnya harus dicabut,” jelasnya. Selain faktor literasi, regulasi layanan kesehatan juga menjadi kendala. Imran mengkritik keterbatasan pembiayaan kesehatan gigi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Baca Juga: Banyak yang Salah, Begini Cara Menyikat Gigi yang Tepat Agar Tidak Berdampak Pada Organ Vital
“Awalnya, bersihkan karang gigi bisa setahun sekali. Sekarang harus ada indikasi medis. Banyak perawatan juga tidak sepenuhnya ditanggung BPJS,” katanya. Sebagai contoh, pasien yang membutuhkan gigi tiruan hanya mendapat bantuan maksimal Rp 1 juta. Padahal biaya pembuatan gigi tiruan berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 7 juta, tergantung jumlah gigi.
“Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, ini jelas berat. Mereka terpaksa tidak melakukan perawatan,” imbuhnya. Regulasi terbaru BPJS juga mewajibkan tindakan tertentu hanya bisa dilakukan oleh dokter gigi spesialis di rumah sakit. Akibatnya, jumlah pasien menumpuk sementara dokter spesialis terbatas. “Dulu dokter gigi umum masih bisa membantu menangani kasus. Sekarang tidak bisa. Akhirnya pasien harus menunggu lama,” kata Imran.
Di Samarinda, jumlah dokter spesialis gigi masih sangat terbatas. Kondisi ini diperparah dengan sistem rujukan berjenjang dan keharusan multi-visit yang membuat pasien harus bolak-balik berkunjung. “Banyak pasien akhirnya enggan melanjutkan perawatan karena prosedurnya berbelit,” katanya.
Masalah kesehatan gigi juga berdampak pada organ vital tubuh. Imran menjelaskan, bakteri penyebab penyakit periodontal dapat memicu penyakit jantung, khususnya endokarditis atau kerusakan katup jantung.
“Infeksi di rongga mulut bisa menyebar melalui aliran darah. Sama halnya dengan diabetes, yang sering memunculkan komplikasi di gusi dan tulang rahang,” jelasnya. Ia menegaskan pentingnya kontrol gigi enam bulan sekali, meski tanpa keluhan. “Kalau sudah terjadi kerusakan, itu sifatnya permanen. Deteksi dini memungkinkan perawatan sederhana, misalnya tambal gigi. Kalau dibiarkan, bisa berakhir pada perawatan saluran akar atau pencabutan,” katanya.
Di sisi lain, Imran mengapresiasi hadirnya Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Mulawarman di Samarinda. Rumah sakit ini memiliki 53 dental unit, lebih banyak dibanding rumah sakit umum yang rata-rata hanya tiga sampai empat unit. “Kami juga punya poli eksekutif dengan peralatan digital yang cukup canggih. Harapannya ini bisa menjadi pusat rujukan di Kaltim,” ujarnya.
Sebagai penutup, Imran mengajak masyarakat menjadikan momentum Hari Kesehatan Gigi Nasional untuk meningkatkan kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi. “Kontrol gigi tidak harus menunggu sakit. Dengan pemeriksaan rutin, masyarakat bisa terhindar dari biaya besar dan perawatan berlarut-larut nantinya,” katanya. (*)
Editor : Muhammad Rizki