Merasakan self-service di SPBU yang sepi. Tanpa petugas dan pembayaran dengan sistem nontunai.
WIJI WINARKO, Washington DC
TAK cuma singgah mencicipi kuliner Philadelphia, rombongan Kaltim Post Group (KPG) juga berhenti di sejumlah service area untuk satu urusan yang sederhana. Namun sarat pelajaran.
Yakni mengisi bahan bakar. Pengalaman itu segera terasa berbeda sejak kali pertama di Amerika Serikat (AS). Bensin ditakar per galon, bukan per liter seperti di Indonesia.
Kami menyewa mobil Ford Expedition Tremor. Kendaraan itu menjadi “rekan” setia menempuh rute antarkota.
Kapasitas tangkinya 23,2 galon atau sekitar 88 liter. Membuat mobil ini sanggup menjelajah hingga 395 mil (kurang lebih 635 kilometer) dengan konsumsi rata-rata 17 mil per galon (mpg).
Satuan mpg adalah standar efisiensi bahan bakar di AS. Satu galon di sini setara kira-kira 3,785 liter.
Siang itu dalam perjalanan ke Washington, DC, kami berkesempatan membeli bensin di kawasan Aberdeen, Washington DC. Saya yang mengoperasikan dispenser untuk memasok bensin ke tangki mobil.
Siang itu, SPBU yang saya anggap besar, ternyata cukup sepi yang membeli. Namun SPBU sebelahnya, yang khusus melayani kendaraan besar.
Terlihat banyak “raksasa” jalanan tengah membeli BBM. Tanpa petugas. Kami mengisi sendiri dan bayar di lokasi itu.
“Harga BBM di sini juga tidak jauh beda dengan di Indonesia. Per galon sekitar USD 3,2. Kalau dihitung per liter, kira-kira USD 0,85 atau sekitar Rp 13 ribu,” ujar Supriyono, wakil direktur Kaltim Post, sembari men-tap kartu kredit di terminal pompa. Ia tersenyum kecil. “Pertama agak kagok, ya. Sekarang tinggal colok, pilih oktan, jalan,” tambahnya.
Di sinilah detail teknis segera membuka wawasan. Angka oktan di Indonesia lazim disebut RON (Research Octane Number): 90, 92, 95, dan seterusnya. AS memakai AKI (Anti-Knock Index), yakni rata-rata RON dan MON (Motor Octane Number).
Baca Juga: KPPU Pantau Kenaikan HET dan Rencana Penghapusan Klasifikasi Beras Usai Kasus Oplosan
Karena metodenya berbeda, angka AKI lebih rendah dibanding RON untuk kualitas bahan bakar yang kurang lebih sebanding. Sebagai gambaran, AKI 87 di AS kira-kira setara RON 90–91 di Indonesia.
Jadi, ketika tombol “Regular 87” ditekan, bukan berarti memilih bensin “rendah mutu”. Bagi kebanyakan mesin bensin modern, termasuk Expedition, itu sudah memadai.
“Di sini regular itu AKI 87, mid-grade 89, premium 91 atau 93,” ungkap Direktur Kaltim Erwin D Nugroho.
“Self-service sudah jadi kebiasaan. Petugas hanya mengawasi dan membantu kalau ada kendala. Yang penting, kita paham prosedur keamanan,” tambahnya.
Kebiasaan itulah yang paling mencolok. Di banyak SPBU AS, pengisian bersifat swalayan (self-service).
Pengemudi turun dari mobil, memilih jenis BBM di pompa, memasang nozzle, lalu membayar langsung di mesin dengan kartu debit/kredit.
Pada beberapa pompa, sistem meminta ZIP code untuk verifikasi. Tanpa antre kasir, tanpa menunggu petugas, semuanya ringkas.
“Kalau lagi dikejar waktu, sistem begini menyelamatkan,” kata Direktur Balikpapan Pos Ajid Kurniawan. “Lima menit, selesai,” tambahnya.
Harga bensin di AS memang fluktuatif, bergantung lokasi, merek SPBU, dan jenis oktan. Rombongan melihat papan harga bergerak di kisaran USD 3,2–5 per galon.
Di kawasan Washington DC dan sekitarnya, regular paling ramah di dompet. Sedangkan premium lebih mahal.
Ketika kami mengambil mobil itu di New York, mobil baru kembali diisi bensin di Aberdeen yang sudah masuk kawasan Washington DC. Sebelum kami tiba di Cheverly, Maryland.
Kemudian kami baru kembali mengisi BBM saat akan mengembalikan mobil ke titik pengumpulan mobil yang tak jauh dari Bandara Internasional Dulles. Menurut saya, konsumsi BBM mobil tidak begitu boros.
Tak semua momen berbicara tentang bensin. Cheverly, kawasan tempat rombongan menyewa rumah, memperlihatkan wajah lain dari efisiensi. Yakni transportasi publik yang terintegrasi.
Dari sini ke pusat Washington DC hanya sekitar 20 menit dengan Metro. Tiga jalur. Oranye, silver, dan biru. Bersilang di rel yang bersih, teratur, dan mudah dipahami oleh pendatang sekalipun.
Tarifnya berkisar USD 2–5 per perjalanan. Bergantung jarak dan waktu. Bus melayani rute lokal dengan tarif sekitar USD 3, memakan waktu kira-kira 22 menit ke pusat kota.
Di sisi lain, Uber siaga 24 jam. Tarifnya USD 26–32 untuk ke jantung DC. Sementara rute pendek dalam kota Cheverly sekitar USD 19.
“Kalau waktunya mepet, Metro itu penyelamat,” tutur Erwin. “Tapi kalau bawa barang banyak atau perlu fleksibilitas, mobil tetap juara. Kombinasi dua-duanya bikin gerak jadi efisien,” jelasnya.
Puncak pelajaran “efisiensi ala Amerika” hadir saat pengembalian kendaraan di Bandara Internasional Washington Dulles.
Alih-alih loket panjang dan formulir tebal, rombongan hanya menemukan satu instruksi besar di area parkir rental. “Please leave keys in the car.”
Mobil diparkir di blok yang ditentukan, kunci diletakkan di konsol tengah, dan pintu dikunci. Selesai. Shuttle bus gratis datang tiap beberapa menit, mengantar penumpang ke terminal.
Pemeriksaan kondisi mobil dilakukan berkala oleh petugas. Bila ada kekurangan, misalnya lupa isi penuh, penagihan diselesaikan backend melalui sistem.
“Kami mengandalkan kepercayaan dan sistem,” kata seorang petugas rental yang sempat disapa singkat.
“Pengembalian cepat menguntungkan semua pihak. Jika ada masalah, rekam data dan inspeksi kami yang bekerja,” jelasnya.
Dari serangkaian perhentian SPBU, stasiun Metro, hingga lapangan parkir bandara. Rombongan KPG merasakan benang merah yang sama. Proses didesain untuk memudahkan.
Teknologi pembayaran yang mulus, kebiasaan self-service yang tertanam, dan tata kelola yang menempatkan kepercayaan sebagai fondasi. Semuanya menyatu menjadi pengalaman yang efisien sekaligus menyenangkan.
“Yang mahal bukan selalu harganya,” seloroh Supriyono. “Yang mahal itu waktu dan kepastian. Di sini, dua-duanya dihargai,” tambahnya. (rd)
Editor : Romdani.