New York terdapat salah satu restoran yang cukup unik. Membayar tagihan bukan dari jenis makanan yang dipilih. Tapi dihitung dari beratnya.
ROMDANI, New York
SENIN (18/8) siang yang cerah, saya bersama rombongan Kaltim Post Group (KPG) yang berjumlah enam orang, melangkah mantap menuju salah satu ikon paling ikonik dari New York. Empire State Building.
Dari ketinggian gedung yang megah itu, kami disuguhi panorama menakjubkan kota metropolitan yang tak pernah tidur. Lengkap dengan kerlip lampu dan hiruk-pikuk kendaraan di jalan raya jauh di bawah sana.
Di kejauhan, patung Liberty berdiri anggun, sang penjaga kebebasan yang menjadi simbol abadi Amerika Serikat (AS). Seakan melambai menyambut para pengunjung yang ingin menelaah sejarah dan kemegahan kota.
Di dalam gedung, kami memasuki ruang observasi yang sekaligus menjadi museum mini dengan deretan monitor televisi yang menayangkan video dokumenter tentang sejarah pembangunan Empire State Building.
Video-video itu membawa pengunjung kembali ke era 1930-an, ketika gedung pencakar langit itu dibangun dalam waktu yang teramat singkat, hanya sekitar 410 hari.
Konstruksi itu menjadi bukti luar biasa dari kegigihan dan ambisi manusia. Setiap layar televisi menampilkan kilatan arsip gambar hitam-putih, para pekerja dengan helm keras, dan alat-alat berat yang berdengung keras di tengah hamparan langit biru New York.
Lengkap dengan narasi yang menggambarkan bagaimana gedung ini dahulu dianggap prestasi teknologi dan arsitektural terbesar di dunia.
Empire State Building bukan sekadar gedung pencakar langit biasa. Dia adalah saksi bisu dari sejarah Amerika dan New York sendiri.
Diresmikan pada 1931, gedung ini pernah merebut gelar sebagai bangunan tertinggi di dunia selama hampir 40 tahun.
Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di gedung ini. Bahkan menjadi lokasi syuting beberapa film Hollywood legendaris seperti King Kong (1933).
Yang menjadikan puncak menara ini sebagai lokasi pertarungan antara raksasa kera dan pesawat-pesawat yang memburu.
Film-film lain pun pernah mengambil latar di sini, menjadikan Empire State sebagai salah satu wajah budaya pop dunia.
Setelah puas mengagumi Gedung Empire State dan mengisi waktu sekitar satu setengah jam di sana, kami melanjutkan petualangan kuliner dengan makan siang di ETC Eatery. Sebuah rumah makan prasmanan yang hanya berjarak beberapa blok dari Empire State.
Pengalaman makan siang di ETC itu membuka wawasan baru tentang gaya membeli makanan di New York. Yang berbeda jauh dengan kebiasaan di Indonesia.
ETC Eatery menawarkan berbagai pilihan makanan seperti ayam goreng, salmon, daging, aneka sayur segar, nasi goreng sampai mi goreng.
Tapi daya tarik utamanya bukan sekadar makanan, melainkan metode pembayaran yang unik. Pembayaran berdasar berat makanan.
Bayangkan, kita bebas memilih apa pun yang disukai. Kemudian piring kita ditimbang di kasir. Harga makanan bukan dihitung per porsi atau berdasarkan menu, melainkan dari seberapa berat piring itu setelah diisi. Minuman tetap dihitung terpisah.
Sistem pembayaran dengan cara ditimbang itu memang kerap dipakai di restoran prasmanan atau buffet di Amerika.
Karena memberikan fleksibilitas penuh pada pelanggan untuk mengambil sesuai selera tanpa ribet menghitung harga per jenis makanan.
Dengan metode itu, pengunjung bisa merasa tidak dibatasi jenis makanan apa yang diambil. Sementara pengelola restoran mudah mengontrol biaya bahan makanan.
Saat kami hendak membayar, sebuah kejutan kecil menyambut kami. Ternyata dua karyawan kasir ETC Eatery adalah orang Indonesia. Keduanya dari Jakarta, yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana.
Mereka langsung menyapa dengan ramah, karena mengenali aksen kami. “Dari Indonesia ya?” tanya Sarah, salah seorang karyawan ETC Eatery.
Keduanya mengira kami para awak kapal. Mengingat banyak warga Indonesia memang bekerja di kapal yang sedang melakukan pelayaran ke AS.
Baca Juga: Ekonom Kaltim Sebut Efek Beras Oplosan, Kepercayaan Publik Luntur dan Stabilitas Ekonomi Terancam
Percakapan sederhana itu bertambah menarik ketika mereka memberi tahu tentang kebiasaan makan di sini.
Terutama penggunaan sendok dan garpu. “Orang Amerika biasanya hanya pakai garpu. Kalau pakai sendok, biasanya untuk makan sup,” katanya.
Setelah dia mengetahui kami berasa dari Indonesia, Sarah memberi sendok makan ke kami. “Ya, karena saya tahu dari Indonesia, makanya saya beri sendok makan,” sambungnya.
Selama berada di New York, kami juga sering menikmati street food. Tempat itu menjadi pilihan favorit untuk santapan murah dan porsi yang lebih dari cukup. Street food di New York benar-benar cermin keragaman kota ini.
Dari nasi biryani dengan rempah khas, ayam panggang berlapis bumbu lezat, hingga aneka camilan khas berbagai budaya yang bersatu di trotoar kota.
Umumnya penjual street food itu di antaranya dari India, Bangladesh hingga Pakistan. Sehingga menyajikan menu-menu halal. “Kami tidak sulit mencari makanan halal,” ucap Wakil Direktur Kaltim Post Supriyono.
Satu porsi street food biasanya dijual antara USD 10-15 dolar. Harga yang cukup terjangkau di kota metropolitan.
Menariknya, para pedagang keliling di New York menggunakan sistem yang sangat berbeda dengan di banyak kota lain. Mereka menjajakan makanan dari kontainer yang bisa dipindah-pindah.
Setelah selesai berjualan, kontainer dan peralatan mereka langsung ditarik truk dan lokasi tersebut langsung bersih.
Tanpa meninggalkan jejak sampah atau kotoran. Sistem seperti itu menjaga ketertiban dan kebersihan kota, sekaligus memberi fleksibilitas bagi pedagang makanan untuk berpindah lokasi sesuai waktu dan keramaian.
Street food di New York pun terasa seperti sebuah pameran rasa berjalan yang rapi. Pada sore hari, ketika satu pedagang membereskan gerobaknya, yang lain sudah siap membuka dagangan di sudut jalan lain, menciptakan ritme urban yang dinamis dan penuh warna. (rd)
Editor : Romdani.