Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pidato Lengkap Ketua Umum PBNU Gus Yahya di Hari Santri 2025: Ingatkan Amanat Persatuan KH Hasyim Asy’ari

Uways Alqadrie • Rabu, 22 Oktober 2025 | 07:46 WIB

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf
KALTIMPOST.ID, JAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyerukan agar santri terus menjadi garda terdepan dalam menjaga kemerdekaan dan memperkuat persatuan nasional.

Pesan itu disampaikan dalam Kick Off Hari Santri 2025 yang digelar di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat, 10 Oktober 2025.

Dalam pidatonya, kiai yang akrab disapa Gus Yahya menjelaskan bahwa menjadi santri berarti menempuh perjuangan utuh yang mencakup tiga unsur utama: mencari ilmu (thalabul ilmi), menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs), dan berjuang di jalan Allah (jihad fi sabilillah).

“Santri tidak hanya belajar mengisi akal, tapi juga membersihkan batin. Belajar bagi santri adalah tirakat, bukan sekadar menambah pengetahuan,” ujar Gus Yahya di hadapan jajaran PBNU dan perwakilan badan otonom NU.

Tahun ini, Hari Santri mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia.” Menurut Gus Yahya, semangat Hari Santri berakar dari Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, seruan para ulama untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan pasca-Proklamasi.

“Santri adalah pihak yang pertama mengerjakan ujian kemerdekaan itu, dengan berjuang di Surabaya. Maka tugas kita sekarang adalah melanjutkan perjuangan itu,” katanya.

Lebih jauh, Gus Yahya menekankan bahwa visi kemerdekaan Indonesia bukan semata soal kedaulatan bangsa, melainkan membangun peradaban mulia bagi seluruh umat manusia. 

Nilai ini, katanya, telah tertulis jelas dalam Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

“Visi Indonesia merdeka adalah peradaban yang menjunjung kesetaraan dan keadilan bagi semua manusia,” tegasnya.

Untuk memperluas jangkauan peringatan Hari Santri, PBNU memutuskan tahun ini perayaan dilakukan secara terdesentralisasi di seluruh Indonesia. 

Setiap pengurus wilayah dan cabang diminta membuat kegiatan di daerah masing-masing—dari istighotsah, halaqah, hingga kegiatan sosial dan lomba rakyat.

“Kalau dulu ada lomba makan kerupuk di 17 Agustus, sekarang boleh saja bikin lomba makan terong untuk Hari Santri,” ujar Gus Yahya berseloroh, disambut tawa hadirin.

Di akhir pidatonya, Gus Yahya mengutip pesan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, yang menyerukan pentingnya mahabbah (cinta kasih) dan ittihad (persatuan) dalam berjam’iyah maupun berbangsa.

“Kalau tidak bisa menyayangi sesama warga NU, lebih baik tidak usah mengaku NU,” ucapnya. “Perintahnya jelas: masuklah ke NU dengan cinta dan persaudaraan, bersatu lahir dan batin.”

Gus Yahya menutup pidatonya dengan ajakan agar seluruh rakyat Indonesia meneladani semangat pendiri NU itu.

“Mari bersatu, bukan hanya secara fisik dan pikiran, tapi juga dalam jiwa. Karena pertolongan Allah ada bersama jamaah yang bersatu,” katanya.

 

Editor : Uways Alqadrie
#Twibbon Hari Santri 2025 #pidato hari santri #Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf #NAHDLATUL ULAMA (NU) #Hari Santri 2025