Levi, 35 tahun, ditemukan tak bernyawa dalam kondisi tanpa busana dan tergeletak di lantai kamar.
Basuki merupakan orang pertama yang mengabari pihak hotel dan kemudian melapor ke polisi. Namun ia menepis anggapan bahwa dirinya memiliki hubungan khusus dengan korban.
“Tidak ada hubungan asmara,” ujar dia dalam penjelasan singkat yang diterima wartawan.
Ia menyebut kedatangannya ke hotel semata untuk memastikan kondisi Levi setelah sehari sebelumnya mengantar korban berobat ke rumah sakit.
Menurut Basuki, bantuan pendidikan yang ia berikan kepada Levi—termasuk biaya kuliah program doktor—dilakukan karena alasan profesional dan kedekatan sebagai rekan.
Ia memastikan tak terlibat dalam urusan pribadi Levi. “Saya hanya membantu pendidikannya. Tidak lebih,” kata dia.
Kepolisian Sektor Gajahmungkur mencatat bahwa pada malam sebelum ditemukan meninggal, Levi menginap bersama seorang pria di kamar tersebut.
Kapolsek Gajahmungkur, AKP Nasori, membenarkan keberadaan pendamping itu, namun belum menjelaskan lebih jauh relasi keduanya. “Ada laki-laki yang menginap bersamanya. Identitas lengkapnya masih kami dalami,” ujarnya.
Keluarga mengatakan Levi tinggal di sebuah kos yang lokasinya tidak jauh dari hotel itu. Mereka mengetahui Levi kerap menggunakan hotel tersebut untuk beristirahat.
Polisi kini memeriksa ulang seluruh rekaman CCTV dan jejak digital korban selama 24 jam sebelum kematian.
AKBP Basuki memberikan penjelasan mengenai keterlibatannya dalam kasus kematian dosen Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Dwinanda Linchia Levi, yang ditemukan tak bernyawa dalam kondisi tanpa busana di sebuah kamar hotel.
Polisi mencatat bahwa Levi menginap satu kamar dengan seorang pria. “Kita belum berani mengatakan itu pacar. Pokoknya mereka satu kamar,” ujar Kapolsek Gajahmungkur AKP Nasori. Dugaan awal, Levi meninggal karena sakit.
Saat ini Basuki menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Polisi juga mendalami keberadaan pria yang satu kamar dengan korban.
Dalam kronologi yang beredar, Basuki—yang menjabat Kasubdit Dalmas Ditsamapta Polda Jateng—disebut sebagai orang pertama yang menemukan korban.
Ia mengaku sempat bersama Levi sebelum kematian, termasuk mengantar korban ke rumah sakit sehari sebelumnya karena keluhan gula darah tinggi dan tensi naik.
Setelah mengantar kembali ke kamar hotel, ia meninggalkan Levi dan kembali keesokan harinya. Saat itulah ia menemukan Levi sudah meninggal.
Dalam keterangannya kepada penyidik, Basuki membantah memiliki hubungan asmara dengan Levi. Ia menyatakan hubungannya sebatas kedekatan akademik dan pertemanan. Basuki mengaku membantu pendidikan S3 Levi, termasuk dukungan finansial.
Polda Jawa Tengah masih menelusuri ada tidaknya unsur pidana dalam kematian tersebut, sekaligus memeriksa kemungkinan pelanggaran etik yang dilakukan Basuki.
Sementara itu keluarga korban menemukan kejanggalan lain: Levi tercatat berada dalam satu Kartu Keluarga (KK) dengan Basuki. “Ternyata alamat korban dan saksi pertama sama. Dia dimasukkan ke KK sebagai saudara,” ujar Tiwi, keluarga korban.
Poin Penting Pengakuan AKBP Basuki:
- Mengaku tidak memiliki hubungan asmara dengan Dwinanda Linchia Levi.
- Menyebut kedekatan mereka sebatas akademik dan profesional, karena ia membantu pendidikan Levi sejak korban menempuh S3.
- Mengakui memberikan dukungan finansial untuk kebutuhan studi program doktor Levi.
- Mengantar Levi ke rumah sakit sehari sebelum kematian karena keluhan kesehatan (gula darah tinggi dan tensi naik).
- Mengantar Levi kembali ke kamar hotel, lalu meninggalkan korban untuk beristirahat.
- Mengaku kembali ke hotel keesokan harinya, dan saat itu menemukan Levi sudah tidak bernyawa dalam kondisi tanpa busana.
- Menyatakan tidak ikut dalam urusan pribadi Levi, hanya memastikan kondisi korban setelah sakit.
- Bersedia diperiksa sebagai saksi, sesuai permintaan penyidik Polda Jawa Tengah.
Editor : Uways Alqadrie