KALTIMPOST.ID, Nasib manusia memang tidak ada yang tahu. Pagi hari masih dihormati sebagai kepala daerah, malam harinya harus berurusan dengan penyidik antirasuah. Itulah drama yang kini menimpa Ardito Wijaya (45).
Baru seumur jagung memimpin Kabupaten Lampung Tengah, pria yang mengawali kariernya sebagai dokter ini harus menelan pil pahit.
Ia terjaring Operasi Tangkap Tangan (Komisi Pemberantasan Korupsi) pada Rabu (10/12/2025), tepat saat karier politiknya sedang di puncak.
Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, mengonfirmasi kabar mengejutkan tersebut melalui pesan singkat.
"Benar," kata Fitroh singkat, Rabu (10/12/2025) malam.
Lantas, siapa sebenarnya Ardito Wijaya? Bagaimana seorang dokter muda yang pernah mengabdi di pelosok puskesmas bisa terseret ke pusaran kasus korupsi senilai miliaran rupiah?
Dari Puskesmas ke Panggung Politik
Sebelum dikenal sebagai politisi, Ardito adalah sosok yang akrab dengan dunia kesehatan.
Lahir di Bandar Jaya pada 23 Januari 1980, ia menyelesaikan pendidikan dokternya di Universitas Trisakti.
Jejak pengabdiannya dimulai dari bawah. Ia pernah menjadi dokter di Puskesmas Seputih Surabaya (2010–2011) dan Puskesmas Rumbia (2011–2012).
Kariernya di birokrasi pun moncer saat dipercaya menjabat Kepala Bidang (Kabid) P2PL Dinas Kesehatan Lampung Tengah pada 2014–2016.
Tak hanya di ruang praktik, "Mas Dito"—sapaan akrabnya—juga aktif berorganisasi. Ia pernah memimpin Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Lampung Tengah hingga menjadi koordinator Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU).
Drama "Perahu Politik" dan Kemenangan Telak
Perjalanan politik Ardito penuh lika-liku. Pada Pilkada 2020, ia terpilih sebagai Wakil Bupati mendampingi Musa Ahmad. Namun, ambisinya tak berhenti di situ. Pada Pilkada 2024, ia memutuskan maju sebagai orang nomor satu.
Langkah ini sempat terseok-seok. Ia nyaris tidak punya "perahu" atau partai pengusung. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), tempatnya bernaung kala itu, enggan memberikan rekomendasi.
Bak plot twist film, PDI Perjuangan (PDIP) justru datang sebagai penyelamat meski Ardito bukan kadernya. Fungsionaris PDIP Lampung, Watoni Noerdin, menceritakan momen tersebut.
"Namun PKB tidak mengusungnya. Akhirnya PDI Perjuangan berdiri sendiri untuk menjaga demokrasi," ujar Watoni.
Bersama pasangannya, I Komang Koheri, Ardito menang telak dengan meraup 63,71 persen suara, mengalahkan mantan pasangannya sendiri, Musa Ahmad. Ia pun resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025.
Baru 9 Bulan Menjabat, Sudah "Pindah Hati"
Belum genap setahun memimpin, Ardito kembali membuat manuver politik. Meski dimenangkan oleh PDIP, ia justru merapat ke Partai Golkar. Pada akhir November 2025, ia bahkan dilantik sebagai Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Lampung 2.
Sekjen DPP Partai Golkar, M Sarmuji, mengakui bahwa Ardito adalah "orang baru" di partai berlambang pohon beringin itu.
"Ya sepertinya baru masuk, baru masuk belum mantap bener. Dulu dia nyalon di Pilkada pakai partai lain," ungkap Sarmuji.
Sikap politik ini pun menuai keprihatinan dari PDIP pasca penangkapan Ardito.
"Intinya, kita prihatin," tutur Watoni menanggapi kasus yang menjerat sosok yang pernah mereka usung tersebut.
Harta Kekayaan Rp12 Miliar dan Dugaan Suap
Di balik rekam jejaknya, sisi finansial Ardito juga menjadi sorotan. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) periode April 2025, Ardito memiliki total kekayaan bersih mencapai Rp12,85 miliar.
Sebagian besar hartanya berupa tanah dan bangunan senilai Rp12 miliar, serta alat transportasi senilai Rp705 juta. Namun, angka-angka fantastis itu kini tak bisa menyelamatkannya.
KPK menduga Ardito terlibat suap terkait proyek dan pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD).
Kini, sang dokter yang dulu sibuk memeriksa pasien, harus menjalani pemeriksaan intensif sebagai terduga koruptor, hanya sehari setelah ia merayakan Hari Antikorupsi Sedunia. ***
Editor : Dwi Puspitarini