Dalam keterangannya, Hegseth menyebut keputusan menghentikan konflik sepenuhnya berada di tangan Presiden Donald Trump. Pemerintah AS, kata dia, akan terus menjalankan operasi hingga target strategis dianggap tercapai.
Seiring berlanjutnya konflik, Pentagon juga mengajukan tambahan anggaran besar kepada Kongres. Nilainya mencapai lebih dari USD 200 miliar atau setara Rp 3,3 kuadriliun.
Dana tersebut disiapkan untuk mendukung operasi militer yang sedang berlangsung maupun potensi eskalasi ke depan.
Hegseth menegaskan kebutuhan anggaran bisa berubah tergantung situasi di lapangan. Ia juga menekankan pentingnya dukungan finansial guna memastikan kekuatan militer AS tetap optimal dalam menghadapi ancaman.
Langkah ini menandakan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi berkepanjangan, sekaligus meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi dunia.
Editor : Uways Alqadrie