Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dinkes Kaltim Ancam Coret Rumah Sakit yang Eksploitasi Dokter Internship, Buntut Kasus Viral di Jambi

Eko Pralistio • Kamis, 14 Mei 2026 | 20:23 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (EKO/KALTIM POST)
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (EKO/KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Kasus meninggalnya dokter internship, dr Myta Aprilia Azmi, di Jambi memicu perhatian luas terhadap kondisi kerja dokter muda di Indonesia. Dugaan kelelahan dan beban kerja berlebih yang dialami korban ikut menyoroti praktik jam kerja dokter internship di berbagai daerah.

Merespons hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr Jaya Mualimin, menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir rumah sakit yang mengeksploitasi dokter magang.

Dia memastikan fasilitas kesehatan yang terbukti mempekerjakan dokter internship di luar batas kewajaran bakal dicoret dari daftar wahana pendidikan dan tak lagi diizinkan menerima peserta internship.

Baca Juga: Kuota BST Disabilitas Kaltim Dipangkas Tajam: Dari 6.000 Kini Hanya Sisa 500 Penerima

"Jadi setiap ada kegiatan, kami juga selalu ada evaluasi. Nah kalau sampai hasil evaluasinya ada rumah sakit yang memanfaatkan dokter dieksploitasi, maka rumah sakit itu nantinya enggak dipakai lagi," ucapnya, Kamis (14/5/2026).

Pernyataan itu juga merespons kabar soal dugaan jam kerja berlebih di salah satu rumah sakit di Kaltim. Kata Jaya, pengawasan terhadap dokter internship selama ini dilakukan secara ketat.

Dijelaskannya, setiap kelompok yang terdiri dari 10 dokter internship didampingi satu dokter pembimbing untuk memastikan proses pendidikan dan pelayanan berjalan sesuai aturan.

Baca Juga: Abdunnur Maju Lagi di Pilrek Unmul 2026–2030, Membawa Misi Besar Melanjutkan Transformasi Unmul Menuju Kampus Bereputasi Global

Kendati begitu, Jaya mengklaim pelaksanaan program internship di Kaltim sejauh ini berjalan kondusif. Dari total 71 dokter internship yang bertugas tahun ini, seluruhnya dinyatakan lulus evaluasi.

“Dari hasil evaluasi, tidak ada laporan terkait bullying, ketidaknyamanan dalam bekerja, atau eksploitasi di Kalimantan Timur. Bahkan mereka yang sakit pun pasti akan kami fasilitasi,” ujarnya.

Puluhan dokter muda tersebut ditempatkan di sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di kabupaten/kota se-Kaltim. Di Samarinda, beberapa di antaranya bertugas di Rumah Sakit Tentara Samarinda, RSUD I.A. Moeis, dan Samarinda Medika Citra Hospital.

Baca Juga: Deadline Gratispol Kaltim 30 Juni 2026, Ribuan Mahasiswa Diminta Segera Verifikasi Data

Di sisi lain, Jaya mengakui kebutuhan tenaga dokter di Kaltim masih cukup besar. Dengan jumlah penduduk yang kini mencapai sekitar 4 juta jiwa, rasio ideal 1 dokter untuk 1.000 penduduk masih belum terpenuhi.

 

Saat ini jumlah dokter di Kaltim tercatat lebih dari 2.000 orang. Namun, pemerintah daerah masih membutuhkan sekitar 1.500 dokter tambahan untuk mencapai rasio ideal tersebut.

“Artinya memang masih kurang. Untuk memenuhi rasio ideal 1 banding 1.000 itu, kita masih membutuhkan sekitar 1.500-an dokter lagi,” katanya.

Untuk diketahui, kasus meninggalnya dr. Myta sebelumnya memicu evaluasi nasional terhadap sistem internship dokter. 

Kementerian Kesehatan pun telah mengeluarkan aturan baru yang membatasi jam kerja dokter internship maksimal 40 jam per minggu demi menjaga kesehatan dan keselamatan tenaga medis muda. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#dokter internship #Diskes Kaltim #Jaya Mualimin