Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Retak di Kabinet Trump, Direktur Intelijen AS Tulsi Gabbard Mundur di Tengah Rumor Konflik Perang Iran

Ari Arief • Sabtu, 23 Mei 2026 | 16:21 WIB
JABAT TANGAN: Presiden AS, Donald Trump saat berjabat tangan dengan Tulsi Gabbard, direktur Intelijen Nasional AS yang kini diisukan mundur.(AFP)
JABAT TANGAN: Presiden AS, Donald Trump saat berjabat tangan dengan Tulsi Gabbard, direktur Intelijen Nasional AS yang kini diisukan mundur.(AFP)

 

KALTIMPOST.ID,WASHINGTON DC-Publik global selalu tertarik dengan berita-berita yang berkaitan dengan Presiden Amerika Serikat, Donal Trump. Berita terbaru, kabinet Presiden Donald Trump sekarang ini kembali diguncang gelombang pengunduran diri pejabat tinggi. Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, resmi mengumumkan mundur dari jabatannya pada Jumat (22/5) waktu setempat.

Berdasarkan penelusuran media ini, meski Gabbard berdalih keputusannya diambil demi merawat sang suami yang mengidap kanker tulang langka, rumor panas yang beredar menyebut mantan anggota Kongres itu sebenarnya dipaksa mundur oleh Gedung Putih akibat berselisih dengan Trump soal perang melawan Iran.

Laporan dari Fox News menyebutkan bahwa Gabbard telah menyampaikan langsung niat mundurnya kepada Trump di Ruang Oval Gedung Putih. Pengunduran diri pejabat yang menjabat sejak 2025 ini dinyatakan baru akan berlaku efektif pada 30 Juni mendatang.

"Suami saya menghadapi tantangan besar dalam beberapa minggu dan bulan ke depan. Saat ini, saya harus mundur dari pelayanan publik untuk berada di sisinya dan sepenuhnya mendukungnya melalui perjuangan ini," tulis Gabbard dalam surat resminya yang diunggah di media sosial X.

Baca Juga: Sembilan Relawan WNI yang Ditangkap Israel Dijadwalkan Tiba di Jakarta Minggu Sore

Menanggapi hal itu, Presiden Donald Trump merilis pernyataan via Truth Social yang memuji kinerja Gabbard dan mengonfirmasi bahwa posisi Direktur Intelijen sementara (Plt) akan diambil alih oleh wakilnya, Aaron Lukas. Trump menegaskan bahwa keputusan Gabbard mundur demi suaminya adalah langkah yang "tepat".

Diterpa Isu "Pembersihan" dan Ketegangan Isu Iran

Kendati alasan keluarga dikemukakan ke publik, laporan dari Reuters mengungkap sisi lain. Seorang sumber internal menyebut adanya tekanan kuat dari Gedung Putih yang memaksa Gabbard untuk meletakkan jabatan.

Meski kepala staf Gabbard, Alexa Kenning, dan juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, dengan cepat membantah rumor tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah, rekam jejak ketegangan antara Gabbard dan Trump sulit disembunyikan.

Baca Juga: Kaltim Catat Kenaikan NTP 1,24 Persen di Tengah Pelemahan Nasional

Sebagai politikus yang dikenal anti-intervensi militer, Gabbard berulang kali berseberangan dengan kebijakan luar negeri Trump, terutama setelah pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu. Seperti, Gabbard dilaporkan tidak hadir saat Trump mengumpulkan penasihat utama sesaat sebelum serangan ke Iran diluncurkan pada 28 Februari.

Kemudian, beda sikap soal nuklir Iran yang dibuktikan dalam sidang Kongres, Gabbard menolak mendukung klaim Trump bahwa Iran membangun kembali kapasitas nuklirnya—sebuah narasi yang dipakai Trump sebagai pembenaran perang. Trump bahkan sempat secara terbuka mengabaikan laporan intelijen Gabbard dengan menyebut, "Saya tidak peduli dengan apa yang dia katakan."

Mundurnya Gabbard ini menyusul jejak penasihat utamanya, Joe Kent, yang lebih dulu resign dua bulan lalu karena mendesak Trump mengubah arah kebijakan terkait perang Iran.

 Menteri Keempat yang Angkat Kaki

Mundurnya Tulsi Gabbard memperpanjang daftar "bedol desa" menteri perempuan di periode kedua pemerintahan Trump dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Impor Nonmigas Kaltim dari Singapura Melonjak 178 Persen pada Maret 2026

Sebelum Gabbard, Trump telah memecat Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem (Maret) dan Jaksa Agung Pam Bondi (April). Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer juga memilih mundur pada April lalu di tengah rentetan skandal.

Kini, dengan mundurnya Gabbard, posisi sentral yang bertugas mengoordinasikan informasi harian dari 18 badan intelijen AS ke meja kerja Presiden dipastikan lowong dan membayangi stabilitas politik luar negeri AS di tengah kecamuk perang Timur Tengah.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#Tulsi Gabbard #nuklir #as #iran #donald trump