KALTIMPOST.ID - Situasi di Lebanon selatan kian mencekam setelah agresi Israel dilaporkan semakin meluas secara agresif. Kabar mengejutkan datang setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melakukan kunjungan mendadak ke area perbatasan pada Sabtu (30/5/2026). Kedatangannya seolah menjadi sinyal lampu hijau bagi pasukannya untuk merebut wilayah baru yang lebih krusial.
Dalam pernyataan resminya di perbatasan, Benjamin Netanyahu mengonfirmasi bahwa pasukannya telah berhasil bergerak jauh melampaui batas sebelumnya. Pasukan darat mereka kini dilaporkan telah melintasi bagian utara Sungai Litani dan terus merangsek ke area strategis di Lebanon selatan. Target utama mereka saat ini adalah menguasai dataran tinggi di sebelah selatan kota Nabatieh.
Langkah ini memicu kemarahan sekaligus rasa frustrasi yang mendalam bagi masyarakat setempat. Pasalnya, pergerakan militer tersebut dinilai sudah keterlaluan karena nekat menerobos zona keamanan kuning yang selama ini disepakati sebagai batas aman di wilayah Lebanon selatan. Warga merasa tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman dari jangkauan pertempuran.
Ironisnya, perluasan agresi Israel ini terjadi justru di tengah upaya diplomatik yang sedang berjalan. Pemerintah Lebanon dan Israel sebenarnya masih terus melakukan pembicaraan intensif untuk mencari solusi keamanan yang bisa diterima kedua belah pihak. Namun, rentetan serangan udara, drone, dan artileri yang terus menghujani Lebanon timur selama sepekan terakhir membuat masa depan perdamaian ini menjadi sangat abu-abu.
Sejumlah ahli hukum internasional bahkan mencurigai ada motif tersembunyi di balik manuver ini. Mereka memperingatkan bahwa operasi militer skala besar tersebut diduga kuat bertujuan untuk mengusir penduduk lokal secara permanen. Israel disebut-sebut ingin menciptakan zona penyangga tak berpenghuni di sepanjang perbatasan mereka.
Ancaman Kelaparan dan Penyakit Mengintai Pengungsi
Dampak dari pertempuran ini memicu terjadinya krisis kemanusiaan yang sangat mengerikan dan sulit dibendung. Sejak serangan masif ini pecah pada awal Maret lalu, tercatat sudah ada ratusan ribu warga Lebanon mengungsi meninggalkan rumah mereka demi menyelamatkan diri. Mereka kini terpaksa bertahan hidup di kamp-kamp darurat dengan fasilitas seadanya tanpa kejelasan kapan bisa kembali pulang.
Kondisi di lapangan semakin diperparah dengan ambruknya sistem kesehatan setempat akibat konflik yang berkepanjangan. Sekitar 40 rumah sakit yang berada di wilayah selatan terpaksa berhenti beroperasi demi keselamatan tenaga medis dan pasien. Lebih buruk lagi, sejumlah organisasi bantuan internasional terkemuka mulai memberikan peringatan keras bahwa mereka kemungkinan besar harus menarik diri dari wilayah konflik karena situasi keamanan yang terus memburuk dan tidak lagi kondusif untuk menyalurkan bantuan.***
Editor : Dwi Puspitarini