Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Beranda Digital di Ujung Kaltim: Internet Jadi Jembatan UMKM Pulau Terluar, Produknya Terbang hingga Swiss dan Amerika (1)

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 14 Juni 2026 | 19:06 WIB
PASAR: Usaha yang dibangun sejak 2010, kini Mentari Bohe Silian jangkau pasar dunia sejak 6 tahun terakhir berkat internet. (RORO/KP)
PASAR: Usaha yang dibangun sejak 2010, kini Mentari Bohe Silian jangkau pasar dunia sejak 6 tahun terakhir berkat internet. (RORO/KP)

Di sebuah pulau yang berbatasan langsung dengan jalur internasional, kue jaa khas Suku Bajau dari Kampung Bohe Silian, Pulau Maratua, Berau Kalimantan Timur kini tak lagi hanya dinikmati warga sekitar. Produk rumahan itu telah menyeberang hingga Swiss dan Amerika Serikat.

RADEN RORO MIRA, Berau 

DI balik perjalanan panjang tersebut, ada satu hal yang perlahan mengubah wajah usaha kecil di Pulau Maratua, yakni internet. Bagian Pemasaran Kelompok UMKM Mentari Bohe Silian, Erna Puspita, masih mengingat bagaimana kelompok usaha yang dirintisnya bersama sang ibu sejak 2010 itu tumbuh dari empat anggota menjadi 10 anggota seperti sekarang.

Awalnya mereka mengembangkan 15 jenis produk. Namun seiring waktu, hanya sembilan produk yang terus dipertahankan karena permintaannya tinggi dan mampu bertahan lama tanpa bahan pengawet. Yakni kue jaa atau sarang semut, kriuk daing (ikan), stik ikan, krip-krip, amplang, piksang (keripik pisang), sirup kemangi, abon ikan, dan kue rokok (semprong).

"Jadi memang kita selama 10 tahunan ini memang internet itu kurang bagus. Itu kendalanya," ujar perempuan kelahiran 1991 itu. Sehingga kondisi tersebut membuat promosi produk berjalan lambat. Usaha tersebut hanya berkembang di kalangan sendiri.

Perlahan keadaan berubah. Dukungan berbagai pihak mulai pemerintahan hingga sejumlah organisasi pendamping membantu memperkenalkan produk-produk UMKM Maratua ke pasar yang lebih luas melalui platform digital. Tepatnya saat 2020 lalu. "Nah, itu sangat membantu pemasaran. Walaupun kita punya Instagram, tapi diorang (mereka) tetap promosikan juga dari akun diorang," kata perempuan berdarah Bajau tersebut.

Kini produk unggulan seperti kue jaa dan sirup kemangi bahkan telah dibawa hingga ke luar negeri melalui jaringan mitra dan pelaku usaha wisata. "Swiss sama Amerika Serikat," ucap Erna saat ditanya negara tujuan produknya.

Selain promosi, internet juga mempermudah transaksi. Erna mengaku kini lebih memilih pembayaran melalui transfer dibanding metode lain karena lebih mudah dipantau secara langsung. Terutama di era sistem pembayaran non-tunai saat ini. Memudahkan juga bagi pembeli yang menerapkan sistem cashless.

Ada empat desa di Maratua, selain Bohe Silian, juga ada Payung-Payung, Teluk Harapan dan Teluk Alulu. Semua desa sudah terfasilitasi internet. Peran internet dalam pemasaran produk lokal juga diakui Sekretaris Kampung Payung-Payung, Rino. Menurut dia, sebagian besar pelaku UMKM sudah memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. "Kalau masuk di marketplace itu memang masih belum banyak. Mereka itu masuk di media sosial untuk sebatas promosi-promosi saja," katanya.

Meski demikian, pemasaran digital mulai membantu memperkenalkan berbagai produk khas kampung seperti sambal tongkol dan sambal balelo (siput laut) kepada pasar yang lebih luas. Peningkatan literasi digital lewat pelatihan berbasis ekonomi juga semakin digencarkan.

Di tingkat nasional, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) yang berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melihat digitalisasi sebagai salah satu kunci pertumbuhan ekonomi daerah. Direktur BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar mengatakan internet tidak cukup hanya hadir sebagai fasilitas komunikasi. Kehadirannya harus mampu mendorong produktivitas masyarakat.

"Kalau di BAKTI tentu kami mengharapkan bahwa semua instalasi internet yang kita pasang ataupun sinyal 4G itu memberikan manfaat untuk mendorong produktivitas masyarakat. Begitu produktivitas masyarakat tumbuh, ekonomi akan tumbuh. Pembukaan lapangan kerja akan tumbuh," ujarnya saat meninjau langsung hasil pembangunan infrastruktur telekomunikasi BAKTI Komdigi di Pulau Maratua, Kamis (11/6).

Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar.
Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar.

Dia menjelaskan sejumlah studi internasional menunjukkan digitalisasi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi regional antara 1,3 hingga 7 persen. Menurutnya, daerah yang baru mulai mengadopsi layanan digital justru berpotensi memperoleh dampak ekonomi lebih besar dibanding wilayah yang sudah matang secara digital.

"Kalau di daerah itu kenapa bisa lebih tinggi? Karena platform yang digunakan di daerah itu mereka rata-rata masih dalam fase yang mungkin di kota-kota besar sudah tidak ada. Manfaat perdagangan dan lain sebagainya itu baru dilakukan di daerah," jelasnya.

BAKTI saat ini mengembangkan program e-community untuk membantu mengidentifikasi sekaligus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat yang bisa tumbuh melalui pemanfaatan teknologi digital.

Bagi Erna dan kelompok usahanya, manfaat itu sudah mulai terasa. Dari dapur sederhana di Pulau Maratua, produk-produk buatan mereka kini menemukan jalannya sendiri menuju pasar yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#bakti komdigi #UMKM Kaltim #berau #maratua