KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Pemerintah Inggris, melalui Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), telah merilis panduan perjalanan terbaru untuk 2026.
Dalam laporan tersebut, Indonesia tetap menjadi salah satu negara yang mendapatkan perhatian serius terkait aspek keselamatan bagi warga negara Inggris.
Berbeda dengan negara lain yang dipicu oleh konflik politik, status waspada untuk Indonesia didominasi oleh faktor alam.
FCDO menekankan risiko tinggi di kawasan "Ring of Fire" (Cincin Api) Indonesia, terutama akibat meningkatnya aktivitas tektonik dan vulkanik.
Berdasarkan laporan The Independent, pelancong asal Inggris diimbau untuk tidak mendekati radius bahaya gunung-gunung api aktif, seperti Gunung Lewotobi Laki-Laki, Gunung Sinabung dan Gunung Marapi, Gunung Semeru, Gunung Ruang dan Gunung Ibu.
Baca Juga: Hati-hati! Sehat Tanpa Rokok tapi Stroke karena Minuman Energi
Secara total, FCDO mengevaluasi keamanan di 226 negara. Sebanyak 71 negara masuk dalam kategori zona berbahaya karena berbagai alasan, mulai dari peperangan hingga risiko kesehatan. Berikut ringkasan klasifikasinya:
Larangan kunjungan total berlaku bagi negara dengan konflik terbuka seperti Afghanistan, Rusia, Suriah, Yaman, dan Iran.
Larangan kunjungan wilayah tertentu selain Indonesia (pada radius gunung berapi), kategori ini mencakup wilayah perbatasan Thailand-Kamboja, Myanmar yang sedang dilanda konflik, serta Mindanao di Filipina.
Pemerintah Inggris juga imbau perjalanan hanya untuk urusan mendesak mencakup pesisir timur Sabah (Malaysia), Provinsi Xaisomboun (Laos), dan beberapa wilayah di Papua Nugini serta Kolombia.
Status travel warning ini membawa konsekuensi serius bagi pelancong. Warga Inggris yang tetap mengunjungi zona merah tersebut berisiko kehilangan perlindungan konsuler serta hangusnya klaim asuransi perjalanan jika terjadi kecelakaan atau insiden.
Bagi sektor pariwisata Indonesia, pengumuman ini menjadi tantangan besar, mengingat panduan FCDO seringkali menjadi standar referensi bagi turis internasional lainnya dalam menyusun rencana perjalanan mereka.(*)
Editor : Dwi Puspitarini