Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bontang Pangkas Belanja Operasi Rp23,48 Miliar, Pelayanan Dasar Tetap Dijaga

A
Penulis: Adhiel kundhara❯
BACAKAN: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni memaparkan terkait rancangan perubahan KUA-PPAS tahun anggaran 2026 dalam rapat paripurna. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP
BACAKAN: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni memaparkan terkait rancangan perubahan KUA-PPAS tahun anggaran 2026 dalam rapat paripurna. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP

Advertisement

BONTANG- Efisiensi anggaran mulai menyentuh belanja operasional Pemerintah Kota Bontang. Namun pemerintah memastikan pemangkasan tidak diarahkan untuk mengorbankan pelayanan dasar masyarakat.

Dalam Perubahan KUA-PPAS APBD 2026, belanja operasi Bontang dipangkas Rp23,48 miliar. Pagu yang semula Rp1,555 triliun menjadi Rp1,531 triliun atau turun 1,51 persen.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan penyesuaian tersebut dilakukan setelah pemerintah menelaah realisasi pelaksanaan APBD sampai semester pertama. Komponen yang masih bisa ditekan menjadi sasaran efisiensi, sementara kebutuhan yang bersifat wajib tetap dipertahankan.

Advertisement

Belanja gaji dan tunjangan, tagihan rutin, kegiatan yang sudah memiliki kontrak, pelayanan dasar, serta operasional minimum perangkat daerah masuk dalam komponen yang tetap dijaga.

Sebaliknya, pemerintah mencari ruang penghematan dari biaya pendukung yang masih memungkinkan ditekan. Di antaranya belanja administrasi, perjalanan dinas, rapat, honorarium, dan kebutuhan lain yang bisa dilaksanakan dengan biaya lebih rendah tanpa mengurangi keluaran pelayanan.

Neni menegaskan, efisiensi tersebut bukan berarti pemerintah mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Fokusnya adalah mengalihkan belanja yang masih dapat dikendalikan untuk memastikan kebutuhan yang benar-benar wajib tetap terpenuhi.

Advertisement

“Jadi yang kita lakukan pada Belanja Operasi bukan mengurangi pelayanan, melainkan menekan komponen biaya pendukung yang masih bisa dikendalikan,” kata Neni.

Di tengah pengetatan anggaran, pemerintah juga tetap menyiapkan ruang untuk kebutuhan yang muncul hingga akhir 2026. Pembayaran utilitas, kebutuhan operasional pelayanan, maupun kewajiban akibat kondisi yang sebelumnya tidak dapat diprediksi tetap harus diakomodasi.

Kebijakan tersebut menjadi penting karena kemampuan fiskal Bontang mengalami koreksi. Setelah audit laporan keuangan 2025, SiLPA yang semula diperkirakan Rp323,38 miliar ternyata ditetapkan Rp178,007 miliar. Selisih tersebut membuat penerimaan pembiayaan turun 44,95 persen atau Rp145,37 miliar.

Selain belanja operasi dan belanja modal, Belanja Tidak Terduga (BTT) juga mengalami penyesuaian. Pagu BTT turun dari Rp6 miliar menjadi Rp2,782 miliar atau berkurang 53,62 persen. Sebagian anggaran tersebut telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja wajib dan mengikat yang muncul selama tahun berjalan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Neni Terbitkan Edaran, Posyandu Bontang Bisa Dihentikan Sementara

Neni Terbitkan Edaran, Posyandu Bontang Bisa Dihentikan Sementara

Imunisasi anak tetap bisa diakses melalui puskesmas, sementara layanan alternatif seperti kunjungan rumah dapat diterapkan sesuai kondisi.

Labkesmas Bontang Dapat Rp18 Miliar dari Kemenkes, Lantai Dua Dibangun 2027   

Labkesmas Bontang Dapat Rp18 Miliar dari Kemenkes, Lantai Dua Dibangun 2027  

Pembangunan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kota Bontang mendapat angin segar.

Beredar Kabar Lahan Sengaja Dibakar, Pemkot Desak Polisi Usut Tuntas

Beredar Kabar Lahan Sengaja Dibakar, Pemkot Desak Polisi Usut Tuntas

Pemkot Bontang meminta kepolisian mengusut tuntas dugaan kesengajaan dalam kebakaran lahan di Jalan Soekarno-Hatta.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer