Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Populisme, Militerisme, dan Ruang Kritik di Era Prabowo

R
Penulis: Redaksi KP❯

 Arya Wijaya Pramodha Wardhana


Advertisement

Arya Wijaya Pramodha Wardhana

Oleh:

Arya Wijaya Pramodha Wardhana
Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

Advertisement

&

Amanina Rasyid Wiyani
Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga; Asisten Riset Center for Legal Pluralism Studies

 

Advertisement

DEMOKRASI tidak hanya diuji melalui penyelenggaraan pemilihan umum yang bebas dan kompetitif. Kualitas demokrasi justru lebih terlihat setelah sebuah pemerintahan terbentuk, terutama dari sejauh mana ruang kritik tetap terpelihara dan perbedaan pendapat dipandang sebagai bagian yang sah dalam kehidupan bernegara.

Dalam konteks Indonesia saat ini, dinamika tersebut menjadi menarik untuk dicermati pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Gaya komunikasi politik yang selama ini dikenal populis tampaknya tidak berhenti setelah kontestasi elektoral usai. Sebaliknya, pola tersebut terus bertransformasi menjadi bagian dari strategi membangun legitimasi politik sekaligus memengaruhi opini publik.

Amanina Rasyid Wiyani.
Amanina Rasyid Wiyani.

Jauh sebelum menjabat sebagai presiden, Prabowo telah membangun komunikasi politik yang kuat melalui berbagai media, mulai dari papan reklame hingga media sosial. Sejumlah penelitian komunikasi politik menunjukkan bahwa citra sebagai pemimpin yang tegas, patriotik, dan dekat dengan rakyat dibangun secara konsisten selama bertahun-tahun. Strategi tersebut kemudian semakin menguat pada Pemilu 2024 melalui narasi yang menempatkan pemimpin sebagai representasi langsung kepentingan rakyat.

Dalam kajian politik, pola semacam itu dikenal sebagai populisme. Populisme bekerja dengan membangun dikotomi antara "rakyat" dan "elite", sekaligus menghadirkan sosok pemimpin sebagai figur yang dipercaya mampu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Indonesia Darurat Karhutla

Indonesia Darurat Karhutla

Data kebakaran hutan dan lahan Indonesia hingga Oktober 2026 memperlihatkan persoalan serius yang tidak boleh ditutupi

HUT ke-81 TNI 5 Oktober 2026: Presiden Prabowo Jadi Inspektur Upacara di Mabes TNI Cilangkap

HUT ke-81 TNI 5 Oktober 2026: Presiden Prabowo Jadi Inspektur Upacara di Mabes TNI Cilangkap

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir pada puncak HUT ke-81 TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, 5 Oktober 2026.

September Kelabu: Masih Abu-Abu

September Kelabu: Masih Abu-Abu

September seakan berkata: kalau satu masalah belum selesai, jangan khawatir, masih ada stok masalah lainnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer