Oleh:
Charli Sitinjak
Akademisi/Psikologi Transportasi Indonesia
TRANSPORTASI sungai di Kaltim hari ini tidak lagi sekadar mengalirkan barang. Dia juga mengalirkan risiko.
Sungai Mahakam, yang dahulu menjadi nadi kehidupan masyarakat, kini berubah menjadi koridor logistik berintensitas tinggi yang dipenuhi tongkang batubara berukuran raksasa.
Di ruang yang sama, jembatan berdiri sebagai simbol konektivitas publik dan justru di titik itulah benturan terus terjadi.
Dalam beberapa tahun terakhir, publik kembali dihadapkan pada peristiwa yang terasa familiar: tongkang menabrak jembatan.
Insiden seperti tabrakan terhadap Jembatan Mahakam bukanlah kejadian tunggal. Sejak peristiwa besar tahun 2011 yang merusak struktur jembatan, kejadian serupa terus berulang dalam bentuk yang berbeda dengan pola yang hampir identik.
Tongkang lepas kendali, arus sungai menguat, visibilitas terbatas, atau kesalahan operasional narasi penjelasannya selalu sama.
Namun justru di situlah letak persoalan utamanya: ketika sebuah kejadian terus berulang dengan alasan yang sama, maka yang kita hadapi bukan lagi kecelakaan, melainkan sistem yang gagal belajar.
Fenomena itu menunjukkan bahwa transportasi sungai di Kalimantan Timur telah bergerak dari sekadar persoalan teknis menjadi risiko yang terstruktur dan terpelihara.
Ledakan Aktivitas Tongkang dan Tekanan pada Infrastruktur Sungai
Kaltim hari ini berdiri sebagai salah satu pusat produksi batu bara terbesar di Indonesia, dengan kontribusi besar terhadap ekspor nasional.
Namun di balik angka-angka pertumbuhan tersebut, terdapat satu realitas yang sering luput dari perhatian: beban yang harus ditanggung oleh sistem transportasi sungai, khususnya Sungai Mahakam.
Sungai itu telah berubah dari jalur kehidupan menjadi jalur industri. Setiap hari, puluhan hingga ratusan tongkang melintasi alirannya, masing-masing membawa ribuan ton batu bara.
Rangkaian tongkang yang ditarik kapal tunda dapat membentang hingga ratusan meter, bergerak perlahan namun membawa massa yang sangat besar cukup untuk mengubah dinamika ruang sungai secara keseluruhan.
Dalam kondisi seperti ini, sungai bukan lagi ruang terbuka, melainkan ruang yang padat, sempit, dan penuh tekanan.
Perahu masyarakat, kapal penumpang, hingga aktivitas lokal harus berbagi jalur dengan armada industri berskala besar yang memiliki daya dominasi jauh lebih tinggi.
Masalahnya bukan hanya pada jumlah, tetapi pada ketidakseimbangan antara volume aktivitas dan kapasitas sistem.
Infrastruktur seperti jembatan termasuk Jembatan Mahakam dibangun dalam konteks konektivitas publik, bukan untuk menghadapi lalu lintas logistik berat dengan intensitas tinggi seperti saat ini.
Namun realitas di lapangan berubah lebih cepat daripada desain sistemnya. Volume tongkang meningkat, tetapi sistem navigasi, pengawasan, dan pengaturan lalu lintas sungai tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.
Tidak ada penyesuaian yang cukup signifikan untuk mengelola kepadatan, mengatur jarak aman, atau meminimalkan interaksi berisiko antara tongkang dan infrastruktur tetap.
Dalam kondisi seperti ini, tabrakan bukan lagi kejadian luar biasa. Ia menjadi konsekuensi logis dari sistem yang dipaksa bekerja melampaui kapasitasnya.
Human Error atau System Error? Perspektif Transport Psychology
Dalam setiap insiden tabrakan tongkang, penjelasan yang hampir selalu muncul adalah human error. Operator dianggap lalai, kurang hati-hati, atau gagal mengendalikan kapal dalam kondisi tertentu.
Penjelasan ini terdengar logis, tetapi dalam perspektif transport psychology, ia justru terlalu menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Perilaku manusia dalam sistem transportasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dibentuk oleh interaksi antara tekanan lingkungan, desain sistem, serta tuntutan operasional.
Operator tongkang tidak bekerja dalam kondisi ideal; mereka harus mengendalikan muatan besar di aliran sungai dengan arus yang dinamis, visibilitas yang sering terbatas, serta kepadatan lalu lintas yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, beban kognitif meningkat secara signifikan.
Kondisi tersebut dalam psikologi kognitif dikenal sebagai cognitive overload, yaitu keadaan ketika kapasitas individu untuk memproses informasi melampaui batas optimalnya.
Dalam situasi ini, kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan akurat menurun.
Kesalahan kecil yang dalam kondisi normal mungkin dapat dihindari berpotensi berkembang menjadi kegagalan besar dengan konsekuensi serius.
Namun, tekanan tidak hanya datang dari kompleksitas lingkungan. Ia juga datang dari repetisi.
Operator yang setiap hari melewati jalur yang sama, menghadapi risiko yang sama, dan berhasil melaluinya tanpa insiden, secara perlahan mengembangkan persepsi bahwa situasi tersebut aman.
Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai risk habituation proses di mana individu menjadi terbiasa terhadap risiko karena paparan yang berulang tanpa konsekuensi langsung.
Masalahnya, habituasi itu tidak menghilangkan risiko, tetapi hanya menurunkan sensitivitas terhadapnya.
Jalur sempit di bawah jembatan tetap berbahaya, arus sungai tetap tidak terprediksi, dan potensi kegagalan tetap ada. Namun secara psikologis, risiko tersebut terasa lebih kecil dari kenyataannya.
Ketika cognitive overload bertemu dengan risk habituation, terbentuklah kondisi yang sangat rentan.
Di satu sisi, operator menghadapi beban kognitif yang tinggi; di sisi lain, mereka memiliki persepsi risiko yang menurun. Dalam kombinasi ini, kesalahan bukan lagi anomali, melainkan sesuatu yang hampir tak terhindarkan.
Dalam kerangka ini, menyebut kecelakaan sebagai human error menjadi tidak cukup. Karena yang sebenarnya terjadi bukan sekadar kesalahan individu, tetapi kegagalan sistem dalam mengelola batas kemampuan manusia.
Dengan kata lain, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi “siapa yang salah”, melainkan “sistem seperti apa yang membuat kesalahan itu menjadi mungkin bahkan berulang.”
Normalisasi Risiko dan Kegagalan Pembelajaran Sistem
Yang paling mengkhawatirkan dari rangkaian insiden tabrakan tongkang bukan hanya peristiwanya, tetapi cara sistem meresponsnya.
Setiap kejadian hampir selalu diperlakukan sebagai insiden yang berdiri sendiri sebuah kecelakaan yang kebetulan terjadi bukan sebagai bagian dari pola yang berulang dan seharusnya dibaca sebagai sinyal kegagalan sistemik.
Padahal, ketika peristiwa yang sama terjadi berulang dengan karakteristik yang serupa, yang kita hadapi bukan lagi kebetulan, melainkan pola.
Dalam perspektif psikologi organisasi, kondisi ini dikenal sebagai normalization of deviance sebuah proses di mana penyimpangan dari standar keselamatan secara perlahan diterima sebagai hal yang wajar.
Ketika pelanggaran atau risiko tinggi tidak segera menghasilkan konsekuensi besar, sistem cenderung menganggapnya masih dalam batas toleransi.
Dalam konteks transportasi sungai di Kaltim, praktik operasional yang sebenarnya berisiko tinggi seperti melintas dengan jarak sempit di bawah jembatan atau mengoperasikan tongkang besar dalam kondisi arus yang tidak stabil perlahan menjadi rutinitas.
Karena insiden tidak selalu terjadi, maka risiko dianggap terkendali. Padahal, yang terjadi hanyalah penundaan dari kegagalan yang sama.
Setiap kali tabrakan terjadi, respons biasanya bersifat reaktif: investigasi dilakukan, aturan diperketat, pengawasan ditingkatkan untuk sementara.
Namun seiring waktu, perhatian mereda, tekanan operasional kembali meningkat, dan sistem perlahan kembali ke pola lama. Inilah yang mencerminkan tidak adanya pembelajaran sistemik.
Dalam sistem yang belajar, setiap kegagalan seharusnya mengarah pada perubahan mendasar baik dalam desain operasional, regulasi, maupun distribusi risiko.
Namun dalam sistem yang gagal belajar, kegagalan justru menjadi bagian dari siklus yang berulang.
Akibatnya, sungai tidak hanya menjadi jalur transportasi, tetapi juga menjadi ruang dengan risiko laten yang terus dipelihara.
Tabrakan tidak lagi dipandang sebagai kemungkinan kecil yang harus dicegah, melainkan sebagai kejadian yang “sesekali terjadi” dan karena itu, secara implisit diterima.
Di titik ini, masalahnya bukan lagi pada kurangnya aturan atau teknologi, melainkan pada bagaimana sistem secara kolektif membiasakan diri terhadap risiko hingga akhirnya kehilangan urgensi untuk benar-benar berubah.
Dampak Sosial dan Psikologis yang Terabaikan
Di balik setiap insiden tabrakan tongkang, terdapat dampak yang jauh melampaui kerusakan fisik.
Jembatan yang terdampak bukan sekadar infrastruktur yang terganggu, tetapi simbol rasa aman yang ikut retak.
Bagi masyarakat yang setiap hari melintasi jembatan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak sederhana: apakah ruang yang mereka gunakan benar-benar aman?
Dalam perspektif psikologi lingkungan, kondisi ini berkaitan dengan menurunnya sense of safety, yaitu persepsi individu terhadap keamanan ruang publik.
Ketika infrastruktur yang seharusnya stabil dan dapat diandalkan justru berulang kali terpapar risiko, maka rasa percaya terhadap sistem perlahan terkikis.
Rasa aman tidak hilang secara tiba-tiba, tetapi memudar melalui pengalaman-pengalaman kecil yang terus berulang.
Lebih jauh, masyarakat yang hidup di sepanjang aliran sungai juga mengalami perubahan dalam relasi mereka dengan lingkungan.
Sungai yang dahulu menjadi ruang kehidupan tempat mencari nafkah, berinteraksi, dan bermobilitas kini berubah menjadi ruang yang harus dihadapi dengan kewaspadaan.
Aktivitas industri berskala besar tidak hanya mengubah fungsi sungai, tetapi juga mengubah makna psikologisnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melahirkan apa yang disebut sebagai collective unease, yaitu ketidaknyamanan kolektif yang tidak selalu terlihat, tetapi dirasakan.
Masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi dengan tingkat kepercayaan yang menurun terhadap ruang di sekitarnya.
Fenomena tabrakan tongkang di Kaltim pada akhirnya memperlihatkan bahwa persoalan transportasi tidak pernah berhenti pada aspek teknis atau operasional semata.
Ia selalu terkait dengan bagaimana risiko dikelola, bagaimana sistem dirancang, dan bagaimana manusia diposisikan di dalamnya.
Selama pendekatan yang digunakan masih berfokus pada kesalahan individu, tanpa menyentuh struktur yang lebih besar, maka kecelakaan akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda, tetapi dengan pola yang sama.
Karena pada akhirnya, persoalannya bukan hanya tentang siapa yang salah, melainkan tentang sistem seperti apa yang kita biarkan berjalan.
Dan ketika sebuah sistem terus menghasilkan kegagalan yang serupa, maka yang perlu dipertanyakan bukan lagi manusia di dalamnya melainkan logika sistem itu sendiri. (rd)
Editor : Romdani.