Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Populasi Tersisa 60 Ekor, 45 Kreator Suarakan Nasib Pesut Mahakam Lewat 280 Karya Visual

R
Penulis: Redaksi KP❯

 


Advertisement

SUARA KARYA: Lebih dari 280 karya visual akan ditampilkan di Samarinda Design Hub terkait ancaman kepunahan Pesut Mahakam.
SUARA KARYA: Lebih dari 280 karya visual akan ditampilkan di Samarinda Design Hub terkait ancaman kepunahan Pesut Mahakam.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sebanyak 45 kreator dari enam kota bersatu menyuarakan ancaman kepunahan Pesut Mahakam lewat pameran ilustrasi naratif bertajuk "Cerita dari Mahakam". Pameran ini menampilkan lebih dari 280 karya visual di Samarinda Design Hub, Samarinda, Kalimantan Timur, pada 24-25 Oktober 2026, mulai pukul 09.00-21.00 Wita.

Kondisi mamalia air tawar bernama ilmiah Orcaella brevirostris ini kian kritis. Berdasarkan data pemantauan sebelumnya, populasinya di Sungai Mahakam kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 ekor. Angka tersebut menjadikan upaya penyelamatan satwa endemik Kalimantan Timur ini sangat mendesak.

Pembukaan pameran sengaja digelar bertepatan dengan momentum Hari Lumba-Lumba Air Tawar Sedunia pada 24 Oktober. Momen ini difokuskan untuk menggugah kesadaran masyarakat mengenai ancaman nyata terhadap habitat pesut serta urgensi menjaga keberlangsungan ekosistem perairan tersebut.

Inisiatif pameran digagas oleh Ramadhan S Pernyata, seorang akademisi, desainer grafis, ilustrator, sekaligus peneliti yang aktif mengembangkan pameran desain melalui Samarinda Design Hub. Gerakan advokasi visual ini berhasil menghimpun karya para seniman yang berasal dari Samarinda, Balikpapan, Tenggarong, Yogyakarta, Bandung, hingga Jakarta.

Advertisement

Karya-karya yang dipajang memotret beragam tema, mulai dari isu habitat dan konservasi, dinamika kehidupan warga tepian sungai, perubahan bentang alam, interaksi manusia dengan satwa, hingga rasa kehilangan dan harapan bagi masa depan pesut. Pendekatan naratif ini dirancang agar persoalan lingkungan dapat dipahami publik secara lebih emosional dan membumi.

Penyelenggara menargetkan pameran ini mampu mendekatkan isu konservasi kepada generasi muda melalui medium visual yang komunikatif. Selain memicu percakapan publik, karya seni ini diharapkan mendorong rasa tanggung jawab bersama dalam merawat Sungai Mahakam.

Seluruh karya yang dipamerkan nantinya akan dibukukan dalam Katalog Karya Cerita dari Mahakam sebagai arsip visual jangka panjang. Katalog tersebut direncanakan didaftarkan ke lembaga pengarsipan internasional seperti Universiteit Leiden dan Library of Congress, melanjutkan jejak katalog karya Ramadhan S Pernyata sebelumnya yang telah tercatat di kedua institusi tersebut.

Acara ini terselenggara berkat kolaborasi antara Samarinda Design Hub, Jinantra Studio, dan Kolektif Orcaella Mahakam. Penyelenggara juga merencanakan ekspansi gerakan ini pada 2027 mendatang dalam skala yang lebih luas, dengan tetap menjadikan advokasi perlindungan Pesut Mahakam sebagai poros utamanya. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Jangan Tunggu Bencana untuk Bersuara, Ridho Pratama Ajak Anak Muda Berani Kawal Isu Lingkungan

Jangan Tunggu Bencana untuk Bersuara, Ridho Pratama Ajak Anak Muda Berani Kawal Isu Lingkungan

Ridho Pratama dari Walhi ingatkan pentingnya kepedulian lingkungan secara konsisten, tidak hanya saat bencana terjadi di Kalimantan Timur.

Sabaruddin Sebut Biaya Pembukaan Lahan Mahal jadi Penyebab Jalan Pintas Pembakaran Diambil

Sabaruddin Sebut Biaya Pembukaan Lahan Mahal jadi Penyebab Jalan Pintas Pembakaran Diambil

Ketua Komisi II DPRD Kaltim Sabaruddin Panrecalle ungkap biaya pembukaan lahan yang mahal picu praktik pembakaran lahan ilegal di Kaltim.

Insinerator Samarinda Reduksi 92 Persen Sampah, 60 Ton Jadi Abu

Insinerator Samarinda Reduksi 92 Persen Sampah, 60 Ton Jadi Abu

DLH Samarinda berhasil mereduksi 750 ton sampah hingga 92 persen menggunakan mesin insinerator, sisanya 60 ton menjadi abu.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer