
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sebanyak 750 ton sampah dibakar melalui mesin insinerator di Samarinda sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 92 persen berhasil direduksi, sedangkan sisanya sekitar 60 ton berupa abu.
Capaian itu tercantum dalam laporan evaluasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda terhadap operasional 10 unit insinerator di sembilan titik. Laporan tersebut telah disampaikan kepada Wali Kota Samarinda dan dibahas bersama perangkat daerah terkait serta para penanggung jawab insinerator dalam rapat koordinasi, Selasa (27/10).
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, insinerator berfungsi mengurangi volume sampah, bukan menghilangkannya secara keseluruhan. Penggunaan fasilitas ini diharapkan dapat mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan.
Baca Juga: Lewat NGOPI, Hetifah Dorong Mahasiswa Pendidikan Islam Adaptif di Era AI
"Dari 750 ton sampah yang kita bakar, sekitar 92 persen berhasil direduksi. Sisanya sekitar 60 ton berupa abu. Ini menjadi capaian positif dalam pemanfaatan insinerator di Samarinda," ujar Taufiq, Selasa (27/10).
Meski capaian reduksi memenuhi target, DLH masih berupaya meningkatkan volume sampah yang dapat dibakar. Salah satu kendalanya adalah pemilahan sampah sebelum masuk ke mesin insinerator.
Menurut Taufiq, tidak semua jenis sampah dapat dibakar. Pemilahan tidak cukup hanya dengan memisahkan sampah basah dan kering karena sejumlah material berpotensi menimbulkan asap saat dibakar.
Material seperti styrofoam, logam, kain, kertas, daun hijau maupun kering, serta ranting pohon perlu diperhatikan dalam proses pemilahan. Jenis sampah yang masuk ke insinerator harus disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan mesin.
Baca Juga: Pembongkaran Lapak UMKM di Teras Samarinda Dikeluhkan, DPRD Panggil Asisten II dan Dirut Varia Niaga
"Peningkatan volume pembakaran masih sangat bergantung pada pemilahan sampah. Tidak semua sampah kering bisa dibakar. Ada material yang berpotensi menimbulkan asap sehingga perlu diperhatikan," jelasnya.
DLH terus mengevaluasi operasional insinerator untuk meningkatkan efektivitas pengurangan volume sampah. Optimalisasi pemilahan menjadi salah satu langkah agar lebih banyak sampah dapat diolah dan beban TPA Sambutan berkurang. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




