Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pertama di Kalimantan, Rumah Sakit Pertamina Balikpapan Raih Gold Status

Dina Angelina • Senin, 9 September 2024 | 07:00 WIB
PRESTASI: RS Pertamina Balikpapan meraih prestasi gemilang dalam penanganan stroke. Ini ditandai dengan penghargaan bergengsi dari World Stroke Organization (WSO) Angels Awards.
PRESTASI: RS Pertamina Balikpapan meraih prestasi gemilang dalam penanganan stroke. Ini ditandai dengan penghargaan bergengsi dari World Stroke Organization (WSO) Angels Awards.

KALTIMPOST.ID, WSO Angels Awards memberikan penghargaan Gold Status kepada RS Pertamina Balikpapan (RSPB) pada kuartal kedua 2024. Ini berkaitan dengan dedikasi dan kualitas pelayanan terbaik dalam penanganan pasien strok.

Mulai fase hiperakut hingga pasien dipulangkan. Ini menunjukkan RSPB memenuhi standar tinggi dalam penanganan stroke yang ditetapkan World Stroke Organization (WSO).

RSPB menjadi salah satu rumah sakit terkemuka dalam penanganan stroke. Dokter Spesialis Saraf RSPB Fajar Rudy Qimindra mengatakan, prestasi ini semakin bermakna karena hanya sedikit rumah sakit di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan serupa.

“Bahkan di pulau Kalimantan, rumah sakit ini yang pertama mendapat penghargaan Gold Status,” katanya. Pihaknya mengintegrasikan beberapa elemen untuk berhasil mendapat status tersebut.

Di antaranya trombolisis, code stroke, dan partisipasi dalam Angels Initiative. Itu yang membuat institusi kesehatan dapat secara signifikan meningkatkan kualitas pelayanan stroke.

Fajar membeberkan, stroke iskemik akut merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di seluruh dunia. Trombolisis telah menjadi tonggak utama dalam penanganan stroke iskemik akut.

“Merevolusi prognosis pasien dan mengubah paradigma ‘time is brain’ menjadi realitas klinis,” imbuhnya. Efikasi trombolisis sangat bergantung pada waktu pemberian dengan jendela terapeutik optimal dalam 4,5 jam setelah onset gejala.

Meski efikasi telah terbukti, penggunaan trombolisis masih menghadapi beberapa tantangan. Pertama risiko perdarahan intraserebral. “Trombolisis meningkatkan risiko perdarahan intraserebral simptomatik sebesar 6 persen yang dapat bersifat fatal,” ucapnya.

Kemudian jendela waktu terbatas hanya sekitar 5-10 persen pasien stroke yang tiba di rumah sakit dalam jendela waktu trombolisis membatasi akses terhadap terapi ini. Lalu tantangan kontraindikasi.

“Beberapa kondisi seperti riwayat perdarahan intrakranial, stroke iskemik dalam 3 bulan terakhir dan tekanan darah tidak terkontrol merupakan kontraindikasi absolut untuk trombolisis,” ungkapnya.

Maka perlu integrasi code stroke dan Angels Initiative sebagai optimalisasi manajemen stroke. Fajar menjelaskan, code stroke adalah protokol yang dirancang untuk mengoptimalkan penanganan pasien stroke akut.

“Fokus utama pada minimalisasi waktu dari kedatangan pasien hingga pemberian trombolisis (door-to-needle time),” katanya. Implementasi code stroke telah terbukti signifikan dalam meningkatkan outcome pasien.

Ada pun studi di Helsinki University Central Hospital menunjukkan, implementasi code stroke dapat mereduksi median door-to-needle time. Mulai dari 105 menit menjadi hanya 20 menit.

Selanjutnya peningkatan angka proporsi pasien yang menerima trombolisis dari 14 persen menjadi 48 persen. Menurutnya pasien yang ditangani dengan protokol code stroke memiliki peluang lebih tinggi.

“2,4 kali lebih tinggi untuk mencapai outcome fungsional yang baik pada 3 bulan pasca-stroke,” bebernya. Serta terakhir kunci keberhasilan dengan implementasi Angels Initiative sebagai program global yang diinisiasi WSO.

Tujuannya meningkatkan kualitas pelayanan stroke di seluruh dunia. Misal Angels Initiative menyediakan toolkit komprehensif untuk implementasi best practices dalam manajemen stroke. Termasuk checklist, protokol, dan pathway klinis.

“WSO Angels Awards bukan sekadar penghargaan. Melainkan instrumen strategis untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan stroke secara berkelanjutan,” ungkapnya. Terlebih sistem penghargaan ini dirancang dengan kriteria ketat dan berbasis bukti.

Implikasi dari Gold Status berdampak kepada beberapa hal. Salah satunya pengakuan internasional.

“Penghargaan ini menempatkan RS Pertamina Balikpapan dalam jajaran rumah sakit berkualitas tinggi di tingkat global dalam penanganan stroke,” tuturnya.

Peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan stroke di RSPB. Serta motivasi bagi staf medis dan manajemen rumah sakit untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan mereka.

Fajar menambahkan, pencapaian WSO Angels Awards bukan hanya menjadi bukti komitmen terhadap pelayanan berkualitas. “Tetapi menjadi katalis untuk perbaikan berkelanjutan dan kontribusi pada upaya global mengurangi beban stroke,” tutupnya. (gel)

Editor : Hernawati
#RSPB #WSO Award