BALIKPAPAN - Suasana Ruang Redaksi yang berada di Lantai 4 Gedung Biru Kaltim Post, Balikpapan, Kamis (12/2) tampak ramai. Puluhan siswa berseragam biru-putih tampak antusias memasuki ruang redaksi. Mereka adalah rombongan pelajar SMP Negeri 2 Penajam Paser Utara (PPU) yang datang untuk belajar langsung tentang tata kelola media.
Sebanyak 64 murid didampingi empat guru mengikuti kunjungan edukasi bertajuk Journalism Adventure Goes to Kaltim Post. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah meningkatkan literasi digital sekaligus membuka wawasan profesi kepada siswa di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMP 2 Penajam Paser Utara Sugianto mengatakan kunjungan ini memang dirancang agar siswa memahami bagaimana media dikelola secara profesional.
“Sengaja kami mengirimkan mereka ke Kaltim Post untuk belajar bagaimana tata kelola media. Yang mana hari ini tata kelola media itu sangat penting menurut kami,” ucap Sugianto.
Menurutnya, proses pendidikan saat ini tidak lagi terbatas di ruang kelas. Informasi dan karya siswa bisa tersebar luas jika dikelola melalui media yang kompeten. “Kenapa? Karena proses pendidikan bisa tersebar bukan hanya internal tapi keluar jika kita kemudian memiliki media yang kompeten juga,” lanjutnya.
Ia menilai Kaltim Post sebagai media profesional yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Dari era cetak hingga digital, bahkan ke ranah media sosial, Kaltim Post tetap eksis.
“Oleh karena itu kami memilih Kaltim Post, yang kami anggap adalah media yang profesional dan kualitasnya baik. Hal ini bisa dilihat bagaimana Kaltim Post masih tetap mampu survive di tengah perubahan pola media hari ini. Dulu cetak, sekarang online dan apalagi ada media sosial juga,” katanya.
Selama kunjungan, siswa diajak melihat langsung proses kerja redaksi, mulai dari perencanaan liputan, pengolahan berita, hingga distribusi di platform digital. Mereka juga berdiskusi tentang pentingnya verifikasi informasi dan kode etik jurnalistik.
Sugianto berharap kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan teknis, tetapi juga menumbuhkan literasi dan kesadaran kritis siswa.
“Selain itu mungkin juga menumbuhkan literasi mereka. Literasi itu penting agar mereka tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Lebih jauh, ia ingin para siswa mengenal lebih dekat dunia profesi jurnalistik sebagai bagian penting dalam sistem demokrasi. “Ruang lingkup mereka kan terbatas. Kami ingin memperkenalkan bahwa di luar sana ada profesi seperti jurnalistik yang posisinya dalam sistem demokrasi kita sangat penting sebagai kontrol terhadap berjalannya demokrasi,” jelasnya.
Ia pun membuka kemungkinan lahirnya cita-cita baru dari kunjungan tersebut. “Siapa tahu dari sekian banyak anak yang saya bawa, ada yang memiliki cita-cita menjadi jurnalis, menjadi reporter atau wartawan yang bergelut di bidang itu dengan menjunjung nilai-nilai kode etik profesi,” tutup Sugianto.
Kunjungan ini menjadi pengalaman langsung yang mempertemukan dunia pendidikan dan praktik jurnalistik. Bagi para siswa, Gedung Biru bukan sekadar kantor media, melainkan ruang belajar tentang tanggung jawab informasi di era digital. (rdh)
ULIL MUAWANAH
Editor : Muhammad Ridhuan