BALIKPAPAN – Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya populer, upaya pelestarian seni tradisional terus digerakkan oleh komunitas lokal. Salah satunya melalui kiprah Sanggar Tari Balai Tingang yang konsisten menjaga eksistensi seni Dayak.
Sanggar yang berdiri pada 14 Maret 2024 ini lahir dari kepedulian para pegiat seni terhadap kelestarian tarian dan musik tradisional. Meski terbilang baru, dalam waktu relatif singkat Balai Tingang mampu menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Baca Juga: Menggali Potensi Wisata Kedang Ipil, Ada Tarian Sakral yang Bisa untuk Penyembuhan
Komunitas ini digagas oleh Nurul Ahdaniah, bersama Ahmad Kristian dan diketuai Sopian Wahyudi. Pengelolaan sanggar dilakukan secara kolektif dengan dukungan pengurus yang solid.
Saat ini, Balai Tingang memiliki sekitar 30 personel yang terdiri dari pelajar hingga masyarakat umum. Latihan rutin digelar setiap akhir pekan, baik di markas sanggar maupun di rumah pembina.
Konsistensi tersebut membuahkan hasil. Selain aktif mengikuti berbagai festival lokal, Balai Tingang juga berhasil meraih sejumlah penghargaan.
“Kami aktif di festival lokal dan juga meraih beberapa juara,” ujar Sopian.
Dalam menjaga eksistensi, sanggar ini menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara keaslian dan modernitas. Namun, mereka memiliki pendekatan tersendiri.
“Kami tetap mempertahankan pakem gerak dan filosofi asli, tetapi dikemas lebih dinamis melalui dokumentasi visual dan media sosial agar relevan dengan generasi muda,” jelasnya.
Baca Juga: Ises Rahayu Bercerita Lewat Batik Arit Lepo, Angkat Filosofi Dayak hingga Mendunia
Ke depan, Balai Tingang tengah fokus pada misi kebudayaan, termasuk upaya mengikuti ajang penghargaan sebagai pelestari seni budaya. Mereka juga menargetkan menjadi pusat edukasi seni Borneo yang profesional dan mampu menembus panggung internasional.
“Kami berharap seni Dayak tetap lestari sebagai identitas bangsa yang membanggakan di tengah kemajuan zaman,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan