Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Achmad, dari Paser Manfaatkan Limbah Kelapa Jadi Briket yang Diminati hingga Turki

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 31 Mei 2024 | 07:05 WIB
APRESIASI: Achmad (kanan) saat mendapat penghargaan atas inovasi briket di Lomba Inovasi dan Teknologi di Paser pada Desember 2023.
APRESIASI: Achmad (kanan) saat mendapat penghargaan atas inovasi briket di Lomba Inovasi dan Teknologi di Paser pada Desember 2023.

Tumbuh besar di Jawa dan pindah ke Paser, Achmad heran mengapa banyak sampah yang tidak diberdayakan. Sedangkan di tempat asalnya, sampah justru dikelola. Dari sana, dia lahirkan produk Paser Briket.

RADEN RORO MIRA, Tanah Grogot

PADA 2020, Achmad mendirikan Bank Sampah Binsik Paser. Secara swadaya mengolah sampah dan menghasilkan potensi ekonomi. Dalam sebulan, 80-90 ton sampah plastik dikirim ke Surabaya. Mulanya mengirim sampah ke pengepul, kondisinya justru berbalik.

“Tujuannya sederhana. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah. Ada nilai ekonomisnya. Setelah berjalan, coba lagi melihat apa potensi lain dari sampah. Sampai saya jalan-jalan di daerah Grogot, dua desa penghasil kelapa yakni Desa Pepara dan Sungai Tuak. Saya lewat, kok banyak batok kelapa dibuang begitu saja,” ungkapnya.

Daripada memenuhi tempat sampah, Achmad melihat peluang agar batok kelapa itu tetap memiliki nilai jual. Tahun 2022, dia coba jadikan arang. Dan potensinya besar, dalam sebulan bisa hasilkan 8 ton arang tempurung yang dijual ke pabrik briket di Sidoarjo.

“Beberapa bulan kemudian mulai berpikir, kok enggak bikin briket sendiri. Akhirnya cari-cari tahu, dan memang ternyata tak segampang itu untuk membuatnya. Masih swadaya, bikin cetakan manual dari pipa. Intinya terus cari-cari sampai dapat formula yang pas supaya briketnya bagus,” lanjut pria kelahiran 1985 itu.

Tahun lalu, akhirnya dia mendapat formula yang tepat. Dari beberapa kali uji laboratorium, terbukti briket olahan Achmad memang berkualitas. Mampu dibakar dan menyala stabil 2,5 jam. “Bahkan resep formula saya ini sampai ditawar Rp 250 juta. Tapi tentu enggak mungkin saya lepas,” ungkapnya.

Hasil laboratorium juga menunjukkan jika nyala api bisa seluruhnya merah. Briket dengan tipe mati hampa, bukan mati siram. Sehingga saat terbakar, zero oksigen. Dari 1 ton batok kelapa, abunya juga tidak sampai 1 kilogram. Residu berkurang. Dari situlah, produknya dikenal dan diakui.

Mulai merambah ke pasar lebih luas dengan kualitas oke pada awal April 2023. Achmad mulai dengan memakai produk sendiri untuk usaha angkringan yang dia miliki. Dari situ, usaha serupa mulai melirik produknya karena terbukti bagus.

Pasarnya juga ke penjual sate, yang biasanya menggunakan arang kayu sehari habis Rp 65 ribu per karung. Dijabarkan Achmad, ketika menggunakan Paser Briket, cukup dua kotak dengan total Rp 30 ribu dan hasilnya sama. Memangkas 50 persen pengeluaran.

“Ekonomi penjual santan juga jadi bertambah. Sebelumnya ‘kan jadi sampah, bisa dijual ke kami Rp 10 ribu per karung. Jadi memang fokus saya di pemberdayaan sampah,” kata dia.

Saat ini pasar briket juga sudah ke luar Paser, utamanya Balikpapan dan Samarinda. Permintaan juga datang dari Pulau Jawa. Beberapa sampel briket juga sudah dikirim ke luar untuk potensi ekspor, yakni Malaysia dan Turki. Diakui jika potensinya besar untuk ekspor.

KUALITAS EKSPOR: Pengelolaan limbah batok kelapa yang dilakukan Achmad punya nilai ekonomis yang tinggi.
KUALITAS EKSPOR: Pengelolaan limbah batok kelapa yang dilakukan Achmad punya nilai ekonomis yang tinggi.

Namun, Achmad lebih memilih untuk memenuhi keperluan dalam negeri terlebih dahulu. Saat ini, produknya begitu diminati salah satu rumah makan di Surabaya yang memiliki 50 cabang se-Indonesia.

“Awal pesan itu 100 kilogram, ternyata cocok. Mereka itu kebutuhan per hari untuk satu cabang setidaknya 50 kilogram, jadi satu hari itu permintaan 2,5 ton. Tapi kami masih belum sanggup, jauh kapasitasnya. Kami baru mampu produksi 2-2,5 ton per bulan,” sambungnya.

Maka, pihaknya juga belum berani untuk lanjut kerja sama atau kontrak. Kendalanya masih di kapasitas produksi. Sebab sejauh ini masih swadaya dan masih andalkan panas matahari untuk penjemuran. Memakan waktu hingga 20 jam sampai benar-benar kering.

“Jadi di alat yang masih terkendala. Dengan permintaan sebanyak itu, apakah saya harus mengejar ekspor? Jadi nanti dulu, ketika permintaan dalam negeri sudah mampu kami cukupi,” ujar Achmad.

Disampaikan jika memang masih minim perhatian dari pemerintah. Padahal potensi dan permintaan begitu luar biasa. Bahkan dari segi pemberdayaan masyarakat, juga mampu menggerakkan ibu rumah tangga di sekitar rumah produksi.

“Bahan baku juga banyak, bahkan ada suplai dari Riau sampai Palu. Kualitas briket bersaing, tinggal bagaimana perluasan kapasitas produksi dan harapannya bisa difasilitasi dan didampingi lebih lagi,” tutupnya. (rom)

Editor : Romdani.