Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Alami Decline, SKK Migas Tetap Targetkan 1 Juta Barel pada 2030

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 21 Agustus 2024 | 08:50 WIB

 

Selain pengeboran, pemanfaatan sumur-sumur migas yang tidak aktif atau idle juga menjadi bagian dari strategi jangka pendek.
Selain pengeboran, pemanfaatan sumur-sumur migas yang tidak aktif atau idle juga menjadi bagian dari strategi jangka pendek.

 

KALTIMPOST.ID, Industri minyak dan gas (migas) Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar terkait penurunan produksi alami yang signifikan.

Penurunan ini menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh industri, dengan produksi minyak dan gas saat ini hanya mencapai sedikit lebih dari 600 ribu barel per hari, jauh di bawah angka yang diharapkan.

Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas), Lucky Yusgiantoro, menyampaikan bahwa produksi migas Indonesia saat ini berada di bawah target ideal.

"Kami berada pada titik di mana produksi yang ada hanya sedikit lebih dari setengah target yang diharapkan. Tantangan yang kita hadapi sangat besar," ujarnya dalam Simposium Energi Insecurity dan Strategi Penanggulangannya yang diadakan pada Selasa (20/8).

Untuk mengatasi tantangan ini, SKK Migas telah merancang beberapa strategi yang dibagi ke dalam tiga timeline: jangka pendek, menengah, dan panjang.

Lucky menjelaskan bahwa masing-masing timeline memerlukan pendekatan dan solusi yang spesifik.

Di jangka pendek, SKK Migas berfokus pada peningkatan kegiatan pengeboran untuk menemukan cadangan minyak dan gas baru.

"Pengeboran merupakan kunci untuk menemukan cadangan baru. Saat ini, kami harus melakukan pengeboran hingga kedalaman 5 kilometer di bawah permukaan, yang merupakan tugas yang kompleks," jelas Lucky.

Selain pengeboran, pemanfaatan sumur-sumur migas yang tidak aktif atau idle juga menjadi bagian dari strategi jangka pendek.

SKK Migas mengidentifikasi sekitar 1.000 sumur migas yang dapat di-recovery, dan potensi ini akan dimaksimalkan untuk meningkatkan produksi.

Di tingkat jangka menengah, SKK Migas berencana menerapkan metode Enhanced Oil Recovery (EOR), sebuah teknik yang dirancang untuk meningkatkan produksi hidrokarbon dari reservoir minyak yang ada.

"Metode EOR adalah salah satu strategi penting untuk jangka menengah dan panjang kami," kata Lucky.

Untuk jangka panjang, SKK Migas berkomitmen untuk mempercepat pelaksanaan beberapa proyek migas yang sudah direncanakan.

Lucky menyebutkan bahwa ada 125 proyek yang telah disusun dalam rencana pengembangan (Plan of Development atau PoD).

Percepatan proyek-proyek ini diharapkan dapat membantu mencapai target produksi migas yang telah ditetapkan.

SKK Migas juga mengandalkan keahlian teknis dan solusi inovatif dari timnya untuk menghadapi tantangan yang ada.

Lucky menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengembangkan keahlian teknis dan mencari solusi inovatif untuk meningkatkan produksi migas.

SKK Migas telah menunjukkan komitmennya untuk menghadapi tantangan industri hulu migas dengan strategi yang terencana dan upaya yang berkelanjutan.

Dengan fokus pada pengeboran, pemanfaatan sumur idle, penerapan teknologi EOR, dan percepatan proyek-proyek migas, SKK Migas optimis dapat mengatasi penurunan produksi alami dan mencapai target produksi yang telah ditetapkan, yaitu 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030.

"Kami optimis untuk mencapai target produksi minyak dan gas tersebut," pungkas Lucky. (*)

Editor : Dwi Puspitarini
#Targetkan 1 Juta Barel #skk migas