Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Aset Perbankan Kaltim Naik, Tercatat Rp 190,05 Triliun

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 20 Oktober 2024 | 22:25 WIB
PERTUMBUHAN POSITIF: Dana simpanan yang dihimpun hingga September 2024, simpanan masyarakat di Kaltim terus mengalami pertumbuhan yang positif.
PERTUMBUHAN POSITIF: Dana simpanan yang dihimpun hingga September 2024, simpanan masyarakat di Kaltim terus mengalami pertumbuhan yang positif.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kinerja perbankan di Kaltim menunjukkan pertumbuhan positif. Hal itu tercermin dari peningkatan aset dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Disampaikan Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur & Kalimantan Utara Parjiman, aset perbankan di Kaltim terus meningkat bahkan menyentuh level Rp 190,05 triliun.

"Angka ini meningkat 11,46 persen year on year (yoy). Total DPK perbankan terus meningkat menjadi sebesar Rp 165,84 triliun atau meningkat 7,69 persen yoy. Komposisi DPK di Kaltim didominasi oleh tabungan dan giro dengan porsi sebesar 72,14 persen dari total DPK," ujar Parjiman, Minggu (20/10).

Penyaluran kredit bank yang berlokasi di Kaltim juga tumbuh dengan baik, yakni sebesar Rp 88,22 triliun atau tumbuh 4,40 persen yoy. Sedangkan penyaluran kredit kepada proyek yang berlokasi di Kaltim juga tercatat lebih tinggi yaitu Rp 183,32 triliun atau tumbuh 8,16 persen yoy.

Parjiman menyebut, peningkatan kebutuhan akan barang konsumsi di Bumi Etam telah berdampak signifikan pada pola penyaluran kredit oleh bank-bank di wilayah tersebut. Bank-bank lokal cenderung memfokuskan penyaluran kreditnya pada sektor konsumtif. Khususnya melalui produk pinjaman multiguna.

Penyaluran kredit untuk sektor konsumtif ini tercatat mencapai Rp 19,59 triliun atau setara dengan 22,21 persen dari total kredit yang disalurkan oleh bank berdasarkan lokasinya. Pinjaman multiguna ini umumnya diberikan untuk keperluan konsumsi masyarakat, seperti pembelian barang rumah tangga, kendaraan dan keperluan lainnya yang tidak berkaitan langsung dengan sektor produktif.

Di posisi kedua dengan share 15,49 persen atau Rp 13,57 triliun yakni perdagangan besar dan eceran. Disusul pertanian, perkebunan dan kehutanan yang beda tipis yakni Rp 13,50 triliun atau 15,31 persen. Penyaluran kredit untuk pemilikan rumah tinggal tercatat Rp 8,62 triliun, lalu transportasi, perdagangan dan komunikasi Rp 5,51 triliun. Konstruksi Rp 5,11 triliun serta pertambangan dan penggalian Rp 5 triliun.

"Namun jika dilihat berdasarkan proyek, sektor pertambangan dan penggalian tetap menjadi penerima kredit terbesar. Penyaluran kredit untuk sektor ini mencapai Rp 40,60 triliun atau sekitar 22,14 persen dari total kredit yang disalurkan menurut lokasi proyek. Dominasi sektor pertambangan dan penggalian dalam penyaluran kredit mencerminkan pentingnya sektor ini sebagai penggerak utama perekonomian di Kaltim," bebernya.

Dijelaskan jika kredit yang disalurkan ke sektor tersebut mendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam, yang secara langsung berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk posisi kedua berdasarkan lokasi proyek yakni pertanian, perkebunan dan kehutanan dengan porsi 18,71 persen dengan nilai Rp 34,29 triliun.

Posisi ketiga, perdagangan besar dan eceran dengan porsi 11,47 persen atau tercatat sebesar Rp 21,03 triliun. Lalu kepemilikan peralatan rumah tangga atau pinjaman multiguna sebesar Rp 20,06 triliun. Industri pengolahan Rp 14,02 triliun dan konstruksi Rp 12,56 triliun. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#aset #kaltim #perbankan