KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ekonomi Kaltim pada triwulan III 2024 masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,52 persen (year on year/yoy). Namun pemerintah harus mewaspadai adanya perlambatan kinerja pada sektor utama yang menjadi penopang ekonomi. Utamanya pertambangan, konstruksi dan perdagangan.
Sektor pertambangan yang didominasi oleh produksi batu bara masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltim. Meskipun mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya, sektor ini tetap tumbuh positif. Hal ini sejalan dengan peningkatan permintaan batu bara secara global.
"Kaltim masih didominasi lima lapangan usaha, yakni pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, pertanian dan perdagangan,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto akhir pekan lalu.
Andil kinerja masing-masing sektor terhadap pertumbuhan ekonomi antara lain, pertambangan 2,61 persen yoy, konstruksi 1,21 persen yoy, industri pengolahan -0,03 persen yoy, perdagangan 0,56 persen yoy, dan pertanian -0,08 persen yoy.
Pertumbuhan sektor pertambangan mulai melambat akibat penurunan permintaan ekspor batu bara dari negara-negara mitra dagang utama seperti India dan ASEAN. Selain itu, sektor konstruksi yang sebelumnya tumbuh pesat akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga mengalami perlambatan pada triwulan III 2024.
Perlambatan sektor konstruksi sejalan dengan moderasi progres pembangunan IKN pasca pelaksanaan HUT ke-79 RI. Di sisi lain, sektor perdagangan justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan aktivitas MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) dalam rangka perayaan HUT RI ke-79 di IKN turut mendorong pertumbuhan sektor perdagangan.
"Sektor perdagangan tumbuh sebesar 9,32 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 8,89 persen yoy. Kuatnya kinerja sektor perdagangan pada periode tersebut turut didorong oleh peningkatan level permintaan domestik di tengah meningkatnya aktivitas MICE dalam rangka perayaan HUT ke-79 RI di IKN," lanjut Budi.
Dia juga memaparkan tentang kondisi kinerja sektor yang terkontraksi yakni pertanian dan industri pengolahan. Disebutkan jika sektor pertanian mengalami kondisi penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yakni dari tumbuh positif sebesar 3,04 persen yoy menjadi terkontraksi sebesar 1,24 persen yoy.
"Penurunan sektor pertanian terjadi sejalan dengan penurunan produksi TBS (tandan buah segar, Red) kelapa sawit sebagai salah satu komoditas perkebunan utama di Kaltim," beber Budi.
Di sisi lain, industri pengolahan sebagai sektor yang memegang pangsa tertinggi kedua juga mengalami kontraksi sebesar 0,15 persen yoy dan mengoreksi pertumbuhan ekonomi Kaltim dengan andil sebesar 0,03 persen yoy. Penurunan kinerja lapangan usaha tersebut juga tidak terlepas dari menurunnya kinerja pengolahan gas dan crude palm oil (CPO) pada periode laporan.
Pertumbuhan ekonomi Kaltim yang masih positif merupakan kabar baik, namun tantangan tetap ada. Perlambatan sektor pertambangan dan konstruksi perlu diantisipasi dengan diversifikasi ekonomi. Pemerintah daerah dan pelaku usaha perlu terus berupaya mengembangkan sektor-sektor lain seperti pariwisata, pertanian, dan industri pengolahan. Potensi pertumbuhan ekonomi Kaltim masih sangat besar. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo