Kondisi ekonomi nasional yang berdampak pada arus barang membuat KKT menyesuaikan strategi agar tetap mampu memberikan layanan berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Mengenai itu, Direktur Utama PT KKT Enriany Muis mengatakan pihaknya tidak hanya fokus pada target volume. Tetapi juga pada peningkatan efisiensi dan transformasi sistem layanan.
“Kami hadir untuk meningkatkan efisiensi layanan pelabuhan di Kaltim. Khususnya di Balikpapan. Saat arus barang menurun karena konsumsi melambat, efisiensi menjadi kunci utama agar rantai logistik tetap lancar dan kompetitif,” tutur Enriany.
KKT sendiri merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat melalui Subholding Pelindo Terminal Peti Kemas dan Pemprov Kaltim. Pelabuhan itu memiliki posisi strategis di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan terhubung langsung dengan Kawasan Industri Kariangau.
Didukung oleh draft laut 14 meter LWS serta konektivitas antarprovinsi, KKT diharapkan menjadi simpul logistik utama di wilayah timur Indonesia.
Transformasi layanan terus dilakukan melalui program Quick Win yang dimulai sejak Maret 2024. Program itu mendorong percepatan proses bongkar muat, digitalisasi sistem layanan, serta perbaikan prosedur operasional.
“Kami terus bertransformasi untuk menjawab tantangan zaman. Sistem kami kini lebih terstandar dan berbasis komputerisasi. Tenaga kerja kami juga terlatih dengan baik. Pelayanan yang efisien tidak boleh berhenti meski ekonomi sedang berat,” jelas Enriany.
Dari sisi operasional, hingga pertengahan 2025, arus peti kemas yang ditangani KKT telah mendekati target dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP). Ditambahkan Kepala Sekretaris Perusahaan PT KKT Tani Wijaya Rusdi, tekanan ekonomi berdampak pada volume peti kemas, terutama di segmen internasional.
“Volume terbanyak memang dari domestik, mencapai 97 ribu unit per semester. Sementara internasional masih di angka ratusan saja. Tapi kami tetap optimistis, hingga akhir tahun kami perkirakan bisa mendekati 200 ribu unit,” ungkap Tani.
Ia menyebut pelemahan konsumsi nasional turut mengurangi pergerakan barang, yang berdampak langsung pada target throughput pelabuhan. “Kondisi ekonomi nasional sangat berdampak. Konsumsi turun, lalu lintas barang juga ikut melemah, sehingga target kami ikut menyesuaikan,” lanjutnya.
Meski demikian, Tani memastikan bahwa PT KKT tetap menjaga standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, termasuk komitmen terhadap service level agreement (SLA) dan service level guarantee (SLG). Selain itu, KKT juga tengah mempersiapkan proyek pengembangan infrastruktur di Kilometer 8 sebagai bagian dari visi jangka panjang penguatan kapasitas pelabuhan.
“Dengan kombinasi pendekatan efisiensi, peningkatan kualitas layanan, dan investasi infrastruktur, PT KKT berharap tetap menjadi motor logistik yang andal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Kaltim, bahkan di tengah tantangan,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo