KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Warga Kalimantan Timur (Kaltim) kini semakin konsumtif, terutama untuk kebutuhan di luar makanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang 2024 rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Kaltim mencapai Rp2,04 juta per bulan.
“Konsumsi bukan makanan per kapita lebih tinggi dari makanan. Persentase pengeluaran untuk konsumsi makanan sebesar 45,33 persen dan bukan makanan sebesar 54,67 persen,” ungkap Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Data BPS menunjukkan, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk kelompok makanan meningkat dari Rp813.448 pada 2022 menjadi Rp925.954 pada 2024. Sementara itu, pengeluaran bukan makanan naik dari Rp984.038 menjadi Rp1.116.838 dalam periode yang sama. Total pengeluaran per kapita Kaltim pun menembus Rp2.042.792 per bulan pada 2024.
“Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator yang dapat memberi gambaran keadaan kesejahteraan penduduk. Semakin besar konsumsi atau pengeluaran rumah tangga terutama porsi pengeluaran untuk bukan makanan, maka tingkat kesejahteraan rumah tangga yang bersangkutan akan semakin baik,” beber Yusniar.
Secara umum, struktur pengeluaran masyarakat Kaltim memperlihatkan pergeseran menuju kebutuhan sekunder dan tersier. Di antara kelompok bukan makanan, pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga menjadi yang terbesar dengan porsi 54,27 persen.
Disusul pengeluaran untuk aneka barang dan jasa 21,41 persen, sementara kelompok lain seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan komunikasi berkisar antara 3-9 persen.
Sementara itu, untuk kelompok makanan, kategori makanan dan minuman jadi pengeluaran terbesar yakni 33,84 persen. Setelah itu, ada rokok dan tembakau 10,71 persen, serta ikan, udang, cumi, dan kerang 10,38 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga Kaltim masih cukup tinggi untuk produk-produk hasil laut dan kebutuhan rokok.
“Ini merupakan hal yang cukup ironis, melihat lebih tingginya pengeluaran untuk rokok dibanding pengeluaran untuk makanan bergizi,” kata Yusniar. Namun di sisi lain, tingginya belanja untuk bahan makanan segar seperti ikan dan hasil laut juga menunjukkan daya beli yang masih kuat di masyarakat.
Tren peningkatan pengeluaran bukan makanan itu menandakan masyarakat Kaltim mulai naik kelas dalam struktur kesejahteraan. Dengan pengeluaran yang lebih banyak untuk fasilitas rumah tangga, pendidikan, dan jasa, maka kebutuhan primer semakin terpenuhi dan beralih pada peningkatan kualitas hidup.
Jika tren tersebut terus berlanjut, BPS memperkirakan daya beli masyarakat Kaltim akan terus menguat di tahun-tahun mendatang, seiring perbaikan ekonomi dan meningkatnya aktivitas usaha, terutama di dua kota besar yakni Balikpapan dan Samarinda, yang menjadi pusat perputaran ekonomi Bumi Etam. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo