Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Pertambangan Kaltim Tertekan, Produksi Batu Bara Merosot Akibat Hujan dan Lesunya Permintaan

Raden Roro Mira Budi Asih • Senin, 8 Desember 2025 | 17:25 WIB
BELUM PULIH: Pertambangan dan penggalian masih mengalami kontraksi karena permintaan batu bara belum pulih seperti tahun lalu.
BELUM PULIH: Pertambangan dan penggalian masih mengalami kontraksi karena permintaan batu bara belum pulih seperti tahun lalu.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja sektor pertambangan dan penggalian Kalimantan Timur kembali mengalami tekanan pada triwulan III 2025.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto mengungkapkan bahwa sektor tersebut masih terkontraksi seiring melemahnya permintaan batu bara dan terbatasnya produksi dibandingkan tahun sebelumnya.

"Pertambangan dan penggalian masih mengalami kontraksi karena permintaan batu bara belum pulih seperti tahun lalu,” jelasnya.

Pada periode laporan, kategori pertambangan terkontraksi 0,22 persen (year-on-year/yoy), diperburuk oleh penurunan produksi batu bara yang turun cukup dalam, yakni 16,60 persen (yoy).

Budi menjelaskan bahwa kondisi tersebut lebih lemah dibanding triwulan sebelumnya. Menurutnya, curah hujan yang meningkat selama triwulan III turut menjadi penyebab utama turunnya aktivitas produksi.

Di sisi permintaan, pasar internasional juga belum memberikan dorongan berarti. Permintaan batu bara dari negara mitra dagang utama tercatat lebih rendah, tercermin dari volume ekspor yang masih terkontraksi 6,75 persen (yoy).

Budi menyebut bahwa tingginya produksi domestik pada negara mitra membuat impor batu bara dari Kaltim belum meningkat sesuai harapan. “Permintaan dari mitra dagang belum pulih karena produksi domestik mereka masih tinggi,” katanya.

Kendati demikian, terdapat sedikit perbaikan dari sisi pasokan di negara tujuan. Produksi batu bara domestik Tiongkok, salah satu pembeli terbesar batu bara Kaltim itu justru turun 2,40 persen (yoy) pada periode laporan.

Meski belum cukup mengerek permintaan secara signifikan, kondisi tersebut memberi sinyal mulai terjadinya penyesuaian pasokan di luar negeri.

Pelemahan sektor pertambangan juga berdampak pada perbankan. Penyaluran kredit ke sektor tersebut masih melanjutkan tren kontraksi dengan penurunan 11,90 persen (yoy).

Budi menegaskan bahwa dinamika ini menunjukkan pelaku usaha masih menunda ekspansi di tengah ketidakpastian pasar batu bara. “Kontraksi kredit sejalan dengan aktivitas pertambangan yang belum kembali menggeliat,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#cuaca #Tekanan #pertambangan #batu bara #kinerja