KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Euforia perdagangan di Kalimantan Timur yang sempat memuncak tahun lalu kini meredup cepat. Gerak masyarakat tak seaktif 2024, saat dua hajatan nasional membuat hotel penuh dan toko-toko kebanjiran pengunjung.
Tahun ini, suasananya berbalik, pusat belanja lebih lengang, pergerakan barang di pelabuhan ikut menciut.
Disebutkan Kepala Kantor Perwakilan (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto, pelemahan itu tidak lepas dari tertahannya kinerja sektor-sektor utama di Kaltim.
“Lapangan usaha (LU) perdagangan termoderasi seiring tertahannya kinerja lapangan usaha utama Kaltim yang menahan daya beli masyarakat di tengah jumlah kunjungan ke Kaltim yang turun secara relatif dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya,” ujarnya.
Dampaknya tampak jelas di angka-angka. Pertumbuhan perdagangan di triwulan III hanya 7,95 persen (year-on-year/yoy), turun dari 9,91 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Lebih tajam lagi, indeks penjualan riil jatuh dari 167,4 menjadi 133,1. Penurunan yang sebagian besar disebabkan merosotnya penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Bukan cuma dari sisi toko dan ritel, distribusi barang juga melemah. Aktivitas bongkar turun 52,90 persen (yoy) dan muat merosot 46,34 persen (yoy). Penurunan menandakan pergerakan logistik yang makin sepi dibanding triwulan sebelumnya, saat lalu lintas barang masih lebih stabil.
Kondisi tersebut makin diperparah oleh turunnya arus kunjungan. "Kaltim di 2024 menjadi magnet karena dua agenda besar yakni peringatan HUT RI ke-79 dengan 1.300 undangan serta MTQ Nasional ke-30 yang mendatangkan sekitar 6.826 tamu. Bahkan 54 penerbangan tambahan disiapkan untuk menampung lonjakan wisatawan," kata Budi. Pada 2025, situasinya berbalik, tanpa gelaran besar, tingkat kunjungan pun ikut melemah.
Kontraksi itu tercermin jelas di industri perhotelan. Tingkat penghunian kamar hotel berbintang anjlok 21,98 persen (yoy). Penurunan membuat konsumsi ikut melemah dan memberi tekanan tambahan pada sektor perdagangan yang sebelumnya tumbuh kuat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo