KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan nasional kian menguat. Hingga akhir November 2025, realisasi penghimpunan dana oleh korporasi telah melampaui target tahunan Rp220 triliun, dengan nilai penawaran umum mencapai Rp238,68 triliun.
Capaian tersebut mencerminkan kepercayaan dunia usaha terhadap pasar modal Indonesia. “Penghimpunan dana korporasi masih sangat kuat, terutama didorong oleh Penawaran Umum Terbatas dan Penawaran Umum EBUS Tahap II,” ujar Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim-Kaltara Parjiman.
Sepanjang 2025, tercatat 18 emiten baru yang melakukan fundraising dengan total dana Rp13,30 triliun. Sementara itu, pipeline ke depan masih menjanjikan, dengan 35 rencana penawaran umum senilai indikatif Rp32,29 triliun.
Kinerja positif juga terlihat pada industri pengelolaan investasi. Per November 2025, nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp996,60 triliun atau tumbuh 19,02 persen secara ytd. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp644,41 triliun, melonjak 29,07 persen ytd.
“Penguatan NAB reksa dana ditopang oleh net subscription investor yang secara bulanan mencapai Rp32,61 triliun, khususnya pada reksa dana berbasis fixed income dan pasar uang,” kata dia.
Tak hanya itu, jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Selama November 2025, terdapat tambahan 476 ribu investor baru. Secara kumulatif, jumlah investor pasar modal nasional meningkat 4,80 juta secara ytd menjadi 19,67 juta, atau tumbuh 32,29 persen.
Di sisi instrumen alternatif, penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) dan Bursa Karbon turut menunjukkan perkembangan. Hingga akhir November 2025, Bursa Karbon mencatat total volume transaksi 1,62 juta tCO2e dengan nilai Rp79,52 miliar.
“Untuk memperkuat ketahanan pasar modal ke depan, OJK bersama BEI juga menyelenggarakan CEO Networking 2025 sebagai forum strategis memperkuat sinergi pelaku pasar dan pemangku kepentingan,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo