KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bukan tambang, bukan pula konstruksi. Di tengah perlambatan ekonomi Kalimantan Timur sepanjang 2025, justru sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan aktivitas harian masyarakat tampil sebagai penggerak utama pertumbuhan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan, denyut ekonomi daerah kian ditopang oleh lapangan usaha (LU) nontradisional.
Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai menyampaikan bahwa secara kumulatif, pada 2025 ekonomi tetap tumbuh positif. “Tumbuh sebesar 4,53 persen,” ujarnya. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum.
"Pertumbuhan tertinggi terjadi pada LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 13,03 persen," lanjut Mas'ud. Sektor itu mencerminkan bangkitnya mobilitas, pariwisata, dan konsumsi masyarakat pascapandemi.
Selain itu, LU Industri Pengolahan juga menunjukkan kinerja solid. "Dengan pertumbuhan 12,68 persen, disusul LU Jasa Lainnya yang tumbuh 12,53 persen," beber Mas'ud. Ketiganya menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Kaltim sepanjang 2025.
Namun, tidak semua sektor bergerak searah. BPS mencatat masih terdapat lapangan usaha yang mengalami kontraksi. "Lima lapangan usaha yang mendominasi perekonomian Kaltim adalah Pertambangan dan Penggalian dengan peranan 34,18 persen, diikuti Industri Pengolahan 20,12 persen, Konstruksi 11,58 persen, Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 9,58 persen dan Perdagangan Besar dan Eceran 7,62 persen," paparnya.
Jika dilihat dari penciptaan Industri Pengolahan memberikan andil positif terbesar yaitu 2,32 persen, disusul Perdagangan Besar dan Eceran 0,68 persen serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0,48 persen.
Kondisi itu menandakan bahwa arah pertumbuhan ekonomi Kaltim mulai bergeser, dengan peran sektor hilir dan jasa yang semakin menguat di tengah tantangan sektor primer. (*)
Editor : Sukri Sikki