KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekanan harga di Kalimantan Timur kembali meningkat pada Maret 2026. Secara bulanan, inflasi tercatat lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, dengan dorongan utama berasal dari komoditas pangan dan energi yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Ariyanti Cahyaningsih menyampaikan, inflasi month-to-month (mtm) Maret 2026 tercatat 0,72 persen. Angkanya lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang 0,60 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi m-to-m pada Maret 2026 antara lain cabai rawit, bensin, ikan tongkol, ikan layang, tomat, dan daging ayam ras,” ujarnya.
Selain itu, sejumlah komoditas lain seperti udang basah, nasi dengan lauk, bahan bakar rumah tangga, hingga angkutan udara turut memperkuat tekanan inflasi. Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan jeruk, serta kebutuhan sandang seperti baju muslim wanita dan kaos pria.
Sebaliknya, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi bulanan. Di antaranya emas perhiasan, parfum, dan tas sekolah yang tercatat memberikan andil deflasi.
Dari sisi kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,52 persen. Komoditas cabai rawit menjadi pendorong utama dengan kontribusi 0,11 persen, disusul ikan tongkol dan ikan layang masing-masing 0,06 persen, serta tomat 0,04 persen.
Komoditas lain seperti daging ayam ras dan udang basah masing-masing memberikan andil 0,03 persen. Sementara jagung manis, sigaret kretek mesin (SKM), jeruk, ikan bandeng, dan bawang merah masing-masing menyumbang 0,02 persen.
Namun, tidak semua komoditas pangan mengalami kenaikan. Sawi hijau menjadi penyumbang deflasi terbesar dalam kelompok itu 0,02 persen, diikuti kangkung, makanan ringan, dan biskuit masing-masing 0,01 persen.
Kelompok transportasi juga memberi andil cukup signifikan terhadap inflasi, yakni sebesar 0,11 persen. Kenaikan harga bensin menjadi faktor utama dengan kontribusi 0,08 persen, disusul tarif angkutan udara 0,01 persen.
Pada kelompok pakaian dan alas kaki, inflasi tercatat 0,05 persen. Peningkatan harga baju muslim wanita menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,02 persen, diikuti kaos pria dan baju muslim anak masing-masing 0,01 persen.
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Kenaikan terutama dipicu oleh bahan bakar rumah tangga 0,03 persen serta sewa rumah 0,02 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga turut menyumbang inflasi 0,04 persen, terutama dari komoditas nasi dengan lauk 0,03 persen dan mi 0,01 persen.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mencatat deflasi 0,05 persen. Penurunan harga emas perhiasan dan parfum masing-masing menjadi penyumbang utama deflasi dalam kelompok tersebut. (*)
Editor : Ismet Rifani