Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Penerapan Teknologi Dukung Efisiensi Pertanian Kaltim

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 23 April 2026 | 17:19 WIB
MEKANISASI: Penggunaan drone meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk serta menjaga kualitas panen.
MEKANISASI: Penggunaan drone meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk serta menjaga kualitas panen.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Dalam rangka meningkatkan kapasitas perekonomian daerah melalui program pemberdayaan sektor riil, Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan pemerintah daerah. Salah satu wujud dari program tersebut, dilakukan melalui program pengembangan klaster untuk komoditas yang menjadi sumber tekanan inflasi, di antaranya padi dan cabai.

Salah satu strategi yang dikembangkan adalah penerapan smart farming dan digitalisasi pertanian. Teknologi yang digunakan meliputi sensor kesuburan tanah berbasis Internet of Things (IoT) hingga sistem irigasi modern seperti sprinkler dan irigasi tetes. Teknologi tersebut membantu meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk serta menjaga kualitas hasil panen secara berkelanjutan.

Program itu telah diterapkan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri sejak 2024 dan Kelompok Tani (Poktan) Bina Usaha pada 2025 di Anggana, Kutai Kartanegara. Selain itu, BI juga memperkenalkan teknologi digital farming berupa drone sprayer untuk mendukung aktivitas pertanian.

“Drone ini mampu menurunkan waktu penyemprotan pestisida dan pupuk cair dari 6 sampai 8 jam per hektare menjadi hanya 8 sampai 10 menit per hektare,” jelas Ketua Tim Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) BI Kaltim Abraham Wahyu Nugroho.

Tidak hanya itu, penggunaan teknologi juga mempercepat proses penebaran pupuk granul yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 1-2 hari menjadi sekitar 20 menit per hektare. “Ini sangat efisien dari sisi sumber daya manusia. Waktu petani jadi lebih produktif untuk kegiatan lain,” katanya.

Selain teknologi, BI juga mendorong penerapan konsep pertanian berkelanjutan melalui sistem LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture). Pendekatan yang menekankan pemanfaatan sumber daya lokal dan pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis. “LEISA ini mengoptimalkan sumber daya lokal, mengurangi input eksternal, dan meningkatkan kesehatan tanah serta keberlanjutan usaha tani,” ujarnya.

Penerapan metode tersebut terbukti mampu meningkatkan hasil produksi secara signifikan. Pada demplot yang telah dijalankan, produktivitas padi meningkat hingga 72,2 persen, dari sebelumnya 3,6 ton per hektare menjadi 6,2 ton per hektare. “Atas keberhasilan itu, akan kita replikasi di beberapa kelompok tani, baik untuk padi maupun cabai,” tambahnya.

Ke depan, pihaknya juga akan memperkuat kelembagaan petani agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Pendampingan dan pelatihan akan dilakukan secara berkelanjutan dalam beberapa bulan ke depan.

“Kami tidak hanya seremoni. Akan ada pendampingan, monitoring, dan evaluasi agar program ini benar-benar berjalan,” tegasnya.

Abraham berharap, inovasi teknologi dan penguatan kelembagaan ini mampu mendorong regenerasi petani muda serta meningkatkan kesejahteraan petani di Kaltim. (*)

Editor : Ismet Rifani
#KEKDA BI Kaltim #Abraham Wahyu Nugroho #Konsep pertanian LEISA #BI Kaltim