Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Nilai Tukar Dipengaruhi Banyak Faktor, BI Kalimantan: Stabilitas Rupiah Tak Bisa Dijaga Bank Sentral Sendiri  

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 8 Mei 2026 | 12:54 WIB
Koordinator Wilayah BI Kalimantan, Aloysius Donanto. (IST)

 
Koordinator Wilayah BI Kalimantan, Aloysius Donanto. (IST)  

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menjadi perhatian serius di tengah tingginya arus informasi ekonomi global. Di Kalimantan, Bank Indonesia (BI) menilai stabilitas rupiah bukan hanya menjadi tanggung jawab otoritas moneter, tetapi juga memerlukan pemahaman dan partisipasi masyarakat agar tekanan tidak semakin besar.

Hal itu disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Selatan selaku Koordinator Wilayah BI Kalimantan, Aloysius Donanto dalam kegiatan penguatan kapasitas komunikasi publik yang melibatkan insan media dan akademisi di wilayah Kalimantan.

Menurutnya, fluktuasi rupiah saat ini dipengaruhi banyak faktor global dan belum cukup dijawab hanya melalui kebijakan BI. Karena itu, masyarakat diminta ikut menjaga stabilitas melalui perilaku transaksi yang lebih bijak.

“Nilai tukar rupiah begitu gejolaknya sangat dinamis terhadap dolar Amerika dan ini masih tinggi. Kondisi ini enggak hanya cukup dijawab melalui kebijakan kami di Bank Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Izin Site Plan Terhambat? Ternyata Ini Syarat Mutlak Disperkim Balikpapan yang Tak Bisa Ditawar

Dia mengatakan, dukungan publik diperlukan agar tidak muncul tekanan tambahan terhadap rupiah. Salah satunya dengan tidak ikut menciptakan permintaan berlebihan terhadap mata uang asing maupun konsumsi produk impor yang tidak mendesak.

“Sementara masyarakat rasanya juga kita harapkan mampu memahami kondisi yang sebenarnya terjadi dan berkontribusi melalui baik itu transaksi maupun perbankan, tidak perlu ikut-ikutan untuk sampai muncul permintaan baru terhadap pemerintah asing dan konsumsi juga khususnya ke konsumsi produk-produk domestik,” katanya.

Baca Juga: Sesuai PP! Ketua Apersi Kaltim Tegaskan Izin Perumahan MBR Masuk Lewat OSS

Menurut Donanto, pengelolaan transaksi juga perlu dilakukan secara lebih selektif di tengah ketidakpastian global. Dia menilai masyarakat perlu mulai mempertimbangkan instrumen pembayaran yang lebih aman dan efisien tanpa memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.

“Pengelolaan transaksi juga kita perlu lakukan dengan lebih bijak. Mana yang perlu kita lakukan hari ini, saat ini, mana yang kita cermati dan jika memungkinkan menggunakan means of transaction yang lebih aman, lebih murah, tanpa mempengaruhi atau tanpa memberikan tekanan kepada nilai rupiah,” tuturnya.

Selain persoalan transaksi, dia juga menyoroti derasnya arus informasi yang dinilai dapat memperburuk sentimen publik bila tidak dipahami secara utuh. Donanto menilai tantangan terbesar saat ini bukan hanya kondisi ekonomi, tetapi juga bagaimana masyarakat menerima dan menafsirkan informasi.

Karena itu, dia menilai media dan opinion maker memiliki peran penting untuk membantu masyarakat memahami konteks ekonomi secara lebih proporsional. Menurutnya, fenomena ekonomi tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi karena di balik setiap kebijakan pasti terdapat alasan dan pertimbangan tertentu.

Donanto menambahkan, kepercayaan publik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Sebab dalam ekonomi modern, angka dan persepsi berjalan beriringan. “Ekonomi rasanya merupakan perpaduan dari separuh angka, separuh trust,” ujarnya.

Karena itu, dia berharap komunikasi publik yang dibangun media, akademisi, dan Bank Indonesia mampu menciptakan pemahaman yang lebih baik di masyarakat sehingga situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian tetap dapat disikapi secara rasional dan positif. (*)

Editor : Sukri Sikki
#bank indonesia #moneter #nilai tukar rupiah