Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Erau Pelas Benua Bakal Dibalut Religi dan Laksanakan Tradisi Naik Ayun

Adhiel kundhara • Rabu, 4 Desember 2024 | 17:42 WIB

Photo
Photo
SABAN TAHUN: Pesta adat Erau Pelas Benua di Guntung sudah dimulai sejak 2 Desember lalu dan dibuka Wali Kota Bontang Basri Rase. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP

KALTIMPOST.ID, BONTANG- Panitia pesta adat Erau Pelas Benua telah menyusun rangkaian kegiatan dari 2 hingga 8 Desember mendatang. Momentum ini nantinya tidak hanya terdiri dari kesrakalan adat budaya, namun juga ada pertunjukkan kesenian daerah dan lomba olahraga tradisional.

Bahkan, di Kamis (5/12/2024) panitia akan mengemas kegiatan dengan nuansa religi. Lurah Guntung Denny Febrian mengatakan ada beberapa pertunjukkan qasidah dan band religi di panggung replika rumah adat, Guntung.

“Ini merupakan kegiatan rutin di Erau. Khusus malam Jumat ada acara islaminya,” kata Denny.

Nantinya hiburan Islami ini akan dimulai pada malam hari. Pada pagi harinya ada kegiatan barzanji dan betunu suman. Beberapa pengisi acara mulai dari Istiqomah, ⁠Nur Faizah, ⁠Thoriqul Ilmi, ⁠Al-Khoirot, dan band religi ⁠Sunset Dessert.

Pada Jumat (6/12/2024) panitia akan melaksanakan naik ayun massal. Menurutnya keberadaan dan berkembangnya suatu tradisi tergantung dari masyarakat pendukungnya. Suatu tradisi dapat berlangsung dan bertahan hanya jika masyarakatnya mempraktikkan secara terus menerus dalam kehidupannya.

Tradisi sebagai kebudayaan merupakan milik masyarakat, yang muncul dan berkembang bersama dengan keberlangsungan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, suatu tradisi bisa juga mengalami kepunahan atau tidak lagi dipraktikkan oleh para pendukungnya. Jika dirasa tidak relevan atau dianggap tidak berfungsi lagi dalam kehidupan.

Seperti halnya dengan upacara naik ayun bisa bertahan hingga saat ini karena masyarakat etnis Kutai masih merasa perlu melakukannya. Tentu saja keberadaan tradisi naik ayun berkembang bersamaan dengan dinamika masyarakat Kutai, sehingga sangat mungkin mengalami perubahan dalam banyak hal.

“Misalnya peralatan, prosesinya, ataupun maknanya. Sampai saat ini, upacara naik ayun masih dipertahankan oleh orang Kutai di Kabupaten Kutai Kartanegara,” ucapnya.

Berdasar pengamatan, pelaku atau pewaris tradisi ini berasal dari banyak kalangan. Orang-orang Kutai di perkotaan maupun di wilayah perdesaan masih melakukan upacara naik ayun. Masyarakat umum maupun kelompok kerabat yang mewakili kerabat keraton.

“Eksistensi upacara nae ayun yang bertahan hingga saat ini, tidak bisa dilepaskan dengan kebiasaan mengayun bayi dalam pola pengasuhan sehari-hari masyarakat Kutai,” tutur dia.

Hampir setiap bayi dalam masyarakat Kutai diasuh dengan cara diayun. Seorang bayi diayun sebagai cara untuk membuat bayi tertidur dan atau ketika bayi sudah tidur kemudian ditidurkan ke dalam ayunan agar tidurnya nyenyak dan lama. Ketika bayi nyaman di ayunan, orang tua atau ibu bayi akan bisa mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari.

Banyak juga ibu-ibu yang sengaja menemani bayi di siang hari dengan menggerak-gerakkan ayunan. Ayunan yang umumnya dipakai berupa kain panjang yang digantungkan pada tiang di dalam rumah yang memungkinkan untuk ayunan bayi. (*)

Editor : Ismet Rifani
#Erau Pelas Benua #Kota Bontang