KALTIMPOST.ID, BONTANG - Kelurahan Belimbing kembali meningkatkan kewaspadaan setelah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.
Lurah Belimbing Dwi Andriyani mengatakan upaya pencegahan dan penanganan terus dilakukan secara simultan. Kelurahan tidak hanya mengingatkan pentingnya kebersihan, tetapi juga memantau lingkungan yang berpotensi menjadi lokasi berkembangnya jentik.
“Kerja bakti itu bukan hanya soal bersih-bersih, tetapi memastikan tidak ada tempat yang bisa menjadi genangan air, sekecil apa pun,” kata Dwi.
Ia menambahkan bahwa kelurahan secara rutin meneruskan rekap data kasus DBD kepada seluruh RT agar langkah pencegahan cepat dilakukan di tingkat lingkungan. Menurutnya, pola peningkatan kasus DBD menunjukkan perubahan dari tahun sebelumnya.
Dwi mengungkapkan bahwa Perum BTN, yang selama ini dikenal memiliki lingkungan yang cukup bersih, justru menjadi salah satu wilayah dengan kasus tertinggi. “Ternyata lingkungan yang kelihatannya bersih pun bisa menjadi lokus DBD. Karena nyamuk ini memang suka air bersih,” ucapnya.
Dalam proses penanganan, laporan masyarakat tetap melalui RT masing-masing. RT kemudian meneruskan data ke kelurahan dan selanjutnya ke Puskesmas Bontang Barat. Ia mengatakan bahwa pihak puskesmas akan berkoordinasi dengan rumah sakit tempat pasien dirawat untuk memastikan diagnosis.
“Sering kali laporan awal menyebut DBD, padahal diagnosanya belum positif. Jadi kami pastikan dulu kebenarannya sebelum dilakukan fogging,” tutur dia.
Dwi menjelaskan bahwa pembagian wilayah fogging juga telah diatur. Jika kasus berada di BTN, fogging menjadi tanggung jawab Rumah Sakit PKT. Di luar BTN, proses tersebut menjadi tugas Puskesmas Bontang Barat. Ia menyebut bahwa sistem tersebut bertujuan mempercepat respons di masing-masing wilayah.
Untuk bulan ini, ia menegaskan bahwa kasus terbanyak masih ditemukan di Perum BTN, terutama RT 31. “Saat kasus di RT 31 meningkat, kami jadikan wilayah itu sebagai lokus kerja bakti pada hari Jumat, dua pekan lalu,” ungkapnya.
Ia menyebut bahwa langkah itu menjadi bagian dari upaya cepat memutus rantai perkembangbiakan nyamuk. Meski begitu, ia menekankan bahwa fogging bukan solusi utama.
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Yang jauh lebih berbahaya adalah jentik dan telur-telurnya. Itu yang harus dibasmi melalui kebersihan lingkungan,” sebutnya.
Dwi juga menegaskan kerja bakti tingkat RT masih berjalan aktif. Setiap RT minimal melaksanakan kerja bakti satu hingga dua kali dalam sebulan pada akhir pekan. Sementara kelurahan sendiri menggelar kerja bakti rutin setiap hari Jumat.
Harapannya masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Ia menegaskan bahwa pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan petugas kesehatan atau fogging. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) terdapat delapan kasus DBD di wilayah Belimbing terhitung mulai awal November.
“Kuncinya tetap di warga. Kalau lingkungannya bersih, nyamuk tidak punya tempat untuk berkembang,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo