Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Agustus Jadi Puncak Kemarau di Kaltim, GAPKI Ingatkan Antisipasi Karhutla

Dina Angelina • Jumat, 4 Juli 2025 | 16:56 WIB

KONSOLIDASI: GAPKI gelar konsolidasi kesiapsiagaan personil dan peralatan pengendalian kebakaran lahan di Kaltim, Jumat (4/7).
KONSOLIDASI: GAPKI gelar konsolidasi kesiapsiagaan personil dan peralatan pengendalian kebakaran lahan di Kaltim, Jumat (4/7).
 

BALIKPAPAN - Kaltim bersiap masuk musim kemarau pada Juli dan Agustus. Ini menjadi perhatian khusus pengusaha kelapa sawit di Bumi Etam. Mengingat sawit sebagian besar tumbuh di lahan gambut. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) menggelar konsolidasi kesiapsiagaan personil dan peralatan pengendalian kebakaran lahan di Kaltim. Berlokasi di Hotel Novotel Balikpapan, Jumat (4/7).

Berdasarkan prediksi BMKG, Kaltim akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2025. Sedangkan untuk Kaltara, puncak musim kemarau terjadi Juli sampai Agustus 2025.

Ketua Bidang Sustainability GAPKI Bambang Dwi Laksono mengatakan, pihaknya melihat data BMKG dalam kurun waktu 2021-2024. Ada pun curah hujan terendah di Kaltim selama empat tahun terakhir berada di Agustus, rata-rata 142 mm per bulan.

Sementara curah hujan terendah di Kaltara terjadi pada Februari rata-rata 195 mm per bulan. Namun pada Agustus nanti, posisi kedua provinsi rata-rata 215 mm per bulan. “Kami secara real time melihat Kalimantan Timur potensi terjadi kebakaran lahan perkebunan akibat akumulasi bahan bakar,” ungkapnya.

Sedangkan dari historical hotspot, Kutai Timur menduduki posisi paling atas dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Kaltim.

Pihaknya mengimbau perusahaan menyiapkan sarana prasarana untuk antisipasi kebakaran lahan perkebunan. Terlebih menteri lingkungan hidup juga telah meminta data terkait kesiapsiagaan pengendalian kebakaran lahan perkebunan.

Dia menjelaskan, terkait dengan pengendalian kebakaran lahan perkebunan mengacu tiga hal. Di antaranya organisasi, sumber daya manusia, dan operasional pengendalian. “Operasional pengendalian ini mulai dari peringatan dini, deteksi dini, pemadaman, pasca kebakaran dan sebagainya,” ujarnya. Itu sudah menjadi pedoman internal dari GAPKI kepada anggotanya.

Termasuk terus melakukan sosialisasi kepada anggota secara offline dan online. Sebagai informasi, kegiatan konsolidasi ini juga turut diikuti oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.

Dia menyebutkan, persiapan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan sangat serius. Khusus titik api di Kalimantan Timur sebanyak 15 titik. Jauh turun dari tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya ini faktor dari iklim yang mendukung. Serta upaya dari pejabat pemerintah daerah serta seluruh stakeholder bersama-sama mengurangi bencana karhutla. “Secara teknis kita sudah arahkan kepada semua pengusaha untuk menyiapkan sarana-prasarana, pendanaan organisasi dan skema kerja,” bebernya.

Serta pelibatan masyarakatnya melalui kelompok tani peduli api. Dia meminta seluruh gubernur di Indonesia yang memiliki perkebunan kelapa sawit melakukan kontrol sesuai waktu dan tata laksana. “Mudah-mudahan mengurangi open burning atau karhutla yang menjadi bencana tahunan,” sebutnya. Terutama ancaman karhutla yang masif saat kemarau panjang.

Editor : Muhammad Ridhuan
#Gapki Kaltim #puncak kemarau #Hanif Faisol Nurofiq #menteri lingkungan hidup #kaltim #karhutla