KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Daya beli masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren meningkat. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 mencatat rata-rata pengeluaran per kapita per bulan mencapai Rp 2.117.353. Angkanya naik 3,65 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Mas’ud Rifai menegaskan bahwa data tersebut menjadi gambaran penting kondisi kesejahteraan masyarakat. “Melalui Susenas, dapat diperoleh potret kemajuan pembangunan masyarakat bidang sosial dan ekonomi,” ujarnya merujuk data publikasi Maret 2026.
Menurut dia, data yang dikumpulkan berasal dari wawancara langsung dengan responden, sehingga mencerminkan kondisi riil di lapangan. Informasi konsumsi, baik makanan maupun nonmakanan, kemudian diolah menjadi indikator kesejahteraan yang digunakan pemerintah dalam menyusun dan mengevaluasi kebijakan.
Peningkatan pengeluaran tersebut tidak terlepas dari perubahan kebutuhan masyarakat. Konsumsi tidak hanya berkutat pada kebutuhan dasar, tetapi juga merambah ke sektor lain seiring meningkatnya pendapatan. Hal ini sejalan dengan teori ekonomi yang menyebutkan bahwa saat pendapatan naik, porsi belanja untuk kebutuhan nonpokok akan ikut meningkat.
Namun, kondisi antarwilayah masih bervariasi. Dari seluruh kabupaten/kota di Kaltim, hanya empat daerah yang memiliki rata-rata pengeluaran di atas angka provinsi. Bontang menjadi wilayah dengan pengeluaran tertinggi, yakni Rp 2.659.692 per kapita per bulan. Sementara itu, Paser berada di posisi terendah dengan Rp 1.708.583.
Mas’ud menjelaskan, indikator pengeluaran dipilih karena lebih mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat dibandingkan pendapatan. “Untuk mendapatkan indikator kesejahteraan masyarakat, informasi mengenai pengeluaran untuk konsumsi penduduk lebih sering digunakan dibandingkan informasi tentang pendapatan karena informasi pendapatan penduduk cenderung underestimate,” jelasnya.
Data tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan nasional, tetapi juga menjadi bagian dari pemantauan target pembangunan global. Indikator kesejahteraan seperti konsumsi dan pengeluaran turut digunakan untuk melihat capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan dasar. (*)
Editor : Sukri Sikki