KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Di tengah dinamika harga dan biaya produksi, daya beli petani Kalimantan Timur justru menunjukkan penguatan signifikan sepanjang 2025. Indikator utamanya, Nilai Tukar Petani (NTP), tercatat berada pada level 146,48.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, capaian tersebut menunjukkan posisi petani yang relatif lebih diuntungkan dalam transaksi ekonomi. “Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib),” jelasnya, Rabu (29/4).
Angka tersebut juga menunjukkan peningkatan 6,19 persen dibandingkan pada 2024 yang berada di level 137,94. Dengan kata lain, harga yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.
Secara konsep, NTP menjadi indikator utama kesejahteraan petani. Ketika nilainya berada di atas 100, kondisi tersebut mengindikasikan adanya surplus atau keuntungan relatif dalam aktivitas usaha tani.
“Secara umum ada tiga macam pengertian NTP, yaitu NTP>100, berarti petani mengalami kenaikan dalam daya tukar perdagangan,” beber Mas’ud.
Baca Juga: BKPSDM Kutim Usulkan 251 Formasi ASN, Antisipasi Gelombang Pensiun
Dalam konteks 2025, posisi NTP yang jauh di atas 100 menandakan bahwa sektor pertanian di Kaltim masih mampu memberikan margin ekonomi yang positif bagi pelaku utamanya.
Peningkatan juga tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam tren beberapa tahun terakhir, NTP Kaltim terus mengalami kenaikan. Pada 2023 tercatat 129,04, lalu naik menjadi 137,94 di 2024, dan kembali melonjak di 2025.
Menandakan adanya perbaikan pada sisi harga komoditas pertanian, yang menjadi sumber utama pendapatan petani. Di sisi lain, kenaikan biaya produksi dan konsumsi masih relatif terkendali.
Baca Juga: Akhiri Keluhan Kendaraan Rusak, Warga dan Sopir Kompak Dukung Pembetonan Jalur Jengan Danum
Namun demikian, peningkatan NTP tidak serta-merta berarti seluruh subsektor mengalami kondisi yang sama. Perbedaan antar subsektor tetap menjadi catatan penting dalam membaca kesejahteraan petani secara lebih detail.
Meski begitu, secara agregat, capaian NTP 2025 menjadi sinyal kuat bahwa sektor pertanian di Kaltim masih memiliki daya tahan di tengah tekanan ekonomi, sekaligus membuka ruang optimisme bagi keberlanjutan usaha tani ke depan. (*)
Editor : Sukri Sikki