KALTIMPOST.ID, Insomnia atau gangguan sulit tidur sering dianggap hal biasa. Banyak orang memilih mengabaikannya dengan alasan sibuk kerja, belajar, atau sekadar terbiasa tidur larut.
Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa insomnia tidak hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga bisa mempercepat proses penuaan otak.
Apa Hubungan Insomnia dan Otak?
Tidur merupakan proses penting untuk memulihkan tubuh dan otak. Saat tidur nyenyak, otak melakukan “pembersihan” racun metabolik, memperkuat memori, dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Jika tidur terganggu, fungsi ini tidak berjalan optimal.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience (2018), orang dengan insomnia kronis menunjukkan perubahan pada struktur otak, terutama di bagian korteks prefrontal yang berperan dalam konsentrasi dan pengambilan keputusan. Perubahan ini mirip dengan yang terjadi pada otak orang yang menua lebih cepat.
Otak Menua Lebih Cepat
Penelitian oleh Dr. E. Jansen dari University of Oxford menemukan bahwa insomnia berkaitan dengan berkurangnya volume materi abu-abu di otak.
Materi abu-abu inilah yang mengatur fungsi kognitif seperti daya ingat, emosi, hingga kemampuan berpikir kritis.
Hasilnya, penderita insomnia berisiko mengalami gangguan kognitif lebih cepat dibanding orang dengan pola tidur sehat.
Hal serupa juga disampaikan oleh Dr. Matthew Walker, pakar tidur dari University of California, Berkeley.
Dalam penelitiannya, kurang tidur berkepanjangan mempercepat proses neurodegeneratif yang biasanya baru terjadi di usia lanjut. “Kurang tidur kronis dapat membuat otak menua lebih cepat hingga beberapa tahun,” ujarnya.
Dampak Lain dari Insomnia
Selain mempercepat penuaan otak, insomnia juga memicu berbagai masalah kesehatan lain, seperti:
- Penurunan daya ingat jangka pendek.
- Gangguan konsentrasi dan mudah lupa.
- Meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
- Memicu gangguan emosi, termasuk mudah cemas dan depresi.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Baca Juga: 5 Makanan Ekstrem dari Berbagai Negara: Dari Balut Filipina hingga Surströmming Swedia
Kabar baiknya, efek insomnia bisa dicegah jika ditangani sejak dini. Beberapa langkah sederhana yang disarankan oleh ahli tidur, antara lain:
- Jaga konsistensi tidur – usahakan tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.
- Hindari gadget sebelum tidur – cahaya biru dari layar menghambat produksi melatonin, hormon tidur.
- Kurangi kafein dan nikotin – terutama di sore dan malam hari.
- Ciptakan suasana tidur nyaman – kamar gelap, sejuk, dan tenang membantu tidur lebih nyenyak.
- Terapi kognitif perilaku (CBT-I) – direkomendasikan oleh American Academy of Sleep Medicine sebagai terapi efektif untuk insomnia kronis.
Insomnia bukan sekadar gangguan tidur, tetapi juga masalah serius yang berdampak langsung pada kesehatan otak.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mengalami insomnia berisiko mengalami penuaan otak lebih cepat, bahkan rentan terhadap penyakit neurodegeneratif.
Karena itu, menjaga kualitas tidur sama pentingnya dengan menjaga pola makan atau olahraga. (*)
Editor : Almasrifah