Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Rahasia Manisnya Beham, Denting Alu dan Nyala Api Leluhur yang Menolak Padam di Kedang Ipil

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Jumat, 24 April 2026 | 12:29 WIB
PERLU DUKUNGAN: Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat ikut menyangrai padi sebelum ditutuk dalam acara Tutuk Beham. Simbol keberpihakan pemerintah terhadap pelestarian tradisi di tengah kepungan zaman.
PERLU DUKUNGAN: Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat ikut menyangrai padi sebelum ditutuk dalam acara Tutuk Beham. Simbol keberpihakan pemerintah terhadap pelestarian tradisi di tengah kepungan zaman.

KALTIMPOST.ID, TENGGARONG - Asap beraroma kayu bakar dan ketan sangrai memecah malam di pedalaman Kutai Kartanegara. Di depan perapian yang menyala 24 jam penuh, warga itu tak kenal lelah.

Brak! Brak! Brak! Hentakan alu dari kayu ulin yang beradu dengan lesung kayu nangka menciptakan orkestra alam yang ritmis, memecah pekatnya malam Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kutai Kartanegara.

Di balai adat desa, hawa panas langsung menyergap wajah siapa saja yang melangkah mendekat. Asap tipis beraroma kayu bakar dan harumnya padi ketan yang disangrai menguar di udara. 

Di bawah pendar cahaya jingga lidah api, tangan-tangan warga silih berganti mengayunkan sudip kayu panjang di atas wajan besi raksasa. Keringat membasahi dahi, namun tak ada raut lelah. Hanya ada tawa kecil dan obrolan renyah yang bersahutan dengan gemeretak kayu bakar. Api ini pantang padam. Dua puluh empat jam penuh, tanpa jeda.

Baca Juga: Polres Paser Ringkus Dua Terduga Pengedar Obat Keras di Tanah Grogot

Pemandangan magis pada akhir April 2026 ini adalah fase Mahantuyi—jantung dari ritual sakral Nutuk Beham. Di tengah deru mesin modernisasi Kalimantan Timur dan pusaran megaproyek yang mengepung, ratusan pasang tangan di Kedang Ipil membuktikan satu hal: ada warisan leluhur yang keras kepala menolak tergerus zaman.

Bukan Sekadar Urusan Perut

Bagi masyarakat Kutai Adat Lawas di Kedang Ipil, Nutuk Beham lebih dari sekadar mengolah hasil ladang. Ini adalah wujud syukur paripurna atas limpahan panen padi muda. 

Kepala Adat Kedang Ipil, Murad, dengan tatapan yang menyiratkan kebijaksanaan masa lalu, menegaskan bahwa ritual ini memiliki dimensi spiritual yang pekat. “Adat ini merupakan wujud rasa syukur kepada leluhur dan juga kepada ‘roh padi’ yang kami yakini ada,” ungkapnya.

Baca Juga: Kejar Target Penyangga IKN, Pemkot Balikpapan Usulkan Jargas 100 Persen ke Kementerian ESDM

Begitu sakralnya ikatan ini, hingga ada pantangan tegas bagi warga: dilarang keras mengonsumsi beras hasil panen baru sebelum ritual Nutuk Beham ditunaikan.

Persiapannya pun tak main-main, memakan waktu hingga satu minggu. Padi dikumpulkan secara sukarela oleh warga. Wakil Kepala Adat, Sartin, menjelaskan bahwa tak ada paksaan dalam tradisi ini; takarannya bukan per kilo, melainkan keikhlasan per kaleng. 

"Padi direndam minimal satu malam hingga maksimal empat malam untuk melembutkan tekstur berasnya nanti," jelas Sartin. Begitu ditiriskan, padi tersebut masuk ke proses Mahantuyi (sangrai).

Mengendalikan perapian raksasa adalah ujian ketahanan. Terlalu besar, ketan hangus. Terlalu kecil, kematangannya tak sempurna. 

Karena volumenya yang masif, penjagaan api dan proses menumbuk di lesung dilakukan secara estafet lintas generasi. Rasa lelah di otot menguap begitu saja, dilebur oleh semangat gotong royong yang telah mendarah daging.

Melawan Lupa di Tengah Perubahan Zaman

Namun, di balik riuhnya denting alu, tersimpan sebersit kekhawatiran di benak para tetua. Minat generasi muda yang kian terkikis oleh gempuran teknologi menjadi tantangan terberat.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan Pemimpin Iran: Mojtaba Khamenei Dikabarkan Kehilangan Kaki dan Masih Dirawat Intensif

"Anak-anak kurang tertarik mempelajari dan melestarikan tradisi ini. Kami butuh dukungan agar anak-anak ke depan lebih semangat meneruskan warisan leluhur," harap Murad dengan nada getir.

Kekhawatiran itu tak dibiarkan menggantung. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara hadir membawa jaminan. Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, yang turut hadir dalam perayaan tersebut, menjanjikan langkah konkret untuk memastikan Nutuk Beham tak hanya menjadi cerita pengantar tidur.

“Tahun depan, saya menginstruksikan agar ada mobilisasi anak-anak sekolah tingkat SD dan SMP untuk datang ke sini. Biarkan anak-anak kita melihat langsung bagaimana orang menyangrai dan menumbuk beham, agar mereka mengenal akar budayanya,” tegas Bupati Aulia.

Baca Juga: Dari Direktur Keuangan Bank DKI ke Dirut Bankaltimtara, Ini Perjalanan Karier Romy Wijayanto

Ia bahkan menetapkan syarat wajib bagi setiap perhelatan konser besar di wilayahnya untuk berkolaborasi dengan kegiatan budaya lokal.

Lebih jauh, pelestarian budaya ini bertaut erat dengan pelestarian alam. Tradisi Nutuk Beham sangat bergantung pada kelestarian hutan sebagai sumber kayu bakar dan lahan bertani.

Menjawab hal ini, Pemkab Kukar tengah mendorong regulasi Carbon Trading yang melindungi 65.000 hektare hutan gambut dan hutan desa, sekaligus mencari celah hukum untuk menetapkan kawasan Kedang Ipil sebagai Hutan Adat.

"Jangan pernah berkompromi dengan pihak swasta mana pun untuk memusnahkan hutan kita," pesan Bupati kepada warga.

Kecapan Manis Sebuah Perlawanan

Setelah melewati proses "berdarah-darah" menaklukkan perapian dan lesung kayu, bulir-bulir padi itu akhirnya menjelma menjadi Beham—beras ketan muda pipih yang wangi. Usai didoakan dalam ritus spiritual, Beham dibagikan kepada seluruh warga. 

Baca Juga: Ranking Terbaru Kampus Asia 2026: 10 Universitas Indonesia Ini Masuk Daftar Terbaik, Kampusmu?

Manisnya langsung tercecap sejak gigitan pertama. Teksturnya legit, berpadu dengan aroma khas asap pembakaran, meski tanpa tambahan gula sebutir pun. Keautentikan rasa ini diakui langsung oleh Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Ahmad Yani, yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya. 

"Kalau kita bicara beras dari pabrik yang diproses dengan mesin, itu sudah biasa. Tetapi hasil tumbukan manual seperti ini, rasanya pasti lebih enak. Serat-serat pemisah antara kulit dan berasnya masih sangat terasa," puji Ahmad Yani, yang bahkan menyarankan agar produk berbalut kearifan lokal ini mulai diperdagangkan untuk mendongkrak ekonomi warga.

Pada akhirnya, rahasia di balik manisnya Beham di Kedang Ipil bukanlah semata-mata terletak pada kualitas padi muda atau jenis kayu bakar. Manis yang sesungguhnya lahir dari peluh gotong royong, kerekatan persaudaraan, dan komitmen teguh untuk menjaga harmoni alam. 

Baca Juga: Prodi S-1 Informatika dan Prodi S-1 Ilmu Lingkungan Resmi Dibuka, UINSI Bakal Punya Fakultas Saintek

Selama alu ulin masih beradu dengan lesung kayu di balai adat, dan selama asap perapian masih membubung di sela-sela rimbunnya hutan Kedang Ipil, identitas budaya itu akan terus hidup. Menolak padam. Menolak punah. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Nutuk Beham Kedang Ipil #Tradisi Kutai Kartanegara #Wisata Budaya Kukar #Ritual Adat Lawas Kutai #Bupati Kukar Aulia Rahman Basri